BIOTEKNOLOGI

Loading...
            Bioteknologi adalah ilmu terapan biologi yang melibatkan disiplin ilmu mikrobiologi, biokimia, biologi molekuler dan rekayasa genetika secara terpadu, untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia. Definisi bioteknologi secara klasik atau konfensional adalah tenologi yang memanfaatkan agen hayati atau bagian-bagiannya untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala industri untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan jika di tinjau secara modern, bioteknologi adalah pemanfatan agen hayati atau bagian-bagain yang telah di rekayasa secara in vitro untuk menghasilkan barang dan jasa pada skala industri.
Bioteknologi di kembangkan untuk meningkatkan nilai bahan mentah dengan memanfaatkan kemampuan mikroorganisme atau bagian-bagianya, misalnya bakteri dan kapang. Selain itu, bioteknologi juga memanfaatkan sel tumbuhan atau sel hewan yang di biakkan sebagai bahan dasar berbagai proses industri.
Penerapan bioteknologi pada umumnya mencakup produksi sel atau biomassa dan perubahan atau transformasi kimia yang diinginkan. Transformasi kimia itu lebih lanjut dapat di bagi menjadi dua sub bagian :
1. Pembentukan suatu produk akhir yang diinginkan, contohnya enzim,antibiotik, asam organik, dan steroid.
2. penguraian sisa bahan produksi, contohnya buangan air limbah, destruksi buangan industri, atau tumpahan minyak.



Dewasa ini, penerapan bioteknologi sangat penting di berbagai bidang, misalnya dibidang pengolahan bahan pangan, farmasi, kedokteran, pertanian, pengolahan limbah, dan pertambangan.
Biokimia mempelajari struktur kimiawi organisme. Rekayasa genetika adalah aplikasi genetik dengan mentransplantasi gen dari satu organisme ke organisme lain.

Ciri utama bioteknologi:
1. Adanya agen biologi berupa mikroorganisme, tumbuhan atau hewan
2. Adanya pendayagunsan secara teknologi dan industri
3. Produk yang dihasilkan adalah hasil ekstraksi dan pemurnian

Gbr. Kegunaan Bioteknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia
Perkembangan bioteknologi :
1. Era bioteknologi generasi pertama ; bioteknologi sederhana.
Penggunaan mikroba masih secara tradisional, dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan. Contoh: pembuatan tempe, tape, cuka, dan lain-lain.
2. Era bioteknologi generasi kedua.
Proses berlangsung dalam keadaan tidak steril.
Contoh:
a. produksi bahan kimia: aseton, asam sitrat
b. pengolahan air limbah
c. pembuatan kompos
3. Era bioteknologi generasi ketiga.
Proses dalam kondisi steril. Contoh: produksi antibiotik dan hormone
4. Era bioteknologi generasi baru ; bioteknologi baru.
Contoh: produksi insulin, interferon, antibodi monoclonal


A. Mikroroganisme Dalam Bioteknologi

Bioteknologi tidak terlepas dari mikroorganisem sebagai subjek (pelaku). Mikroorganisme yangdimaksud adalah virus, bakteri, jamur, alga, dan protoza. Mikroorganisme menjadi subjek pada berbagai proses biotkenologi karena beberaa alas an sebagai berikut :
1. Reproduksinya sangat cepat; dalam hitungan menit dapat berkembang biak sehingga menjadi sumber daya hayati yang sangat potensial.
2. Mudah di peroleh dari ingkungan kita
3. Memiliki sifat tetap, tidak berubah-ubah
4. melalui teknik rekayasa genetika, para ahli dapat memodifikasi atau mengubah dengan cepat sfat mikroorganisme sehingga dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan yang kita inginkan.
5. dapat menghasilkan berbgai produk yang di butuhkan oleh manusia dan tergantung musim atau iklim.

Pemanfaatn mikrorgaisme untuk bioteknologi sangat membantu manusia untuk mengatasi berbagai masalah, misalnya di bidanga makanan, pertanian, pengobatan, pengolahan limbah, industri dan lainnya.
Sejak tahun 6000 SM, orang telah mengenal proses fermentasi pada bahan makanan, misalnya untuk membuat bir. Namun, bukti bahw fermentasi di lakukan oleh mikroorganisme baru di ketahui setelahdi lakukan penelitian oleh Louis Pasteur (1857-1876). Saat ini, teknologi produksi bahan makanan melalui fermentasi di kateogrikan dalam bioteknolgi konfensional.
Teknologi yang di terapkan untuk menghasilkan produk dalam skala industri dengan menggunakan organisme, sistem, atau proses bioteknologi, di kategorikan sebagai bioteknologi modern/ bioteknologi modern ini sangat bergantung pada mikrobiologi, biokimia, dan rekayasa genetika.
Bioteknologi modern memanfaatkan organisme dalam tingkat seluler atau molekuler, antara lain kultur jaringan, rekayasa genetika, dan kloning.

B. Kultur Jaringan

Kultur Jaringan tumbuhan merupakan teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan yang di dasarkan pada sifat totipotensi tumbuhan. Totipotensi adalah kemampuan sel atau jaringan organisme untuk tumbuh menjadi individu baru. Totipotesi tumbuhan membuat sel tumbuhan dalam proses kultur jaringan dapat berkembang menjadi tumbuhan lengkap jika di tumbuhkan pada kondisi yang memungkinkan. Dengan kultur jaringan, dalam waktu yang bersamaan dapat di peroleh bibit tanaman dalam jumlah yang banyak. Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman, dapat diterapkan untuk kultur jaringan. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru.
Penemu F.C. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel.

Gambar 1 Skema teknik kultur jaringan sederhana yang dilakukan


Skema teknik kultur jaringan sederhana yang dilakukan oleh Steward terhadap tanaman wortel (Daucus carota)


1. Prinsip Dalam Teknik Kultur Jaringan

Kultur jaringan harus di lakukan di tempat yang steril, misalnya laboratorium khusus kultur jaringan. Selain tempat, alat, dan bahan pelaku kultur jaringanpun harus dalam keadaan steril. Artinya, alat dan bahan harus di sterilkan sebelum di pakai. Alat dan bahan di sterilkan dengan cara mengautoklafnya selama 15 menit pada suhu 115’C. kemudian, tangan pelaku harus di cuci besih dan di semprot denan alkohol sebelum bekerja.
Untuk memperbesar kultur jaringan, tanaman yang akan di kulturkan sebaiknya berupa jaringan muda yang sedang tumbuh, misalnya ujung akar, tunas, dan daun muda. Jaringan yang di ambil dan di tumbuhkan melalui kultur jaringan di sebut Eksplan. Sejak di ambil dari tumbuhan induk sampai dengan di kuturkan, eksplan harus dalam keadaan steril. Persiapan eksplan samapai penanaman dalam medium buatan harus di lakukan dalam entks atau lainar air flow.

Eksplan yang steril dikultur dalam botol yang berisi medium cair. Medium cari terdiri dari zat nutrisi dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Supaya nutrisi dapat meresap ke dalam eksplan, media kultur harus di simpan di atas pengocok atau shaker. Dari eksplan akan tumbuh jeringan seperti kalus berwarna putih yang di sebut Protocorm like body (PLB). PLB dapat dipecah-pecah dan di tumbuhkan lagi menjadi banyak PLB. PLB kemudian di subkultur dalam media padat yang terdiri dari larutan nutrisi ,zat nutrisi dan zat pengatur tumbuh, dan agar. Factor-faktor lingkungan di luar nutrisi, seperti cahaya, temperatur, kelembapan dan pH, juga harus di kondisikan agar sesuai untuk kelangsungan hidup PLB tersebut.
PLB akan berkembang menjadi tanaman kecil yang di sebut plantlet. Plantlet di pisah-pisahkan dan dikultur lagi dalam media padat sampai cukup besar dan siap di pindahkan ked ala pot elompok. Satu pot berisi banyak plantlet. Setelah plantlet membentu tanaman yang sempurna, populasi dalam pot kelompok dapat di kurangi. Akhirnya, satu tanaman di pindahkan ked lam satu palstik hitam (Polybag) dan dipelihara sampai tanaman siap di tanam di lahan. Perwatan plantlet dalam pot kelompok atau pot individu di lakukan di rumah kaca.
Kultur jaringan memiliki manfaat sebagai berikut :
a. melestarikan sifat tanaman induk (Sifat identik dengan induk)
b. Bibit (hasil) yang didapat berjumlah banyak dan dalam waktu yang singkat
c. menghasilkan tanaman yang memiliki sifat seragam
d. mengahsilkan tanaman baru dalam jumlah besar
e. dapat menghasilkan tanaman yang bebas virus
f. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
g. dapat di jadikan saran untuk melestarikan plasma nutfah
h. untuk menciptakan varietas baru melalui rekayasa genetika. Sel yang telah di rekayasa dikembangkan melalui kultur sel sehingga menjadi tanaman baru secara lengkap
i. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa

2. Macam-macam Kultur Jaringan

Berbagai macam tanaman dapat di gunakan sebagai eksplan dalamk kultur jaringan.
a. Kultur meristem, menggunakan jaringan (akar, batang, daun) yag muda/meristematik
b. Kultur anter, menggunakan kepala sari sebagai eksplan
c. Kultur embrio, menggunan embrio. Misalnya pada emrio kelapa kopyor yang sulit di kembangkan secara alamiah
d. Kultur protoplas, menggunakan sel jaringan hidp sebagai eksplan tanpa dinding
e. Kultur kloroplas, menggunakan kloropla. Kultur ini bisanya untuk memperbeaiki atau membuat varietas baru.
f. Kultur pollen, menggunakan seruk sari sebagai esplannya

3. Prosedur Kultur Jaringan

Ada empat hal yang harus di perhatikan dalam prosedur kultur jaringan, yaitu persiapan, penambilan danperawatan eksplan, pengocokan, dan media.

a. Persiapan
Media yang di gunakan berupa media cairdan padat. Kedua media ini disiapkan dalam botol Erlenmeyer yang ditutup dengan kain kasa steril dan alumunium foil. Botol yang berisi mediadi sterilkan dengan memanaskannya dalam autoklaf yang bersuhu 120’C dan tekanan 1,5 kg/m2 selama 20 menit. Setelah di sterilkan, media kultru di simpan dalam tempat yang steril aau kulkas. Ruangan dan peralatan harus di sterilkan dengan larutan antiseptik (alcohol atau sodium hipoklorit). Lampu UV dalam ruangan entkas atau laminar air flow dinyalakan satu jam sebelum di gunakan. Tujuannya adalah untuk mensterilan ruangan tersebut.

b. Pengambilan dan Perawatan eskplan
Eksplan dapat diambil dari tunas pucuk, ketiak daun, ujung akar, atau daun muda. Bahan esplan di sterilkan dengan caramerendamnya dalam larutan kalsium hipoklorit 5% selama 5 menit. Setelah itu, eksplan dbilas beberapa kali menggunakan aquades steril. Bahan eksplan yang sudah steril dan botl Erlenmeyer beirsi media cari di masukkan ke dalam entkas. Bagian luar entkas di kupas menggunakaan pisau tajam yang steril sampi eksplan berukuran 1-1,5 mm. setelah eksplan siap tanam, tutup botol Erlenmeyer berisi media cari dimasukkan ke dalama media cir. Botol yang sudah di tanami eksplan di tutup degan kain steril dan alumunium foil.

c. Pengocokan
Botol yang sudah di tanami eksplan di letakkan di atas meja pengocok (shaker) yang sudah di nyalakan dengan frekuansi pengocokan sekitar 60-70 kali pertemnit. Pengocokan di lakukan salaam 6 jam sehari selama 1,5-2 bulan. Tujuan pengocokan adalah :
1) Menggiatkan kontak antara permukaan eksplan dengan larutanmedia
2) Memudahkan peresapan larutan nutrisi ke dalam jaringan ekspan
3) Melancarkan sirkulasi udara, sehingga udara dapat masuk ke dalam media
4) Menjaga homogenitas atau keseragaman larutan nutrisi dalam media
5) Merangsang terpiashnya PLB yang terbentuk
Dala media cair, dari eksplan akan tumbuh PLB dan lama-kelamaan PLB akan lepas dari eksplan. PLB yang terbentuk dapat dipisah-pisahkan dan dapat dipindah-pindahkan dalam botolo lain sehingga di hasilkan banyak PLB. PLB yang terbentuk dapat dipindahkan ke dalam media padat dan dikulturkan dalam ruangan yang steril. Suhu, kelembapan, dan itensitas cahaya ruangan harus diatur. Dalam media, PLB akan tumbuh menjadi plantlet. Setelah menghasilkan daun atau membentuk tanaman sempurna , plantlet harus di pindahkan ke dalam botol lain yang berisi media padat. Populasi plantlet di kurangani sesuai dengan tingkat pertumbuhannya. Akhirnya, plantlet di pindahkan ke dalam pot kelompok yang terdiri dari campuran tanah dan kompos atau pupuk kandang, dan di letakkan dalam rumah kaca. Setelah pertumbuhannya sempurna, plantlet di pindahkan ke dalam pot. Satu pot berisi satu tanama baru.

d. Media
Media tanaman terdiri dari 2 jenis, yaitu media cair dan media padat. Media cair di gunakan untuk menumbuhkan eksplan sampai terbentuk PLB. Media padat digunakan untuk menumbuhkan PLB sampai terbentuk planlet.
Media padat dibuat dengan melarutkan nutrisi dan agar ke dalam aquades yang di sterilkan. Media kultur harus dari unsur makro, unsure mikro, vitamin, gula, dan zat ZPT (zat pengatur tumbuh tanaman seperti auksin, sitokinin, giberelin).
Zat pengatur tumbuh yang akan di gunakan dapat dipilih dari bahan-bahan di bawah ini :
1) IAA (indoleasetic acid/asam indolasetat)
2) IAAid (indoleacetaldehyde/indol asetaldehida)
3) Ian (indoleacetonitrile/ indol asetonitril)
4) IAet (ethylendoleacetate/etilendol asetat)
5) Ipy A (indolepyruvic acid/asam indolpiruvat)
Ada banyak media kultru jaringan yang penamaannya di ambil dari nama penemunya, antara lain :
1) Murashige and Skoog, dapat di gunakan hamper untuk semua jenis kultur, terutama untuk tanaman herba
2) White(9134), sangat cocok untuk kultur tanaman tomat
3) Vacin and Went, dapat di gunakan untuk kultur jaringan angrek
4) Nitsch and Nitsch , biasanya digunak ndalam kultru serbuk sari dan kultur sel.


C. Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika dapat diartikan sebagai kegiatan manipulasi gen untuk mendapatkan produk baru dengan cara membuat DNA rekombian melalui penyisipan gen. DNA rekombinian adalah DNA yang urutannya telah di rekombinasikan agar memiliki sifat-sifat atau fungsi yang kita inginkan sehingga organisme penerimanya mengekspresikan sifat atau melakukan fungsi yang kita inginkan. Misalnya, kitam membuat DNA rekombinian yang memiliki fungsi membuat isulin. DNA ini kemudian kita masukkan ke dlaam bakteri dengan harapan bakteri tersebut menghasilkan insulin.
Sejarah rekayasa genetika di mulai dimulai sejak Mendel menemukan faktor yang di turunkan. Ketika Oswald Avery (1944) menemukan fakta bahwa DNA membawa materi genetik, makin banyak penelitian yang di lakukan terhadap DNA. Salah satu penelitian yang memberikan kontribusi terbesar bagi rekayasa genetika adalah penelitian terhadap transfer (pemindahan) DNA bakteri dari satu sel ke sel yang lain melalui lingkaran DNA kecil yang di sebut plasmid. Bakteri eukariota uniseluler ternyata sering melakukan pertukaran materi genetic ini untuk memelihara ciri-cirinya. Dalam rekayasa genetika inilah , plasmid berfungsi sebagai kendaraan pemindah atau vector.
Agar materi genetik yang dipindahkan sesuai dengan keinginan kita, maka kita harus memotong materi genetic tersebut. Secara alami, sel memiliki enzim-enzim pemotong yang sering di sebut dengan enzim restriksi. Enzim ini dapat mengenali dan memotong temapt-tempat tertentu di sepanjang molekul DNA untuk menyambung kembali potongan-potongan DNA ini digunakan enzim ligase. Sampai sekarang ini telah di temukan lebih dari 200 enzim retriksi. Hal itu tentu saja mempermudah pekerjaan para ahli rekayasa genetika untuk memotog dan menyambung kembali DNA.
2. Bakteri, berperan dalam perbanyakan plasmid melalui perbanyakan bakteri.


Gbr. Pemisahan DNA oleh enzim restriksi

Genetika pada saat ini telah berkembang pesat. Sejak struktur DNA dan kode genetika di pecahkan, serta proses transkripsi dan translasi dapat di jabarkan dalam kurun waktu antara tahun 1952 sampai tahun 1953, telah terbuka pintu untuk perkebangan penting di bidang genetika. Penemuan di atas diikuti periode antiklimaks ketika beberapa ahli biologi molekuler anatar tahun 1971-1973 berhasil melakukan rekayasa genetika, seperti pemotongan gen (DNA) yang terkontrol dan rekombinasi DNA yang inti prosesnya adalah cloning atau pengklonaan DNA (Kloning gen). dengan rekayasa genetika dapat di satukan bahan genetik dari satu organisme dengan organisme lain dan dapat di hasilkan mahluk hidup baru.
Rekayasa genetika melalui DNA rekombinian atau kloning gen secara in vitro dapat menciptakan rekombinasi genetik yang tidak terbatas, sama seperti jika terjadi secara alamiah melalui reproduksi seksual. Dengan menggunakan teknik DNA rekombinian, saat ini saat ini telah dapat di hasilkan berbagai zat. Misalnya insulin manusia, hormone pertumbuhan manusia, interferon alfa, dan vaksin hepatitis B. di Amerika serikat dan Ingrris, zat-zat tersebut sudah di pasarkan sejak bulan September 1982. sedangkan sejak bulan November 1987 telah di pasarkan tPA (tissue Plasminogen Activator), suatu zat yang dapat mencegah pembekuan darah dan serangan jantung.
Enzim, terdiri dari enzim RESTRIKSI (pemotong plasmid/ADN) dan enzim LIGASE (penyambung ptongan-potongan ADN)

Gbr. Proses produksi insulin manusia dengan rekayasa genetika

1. Teknik Plasmid
Plasmid adalah gen yang melingkar yang terdapat dalam sel bakteri, tak terikat pada kromosom. Melalui tekik plasmid dalam rekayasa enetika tersebtu, para ahli di bidang bioteknologi dapat mengembangkan tanaman transgenic tersebut, para ahli di bidang bioteknologi dapat mengembangkan taaman transgenic yang resisten terhadap hama dan penyakit, adaptif terhadap kekeringan dan kondisi tanah yang tidak subur, dan lain-lain. Vektor, berupa plasmid bakteri atau viral ADN virus.

Gbr. Pembuatan plasmid dan mekanisme penyisipan gen


2. Teknik Hibridoma

Teknik hibridoma adalah penggabungan dua sel dari organisme yang sama ataupun dari sel organisme yang berbeda sehingga menghasilkan sel tunggal berupa sel hybrid (hibridoma) yang memiliki sifat kombinasi dari kedua sel tersebut. Teknik hibridoma ini penting untuk menghasilkan antibody dan hormon dalam jumlah besar.
Berikut ini penjelasan mengenai pembuatan antibodi monoclonal. Antibody monoclonal adalah antibody yang di peroleh dari suatu sumber tunggal atau sel klona yang hanya mengenal satu jenis antigen.
Pembentukan antibody monoclonal di lakukan dengan menggunakan kelinci atau tikus. Perhatikan teknik pembuatan antibody monoclonal untuk pengobatan kanker. Langkah pertama adalah menginjeksikan antigen ke tubuh kelinci atau tikus percobaan, kemudian limpanya di pisahkan. Selanjutnya, di lakukan peleburan sel-sel limpa dengan sel-sel mieloma (sel-sel kanker). Sekitar 1% dari sel limpa adalah sel plasma yang menghasilkan antibody. Setiap sel hibridoma hanya menghasilkan satu antibody.
Di sini, teknik sleeksi di kembangkan untuk mengidentifikasi sel tersebut, kemudian di lakukan pengembangan atau pengklonaan berikutnya. Klona yang di peroleh dari hibridoma berupa natibodi monoclonal. Antibody monoclonal di simpan beku, kemudian dapat diinjkesikan ke dalam tubuh hewan atau di biakkan dalam suatu kultru untuk menghasilkan antibody dalam jumlah besar.
Kegunaan antibody monoklonal cukup beragam. Para ilmuwan berharap dapat menggunakan antibody monoclonal dalam menggunakan antibody monoclonal dalam pengobatan kanker. Beberapa jenis sel kanker membuat antigen yang berbeda dengan protein yang dibuat oleh sel-sel sehat. Dengan teknologi yang ada, dapat di buat antibody monoclonal yang hanya menyerang protein dan menyerang sel-sel tanpa mempengaruhi sel-sel yang sehat.
Kegunaan antibodi monoclonal lainnya adalah sebagai sebagai berikut :
a. Untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin (HCG) dalam urin wanita hamil
b. Untuk mengikat racun dan menonaktifkannya, contohnya racun tetanus dan kelebihan obat digoxin dapat di nonaktifkan oleh antibody ini.
c. Mencegah penolakan jaringan terhadap sel hasil transplantasi jaringan lain.

3. Terapi Genetik

Berbagai penyakit fatal, misalnya kanker, berpangkal sebagai sel-sel sebagai unit terkecil jaringan. Kejanggalana berawal dari kelainan gen, yaitu kelainan pembawa kode di inti sel. Gen cacat inilah yang membuat sel jaringan menjadi sel-sel kanker.

Para ahli berusaha melawan gen-gen perusak dalam ini sel itu dengan berbagai cara rekayasa genetika. Upaya yang di rintis tersebut di kenal dengan istilah terapi genetik. Terapi genetik adalah perbaikan kelaiana genetik dengan memperbaiki gen. sayangnya, penemuan itu tidak dapat segera di terapkan. Dalam rekayasa genetika, ada kode etik yang melarang keras percobaan in pada manusia. Rekayasi ini di khawatirkan di salah gunakan untuk mengubah gen pembawa sifat manusia , misalnya untuk membuat manusia super.
Akan tetapi, para ahli tidak selamanya bersikap kaku sebagai berbagai penyakit fatal memang sulit di sembuhkan kecuali dengan terapi genetik. Maka muncul pendapat tentang perlu adanya dispensasi. Dispensasi itu di keluarkan oleh Komite rekayasa Genetika dari Nasional Institute of Healt (NIH) Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1990. dispensasi tesebut mengizinkan penerapan terapi genetic untuk dua jenis penyakit, yaitu penyakit menurun yang sangat jarang seperti Adenosine Deaminase Deficiency (ADD), dan sejenis kanker kulit yang ganas.
ADD adalah kelainan yang mengakibatkan penderitanya tidak memiliki daya tahan tubuh sama sekali. Kontak dengan kuman apapun akan menyebabkan kematian. Penyakit ini di alami oleh seorang anak dari texas, AS, yang di juluki “David tha Buble Boy”. Davdi Vetter meninggal dunia setelah hidup selama 12 tahun dalam balon plastic yang melindunginya dari kontaminasi. Dokter gagal menolongnya melalui transplantasi sumsum tulang.
Rusaknya system kekebalan tubuh pada penderita ADD terjadi akibat sel-sel darah tidak mampu memproduksi enzim edenosin deaminase (AD) yang di perlukan untuk membangun daya tahan tubuh.

4. Kloning (Pengklonaan)

Kloning berasal dari kata Yunani kuno, clone yang berarti ranting atau cangkokan. Dalam bahasa Inggris, clone (klona) di gunakan untuk menyebut selompok mahluk hidup yang di lahirkan tanpa proses seksual. Istilah clone (klona) pertamakali di usulkan oleh Herbert Webber pada tahuan 1903.
Pada tahun 1952, Robert Brigs dan Thomas. J King (AS) mencoba teknik cloning pada katak. Sepuluh tahun kemudian (1962) , John B.Gurdon juga mencoba teknik cloning pada katak, namun percobaannya menghasilkan banyak katak yang abnormal atau cacat. Gurdon kemudian menyempurnakan percobaannya seperti berikut. Pertama-tama, ia mentransplantasikan inti sel kulit ke dalam sel telur yang intinya telah di hilangkan /dikeluarkan, kemudian menumbuhkannya sampai terbentuk embrio. Kemudian ia memisahkan sel-sel embrio itu dan mentransplantasikan inti sel embrio itu ke dalam sel telur katak lain yang inti selnya sudah di buang. Individu hasil cloning tumbuh dari sel-sel telur itu. Percobaan ini banyak menghasilkan katak yang tumbuh normal dan berkembang menjadi dewasa.
Pada tahun 1986, Steen Willadsen (Iggris) mengklona sapi dengan tujuan komersial dengan metode transfer inti. Ia bekerja sama dengan lembaga Grenada Genetics.

Tahun 1996, Ian Wilmut mengklona domba. Ia menggunakan sel kelenjar susu domba finn dorset sebagai donor inti dan sel telur domba blackface sebagai resipien. Sel telur domba blackface di hilangkan intinya dengan cara mengisap nukleusnya keluar dari sel menggunakan pipet mikro. Kemudian, sel kelenjar susu domba finn dorset di fusikan dengan sel telur blackface yang tanpa nucleus. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam tabung percobaan dan kemudian di pindahkan ke rahim domba blackface. Kemudian embrio berkembang dan lahir dengan cirri-ciri sama dengan finn dorset. Domba hasil cloning ini di beri nama Dolly. Dolly di suntik mati pada tanggal 14 februari 2003 karena menderita berbagai penyakit yang sulit di sembuhkan.


Perlu di perhatikan bahwa Wilmut melakukan 277 percobaan kloning. Dari sekian banyak percobaannya, hanya 29 yang berhasil menjadi embrio domba yang dapat di trasplantasikan ke rahim domba, dan hanya satu yang berhasil di lahirkan memjadi domba normal. Dengan demikian, tingkat keberhasilan cloning domba masih sangat rendah.


D. Bioteknologi Pengolahan Bahan Pangan

Mikroorganisme dapat membantu proses pembuatan bahan pangan atau mengubah bahan pangan menjadi bentuk lain.
Sejak dulu, orang sudah menggunakan mikroorganisme untuk pengolahan bahan pangan. Prosesnya di sebut fermentasi yang termasuk dalam proses bioteknologi konvensional. Melalui proses fermentasi ini dapat di hasilkan berbagai jenis bahan makanan, seperti keju, yogurt, kecap, dan tempe. Pada masa mendatang diharapkan peranan mikroorganisme dalam penciptaan makan baru, seperti mikroprotein dan protein sel tunggal, dapat lebih meningkat.
Mengenal sifat dan cara hidup mikroorganisme juga akan sangat bermanfaat dalam perbaikan teknologi pembuatan makanan.

1. Pembuatan Roti

Pada pembuatan roti, biji-biian serelia di pecah dahulu untuk di jadikan tepung teirgu. Terigu di tambah air untuk menghasilkan enzim-enzim, misalnya amylase. Amylase kemudian menghidrolisis tepung menjadi maltosa, kemudian menjadi glukosa. Setelah itu di tambahkan khamir Saccaromicetse cereviseae. Khamir ini akan di manfaatkan sebagai substrat respirasinya yang akhirnya membentuk karbon dioksida. Karbon dioksida mmebentuk gelembung-gelembung yang akan terperangkap pada adonan roti. Adanya gelembung ini menyebabkan roti bertekstur ringan dan menhembang.

2. Pengolahan hasil Susu

Susu dapat diolah secara biotkenologi untuk menghasilkan produk-produk baru seperti keju, mentega, dan yogurt. Prinsipnya adalah memfermentasi susu menghasilkan asam laktat.

a. Keju
Dalam pembuatan keju, kelompok bakteri yang di gunakan adalah bakteri asam laktat. Bakteri ini berfungsi memfermentasi laktosa dalam susu menjadi asam laktat menurut reaksi berikut :
C12H22O11(laktosa) + H2O (air) = menghasilkan 4CH3CHOHCOOH (asam laktat)
Bakteri asam laktat yang biasa di gunakan adalah genus Lactobacillus dan Streptococcus.
Di dalam proses pembuatan keju, susu terlebih dahulu di poanaskan 90’C atau di pasteurisasikan sebelum kulktur bakteri asam laktat diinokulasi (di tanam). Akibat aktivitas bakteri,, pH menjadi turun dan mengakibatkan susu terpisah menjadi dadih padat dan cairan Whey. Peristiwa ini di sebut pendadihan. Kamudian, enzim rennin dari lambung sapi muda di tambahkan untuk menggumpalkan dadih. Akan tetapi, saat ini enzim rennin sapi sudah di gantikan dengan enzim buatan , yaitu kimosin.
Whey yang terbentuk di manfaatkan sebagai makanan sapi, sedangkan dadih yang terbentuk di panaskan pada suhu 32-42’C sambil di tambahkan garam. Setelah itu, dadih di tekan untuk membuang air dan disimpan agar matang. Penyimpanan ini bertujuan gaar mikroorganisme dan enzim bekerja untuk menghasilkan cita rasa keju. Pada pembuatan keju biru, ditambahkan lagi kultru jamur Penicillium.
Ada empat macam jenis keju, yaitu :
a. Keju sangat keras, contoh : keju romano, keju parmesan
b. Keju keras, contoh : keju cheddar, keju swiss
c. Keju setengah lunak, contoh : keju requefort (keju biru)
d. Keju lunak, contoh : keju camembert
Mikroba: Propiabacterium (bakteri asam laktat) yang juga berperan memberi rasa dan tekstur keju.

b. Yogurt
Yogurt berasal dari bahasa Turki. Nama lain untuk yogurt adalah mast (Iran), kisel mleka (Balkan), mauzun (Armenia), dan cieddu (Italy).
Pada yogurt, susu dipasteurisasi dahulu, lalu sebagaian lemak di buang. Mikroorganisme yang di gunakan adalah bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Kedua bakteri ni di tambahkan pada susu dengan jumlah yang seimbang, lalu di simpan dalam suhu 45’C selama 5 jam. Dalam penyimpanan ini, pH turun menjadi 4,0 akibat aktifitas bakteri asam laktat. Setelah proses ini, susu di dinginkan da dapat di tambahkan cita rasa buah jika diinginkan. Yogurt yang baik adalah tanpa rasa dan tanpa warna (cukup ditambah gula saja).
Mikroba: 1. Lactobacillusbulgaris  pemberi rasa dan aroma
........... 2. Streptococcus thermophilus  menambah keasaman
c. Mentega
Pada pembuatan mentega, mikroorganisme yang digunakan adalah Sterptococcus lactis dan Leuconstoc cremoris yang membantu proses pengasaman. Setelah itu, susu di tambah dengan cita rasa tertentu, kemudian lemak mentega di pisahkan. Pengadukan lemak mentega menghasilak mentega yang siap santap.


3. Pengolahan Non Susu
1. Roti, asinan, dan alkohol (bir, anggur "wine", rum), oleh ragi

Gbr. Tahap-tahap dasar pembuatan minuman anggur merah

2. Kecap, oleh Aspergillus oryzae
3. Nata de Coco, oleh Acetobacter xilinum Prinsipnya adalah pemecahan amilum oleh mikroba menghasilkan gula, yang kemudian difermentasi
4. Cuka, oleh Acetobacter aseti. Alkohol difermentasi dalam kondisi aerob

4. Produk Makanan Lain

Bahan makanan lainnya yang dapat diolah dengan memanfaatkan mikroorganisme berupa sayur, buah, dan sebagainya. Diantaranya akan di jelaskan berikut ini.
a. Sauerkraut
Sauerkraut adalah sayuran yang di asamkan agar dapat awet di simpan. Pada pembuatannya, sayuran diiris-iris , kemudian di campur dengan garam, lalu ditekan dalam tempat penyimpanan untuk mengeluarkan udara. Selanjutnya di lakukan penambahan bakteri asam laktat. Aktifitas bakteri ini menurunkan pH menjadi 5,0. kondisi pH ini dapat mencegah mikroorganisme tumbuh. Selain itu, aktivitas bakteri dapat menimbulkan cita rasa unik akibat akumulasi zat organic yang di bentuk bakteri.

b. Pengawetan Zaitun dan Timun
Zaitun dan Timun dapat di awetkan dengan menyimpannya dalam larutan garam yang ditambah bakteri asam laktat. Dalam kondisi anaerob, bakteri tumbuh dengan subur dan menurunkan pH sehingga 4,0. dengan pH rendah ini aktivitas mikroorganisme lain dapat di cegah sehingga makanan dapat lebih awet.

c. Pengolahan Kopi dan Cokelat
Buah kopi dan cokelat di selubungi oleh getajh yang harus di buang sebelum dip roses lebih lanjut kedua jenis buah tadi di timbun bersama-sama mikroorganisme, seperti jamur dan bakteri, yang dapat tumbuh secara alami. Kedua mikroba tadi dapat memfermentasi getah dan sekaligus mencegah buah kopi dan cokelat berkecambah dengan mebunuh embrionya pada suhu 50’C.

d. Pembuatan bir
Bir di buat dari biji-bijian sereal, misalnya gandum. Pembuatan bir melibatkan proses penumbukan dan fermentasi. Dalam fermentasi di gunakan khamir.

4. Protein Sel Tunggal(Single Cell Protein = SCP)

Protein sel tunggal atau PST adalah suatu istilah untuk menyebut protein yang berasal dari organisme bersel tunggal atau bersel banyak yang strukturnya sederhana./ adalah makanan berkadar protein tinggi, berasal dari mikroorganisme
PST dapat di buat dari laga Chlorella, Spirulina, dan Scenedesmus; dari khamir Candida utylis; dari kapang berfilamen Fusarium gramineaum; maupun dari bakteri.
Kelebihan PST adalah sebagai berikut :
a. Laju pertumbuhan sangat pesat yaitu dalam ukuran jam dan masih bias ditingkatkan lagi
b. Dapat menggunakan bermacam-macam media taau substrat
c. Produksi PST tidak tergantung iklim dan musim
d. Memiliki kandungan protein lebih tinggi dari pada hewan dan tumbuhan

Mekanisme kerja dalam produksi PST adalah sebagai berikut :
a. Penyediaan sumber makanan (substrat) yang mengandung karbon, nitrogen, fosfor, dan unsur-unsur lain
b. Sterilisasi media
c. Pembiakan mikroba penghasil PST
d. Pemanenan dengan memisahkan biomassa mikroba dari cairan fermentasi
e. Pemurnian hasil panen

Protein sel tunggal yang berasal dari kapang berfilamen di sebut mikroprotein. Di Amerika Serikat, mikroprotein telah di produksi secara komersial.
Contoh: 1. Mikoprotein dari Fusarium
.............. Substrat: tepung gandum dan ketan
............2. Spirulina dan Chlorella
Kelebihan SCP:
1. Kadar protein lebih tinggi dari protein kedelai atau hewan
2. Pertumbuhan cepat

Gbr. Diagram umum proses/tahapan produksi SCP



5. Produk Asam Amino, Vitamin, dan Enzim

Asam amino, vitamin, dan enzim merupakan senyawa yang sangat di perlukan oleh tubuh. Kekurangan asam amino akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, mulai dari fungsi transportasi hingga fungsi enzimatis.
Kekurangan vitamin menyebebkan pembentukan koenzim terhambat. Akibatnya, reaksi-reaksi di dalam tubuh menjadi terganggu.
- B1 oleh Assbya gossipii
- B12 oleh Propionibacterium dan Pseudomonas
Pada umumnya, manusia memperoleh asam amino dan vitamin dari makanan yang di konsumsinya. Kini, kita dapat memperoleh sumber asam amino , vitamin dan enzim melalui bantuan mikroorganisme. Beberapa jenis mikroorganisme ternyata dapat menghasilkan enzim asam amino, vitamin, dan enzim tertentu. Melalui teklnik kultur dan pemelihraan mikroorganisme tertentu, dan kemudian mengekstraknya, kita dapat memperoleh beberapa jenis asam amino, vitamin, dan enzim.
Tabel. Mikroorganisme yang di produksi secara komersial untuk Pembuatan asam amino dan Vitamin
Jenis Mikroorganisme Produk Asam Amino Vitamin
Corynebacterium glutamicum Teronin dan lisin -
Micrococcus glutamicus Lisin -
Brevibacterium sp Glutamat -
Pseudomonas sp - Vitamin B12
Propionicbacterium sp - Vitamin B12
Ashbya gossypii - Riboflavin
Streptomyces oliveus - Kobalamin
Propionibacteirum freudenreichii - Kobalamin
Tabel . Mikroorganisme yang di produksi secara komersial untuk produksi enzim
Jenis Mikroorganisme Enzim Kegunaan
Aspergillus Niger Amilase
Selulase
Lipase
Pektinase Pembuatan bir : melaunkkan biji-bijian menjadi sepert bubur
Makanan : pengentalan cairan kopi
Pengolahan susu : produksi cita rasa dalam keju
Angur dan sari buah : membantu penguraian
Aspergillus Oryzae Protease Pembuatan bir : stabilisator bir
Pemasakan : pembuatan roti
Makanan : pelunak daging
Farmasi : membantu dalam pencernaan
Bacillus Subtilis Amilase
Pinisilinase Makanan : membuat sirup/gula cair
Farmasi : membantu dalam pencernaan
Tepung : kanji/lem , pembuatan kertas dan tekstil
Farmasi : agen diagnostik
Leuconostoc mesenteroides Sukrase Farmasi : dekstran, pengganti plasma darah
Saccharomycetes Fragilis Laktase Pengolahan susu : mencegah kristalisasi laktosa dalam es krim dan susu kental


G. Bioteknologi Farmasi/ Kedokteran

Biotkenologi juga membuka cakrawala baru dalam bidang farmasi/ kedokteran. Misalnya dalam pembuatan vaksin, antibiotic, antibody monoclonal, dan insulin.

1. Pembuatan Antibody Monoklonal
Antibodi Monoklonal adalah antibodi sejenis yang diproduksi oleh sel plasma klon sel-sel ; sejenis. Antibodi ini dibuat oleh sel-sel hibridoma (hasil fusi 2 sel berbeda; penghasil sel ; Limpa dan sel mieloma) yang dikultur. Bertindak sebagai antigen yang akan menghasilkan anti bodi adalah limpa. Fungsi antara lain diagnosis penyakit dan kehamilan

2. Pembuatan Vaksin
Belum laam ini, para ilmuwan telah berhasil mengkultru berbagai sel fertebrata. Prosesnya di mulai dengan member perlakuan terhadap jaringan yang sesuai dengan enzim proleolitik, misalnya tripsin, untuk memisahkan sel-sel. Sel-sel kemudian dipindah kenutrien tertentu untuk melekatkan sel-sel ke dasar wadah. Sel-sel tersebut akan membelah secara mitosis membentuk satu lapis sel. Sel ini kemudian dapat digunakan untuk membentuk kultur skeunder. Supaya sel-sel kulutr ini terus membelah, maka di tambahkan bahan kimia atau virus yang mendorng pembentukan sel-sel kanker. Sel-sel tersebut disebut neoplastik.
Diantara penerapan kultur sel hewan, produksi vaksin virus merupakan yang tertua. Prosesnya adalah virus ditumbuhkan dalam kultur sel, misalnya sel dari embrio ayam dan ginjal monyet. Virus-virus tersebut di ekstraksi digunakan untuk mematikan virus tersebut. Vaksin tersebut dapat dilemahkan dan disimpan dalam suhu rendah untuk digunakan jika di perlukan. Contoh vaksin yang di buat dengan cara ini adalah vaksin poliomyelitis, gondong, cacar air, rubella, dan rabies. Pemberian vaksin memungkinan tubuh membangun kekebalan dengan membentuk antibody.
Vaksin yang digunakan untuk melindungi atau mencegah tubuh terserang penyakt dapat berasal dari mikroorganisme (virus, bakteri) yang dilemahkan atau toksin yangdihasilkan oleh mikroorganisme tersebut. Namun, vaksin yang diproduksi secara konvensional tersebut dapat menimbulkan efek samping yang merugikan, misalnya :
a. Mikroorganisme yang digunakan untuk membuat vaksin mungkin masih melanjutkan proses reproduksi
b. Mikroorganisme yang digunakan untuk membuat vaksin mungkn masih dapat menyebabkan penyakit
c. Ada orang yang lergi terhadap sisa-sisa sel dari produksi vaksin meskipun sudah di lakukan proses pemurnian.
d. Orang yang bekerja dalam pembuatan vaksin mungin bersentuhan dengan organisme berbahaya yang diguakan sebagai bahan pembuat vaksin meskipun sudah di cegah dengan menggunakan pengaman (masker, sarung tangan)
Dengan berkembangnya teknik rekayasa genetika, berbagai resiko yang tidak diinginkan seperti diatasa dapat dikurangi. Prinsip-prinsip rekayasa genetika dalam pembuatan vaksin adalah sebagai berikut :
a. Mengisolasi (memisahkan) gen-gen dari organisme penyebaba penyakit yang berperan menghasilan antigen yang merangsang limfosit untuk menghasilkan antibody.
b. Menyisipkan gen-gen yang telah diisolasi tersebut ketubuh organisme yang kurang pathogen.
c. Mengkultur organisme hasil rekayasa sehingga menghasilkan antigen dalam jumlah banyak.
d. Mengekstraksi antigen yang kemudian digunakan sebagai vaksin.
Vaksin Contoh: Vaksin Hepatitis B dan malaria.
Secara konvensional pelemahan kuman dilakukan dengan pemanasan atau pemberian bahan kimia. Dengan bioteknologi dilakukan fusi atau transplantasi gen.

Gbr. Tahapan sintesis vaksin yang direkayasa secara genetika


3. Pembuatan Antibiotik
Mikroorganisme tertentu dapat menghasilkan obat untuk menyembuhkan penyakit yang di sebabkan mikroorganisme lainnya.
Produk metabolism yang dihasilan oleh mikroorganisme tertentu dan bersifat menghambat pertumbuhan atau merusak mikroorganisme lain, disebut antibiotik. Penelitian tentang antibitik pertama kali dilakukan oleh A. Gratia dan S. Dath (1924). Penelitiannya menghasilkan aktinomisetin dari galur Actinomycetes (bakteri mirip kapang). Actinomycetes tidak dipakai untuk mengobati pasien, tetapi untuk melisis kultur bakteri daam pembuatan vaksin. Sejak 1940, banyak antibiotic kemoterapeutik yang telah diisolasi dari Actinomycetes.
Antibiotik yang pertama kali di pakai untuk mengobati penyakt pada manusia adalah tirotrosin. Antibiotik ini di peroleh dari bakteri Bacillus brevis, sutau bakteri tanah dan diisolasi oleh Rene Duboos dari Rockefeller Institute of medical Research (sekarang universitas Rockfeller), New York.
Tahun 1924, Alexander Fleming menemukan bahwa cawan agar yang diinokulasi dengan bakteri Stapylococcus aureus telah terkontamisasi sejenis kapang, dan koloni kapang tersebut di kelilingi oleh suatu zona bening. Zona bening tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri terhambat. Setelah diidentifikasi, ternyata kapang tersebut adalah species Penicillium, sehingga fleming menakan zat antibiotic tersebut dengan penisillin.
Antibiotik teah dikenal sejak lama untuk melawan berbagai infeksi mikroba organisme pathogen. Antibiotic dapat di peroleh dari jamur atau bakteri yang diprosses dengan cara tertentu.
Pembuatan antibiotik melalui beberapa tahap sebagai berikut :
a. Mikroorganisme penghasil antibiotik di kembangkan
b. Mikroorganisme dipindahkan ke dalam bejana fermentasi yang menyerupai tangki besar. Di tempat ini, mikroorganisme dipacu dengan lingkungan yang cocok agar berkembang biak secara cepat.
c. Dari cairan biakan itu, antibiotik diekstraksi dan dimurnikan, selanjutnya diuji dengan urutan sebagai berikut :
1) Zat iduji dalam tabung reaksi, apakah dapat mematikan kuman atau tidak
2) Kemudian zat diujikan pada hewan percobaan, termasuk di teliti efek sampingnya
3) Jika ternyata aman, obat ini dapat dijukina pada sekelompok orang dengan pengawasan ketat para ahli.
4) Jika berhasil barulah diujikan pada orang sakit dan selanjutnya di pasarkan.
Zat antibiotic mulai diproduksi secara besar-besaran pada perang dunia kedua (PD II) oeh tim peneliti dari Ingris dan Amerik Serikat.
Antibotik di buat saat pertumbuhan mikrroganisme penghasil antibiotic menunjukkan grafik menurun. Pada saat tersebut, metabolism sekunder dan produksi mikroorganisme berlangsung lebih lambat dari pada metabolism primer. Hal ini berarti dubutuhkan teknik pengulturan sekali panen atau di sebut C bath fermentation.
Pada pembuatan penicillin, tangki pengaduk untuk fermentasi diinokulasikan dengan kultur Penicillium notatum atau Penicillium chrysogenum. Jamur-jamur tersebut tumbuh pada kondisi optimum yaitu pada suhu 24’C, suplai O2 cukup, dan pH yang agak basa. Setelah 30 jam, penicillin mulai dihasilkan dan akan mencapai hasil maksimum selama 4 hari. Produksi berhenti selama 6 hari pada saat tersebut, kandungan (isis) tangki fermentor di tamping. Karena penicillin diproduksi di luar sel jamur, maka miselium jamur disaring, dicuci, dan di buang. Cairan sisa yang berisi penisilin diekstraksi secara kimia lalu dimurnikan menggunakan pelarut untuk membuat Kristal murni. Setelah proses ini, penicillin di kemas dan siap untuk digunakan. Tangki fermentor di sterilisasi lagi, lalu digunakan untuk membuat biakan baru.
Timbulnya kekebalan mikrorganisme terhadap antibiotik tertentu mendorong para ilmuwan untuk membuat antibiotic jenis baru. Antibiotik baru ini dikembangkan dari mikroorganisme galur baru yang di perolah dari rekayasa genetika. Namun, hal ini tidak mudah karena antibiotic adalah metabolit sekunder yang di hasilkan lewat jalur metabolism sekunder yang panjang dan melibatkan sejumlah gen. manipulasi untuk proses tersebut sangat kompleks dan sulit. Sampai saat ini, masih di lakukan penelitian mengenai hal tersebut.
 Penicillium chrysogenum ; memperbaiki penisilin yang sudah ada. Dilakukan dengan mutasi secara iradiasi ultra violet dan sinar X.
 Cephalospurium ; penisilin N.
 Cephalosporium ; sefalospurin C.
 Streptomyces ; streptomisin, untuk pengobatan TBC

4. Insulin

Salah satu tehnik rekayasa genetika dalam bidang kedokteran yang telah berhasil dan giat dikembangkan adalah pembuatan insulin manusia oleh bakteri.
Insulin adalah protein yang bertugas mengontrol metabolism gula dalam tubuh manusia. Gen insulin terletak pada daerha dalam DNA manusia yang memiliki informasi untuk menghasilna insulin. Penderita diabetes tidak mampu membentuk insulin dalam jumlah yang di butuhkan.
Untuk emnyediakan insulin secara cepat dapat dilakukna dengan pemanfaat sel bakteri melaui tekni pencakokan gen (rekombinasi gen). teknik pencangkokan gen untuk menghasilkan insulin manusia oleh bakteri belangsung sebagai berikut. Insulin tersusun atas 2 rantai protein, yaitu rantai A dan B. urutan basa yangkode masing-masing rantai itu dibuat daam tabung rekasi. Tiap DNA (A dan B) ini kemudian dihubungkan dengan gen bakteri yang mengkode enzim B-galaktosidase sehingga membentuk gen hybrid.
Gen-gen hybrid ini secara terpisah dimasukkan ke dalam sel-sel bakteri. Tiap gen hybrid menunjukkan ekspresinya dan bakteri membuat suatu hybrid protein B–galaktosidase A (atau B).
Protein hybrid dipisahkan dari protein bakteri lainnya dan rantai nsulin dibebaskan dengan perlakuan kimia. Dua rantai peptide itu kemudian bersatu dan terbentuklah insulin manusia yang katif.


5. Interferon
Interferon Adalah antibodi terhadap virus. Secara alami hanya dibuat oleh tubuh manusia. Proses pembentukan di dalam, tubuh memerlukan waktu cukup lama (dibanding kecepatan replikasi virus), karena itu dilakukan rekayasa genetika.

6. Terapi gen
Terapi Gen adalah pengobatan penyakit atau kelainan genetik dengan menyisipkan gen normal


H. Bioteknologi Pertanian

1. Tanaman Kebal Terhadap Hama dan Penyakit
Bioteknologi Dalam Pemberantasan Hama
Dalam membatasi pemakaian pestisida, dilakukan upaya pemberantasan hama secara biologi antara lain penggunaan musuh alami dan menciptakan tanaman resisten hama.
1. Bacillus thuringiensis . menghasilkan bioinsektisida yang toksin terhadap larva serangga.
-Transplantasi gen penghasil toksin pada tanaman menghasilkan ..tanaman yang bersifat resisten hama serangga.
- Kristal (racun Bt) diolah menjadi bentuk yang dapat disemprotkan ..ke tanaman. Racun akan merusak saluran pencernaan serangga.
2. Baculovirus sp.
Virus disemprotkan ke tanaman. Bila termakan, serangga akan mati dengan sebelumnya, menyebarkan virus melalui perkawinan.

2. Tanaman yang Dapat Memfiksasi Nitrogen

1. Tanaman kebal terhadap penyakit, misalnya tembakau kebal terhadap TMV.
Dalam rekaysa genetika, para ahli bioteknologi menyisipkan gen bakteri Bacillus thuringiensis yang dapat menghasilkan senyawa endotoksin (senyawa racun) pada tanaman budidaya. Tanaman yang telah disisipi gen bakteri tersebut dinamakan tanaman transgenic. Tanaman transgenic tersebut tidak perlu disemprot dengan pestisida untuk menyingkirkan hama dan penyakit yang menyerangnya, karena telah memiliki kemampuan memberantas hama dan penyakit dengan senyawa racun yang di kandungnya. Tanaman transgenic ini belum dapat sepenuhnya di terima masyarakat. Pihak yang keberatan mengkhawatirkan dampaknya bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.



Skema rekayasa genetika untuk membuat tumbuhan kebal virus TMV >
2. Tanaman mampu menambat(memfiksasi) N2.
Serealia atau tumbuhan rumput-rumputan berbiji merupakan tumbuhan yang menyuplai 50% makan pokok penduduk dunia. Namun sayangnya, serealia tidak memiliki simbion bakteri diakar-akarnya untuk memfiksasi nitrogen, sehinga kebutuhan nitrogen (N2) diperoleh dari penambahan pupuk buatan, kelebihan pupuk buatan yang diberikan dapat terbilas air dan dapat mencemari air minum yang di konsumsi manusia di lingkungan sekitar.
Dengan bioteknologi, para ilmuwan mengembangkan tumbuhan yang akarnya dapat bersimbiosis dengan Rhizobium. Ide ini melibatkan gen nif yang dapat mengontrol fiksasi nitrogen. Para ilmuwan menyisipkan gen nif ini pada :
a. Tumbuhan serealia yang sesuai
b. Bakteri yang berasosiasi dengan tumbuhan serealia
c. Plasmid Ti (Tumor Inducing) dari Agrobacterium dan kemudian menginfeksikannya ke tumbuhan yang sesuai dengan bakteri yang telah direkayasa.
Ahli biologi memnafaatkan rekayasa gentika untuk mengisolasi gen yang diinginkan kemudian menyisipkannya ke sel organisme lain yang di kehendaki. Dalam penyisipan ini para ahli biologi memanfaatkan bakteri Argobactrium tumefaciens untuk memasukkan gen ke sel-sel tumbuhan.
Sel Argiobacterium memiliki DNA yang disebut plasmid Ti. Gen yang di kehendaki disisipkan lebih dahulu e plasmid Ti. Tumor ini di sebut crown gall yang masing-masing mengandung plasmid Ti yang telah disisipi gen. tumbuhan dapat dikultur dari potongan kecil jaringan crown gall. Tumbuhan hasil kultur ini telah memiliki sifat yang berbeda karena telah disisipi gen sehingga sifat tumbuhan menjadi sesuai dengan gen yang di sisipkan.

Pemberian nitrogen dalam bentuk pupuk buatan secara berlebih ternyata berdampak negatif yaitu:
Meningkatkan tekanan osmosis air tanah
Meningkatkan keasaman tanah : akibat lanjut adalah defisiensi Ca, Mg dan K
Terjadinya eutrofikasi karena penumpukan NO3 di perairan, jalan keluarnya adalah dilakukan rekayasa genetika


I. Bioteknologi Peternakan

Penerapan bioteknologi di bidang peternaan contohnya adalah hewan trasgenik dan hormone bovin somatotropin.

1. Hewan Transgenik

Hewan yang di beri perlakuan rekayasa genetika di sebut hewan transgenic. Pada hewan-hewan tersebut di sisipkan gen-gen tertentu yang di butuhkan manusia. Sebagai contohnya adalah domba transgenik. DNA domba tersebut telah disisipi dengn gen manusia yang disebut factor VIII (merupakan protein pembeku darah). Berkat penyisipan gen tersebut, domba mengahsilkan susu yang mengandung factor VIII yang dapat dimurnikna untuk menolong penderita hemophilia.
Rekayasa genetika hewan juga dapat membantu melestarikan spesies langka. Sebagai contoh, sel telur zebra yang sudah di buahi lalu di tanam pada kuda spesies lain. Spesies lain yang dipinjam rahimnya ini di sebut Surrogate, anak zebra akan lahir dari rahim kuda surrogate. Hal yang sama sudah di terapkan pada spesies eledai yang hampir punah di Australia.Teknik pelestarian dengan rekayasa genetika sangat berguna karena :
a. Induk dari spesies biasa dapat melahirkan anak dari spesies langka
b. Telur hewan langka yang sudah dibuahi dapat di bekukan, lalu di simpan bertahun-tahun, bahkan setelah induknya mati. Jika telah di temuan surrogate yang sesuai, telur tadi dapat ditransplantasikan.

2. Hormon BST (Bovine Somatotrophin)

Dengan rekayasa genetika juga dapat diproduksi hormon pertubuhan hewan, yaitu hormone BST (bovine somatotropin). Caranya adalah sebagai berikut :
a. Plsmid bakteri E. Coli dipotong dengan enzim endonuklease
b. Gen somatotropin sapi diisolasi dari sel sapi
c. Gen somatotropin disisipkan ke plasmid bakteri
d. Plasmid di masukkan lagi ke sel bakteri
e. Abkteri yang menghasilkan bovin somatotropin ditumbuhkan dalam tangki fermentasi
f. Bovine somatotropin diambil dari bakteri yang dimurnikan

Hormon BST jika diinjkesikan ke tubuh hewan dapat mendorong pertumbuhan dan meningkatkan produksi susu. BST mengontrol laktasi (pengeluaran susu) pada sapi dengan meningkatkan jumlah sel-sel pada kelenjar susu. Jika hormon yang dibuat dengan rekayasa genetika ini disuntikkan pada hewan, mka produksi susu akan meningkat sampai 20%.
Pemakaian BST telah di setujui oleh FDA (Food and Drug Administration), lembaga pengawasan obat dan makanan Amerika Seriat, pada November 1993. Menurut FDA, susu yang di hasilkan melalui perlakuan dengan BST dapat dikonsumsi secara aman. Namun, hal tersebut di larang di Eropa.. menurut para ahli, penyakit mastitis pada hewan yang diberi hormone BST meningkat 70% dibangding yang tidak di beri hormone BST.
Pemakaian BST ini, selain untuk meningkatkan produksi susu juga untuk memperbesar ukuran ternak hingga 2 kali lipat ukuran normalnya. Caranya dengan menyuntik sel telur yang akan dibuahi dengan hormone ini. Daging dari hewan yang mengandung BST kurang mengandung lemak. Di Khawatirkan BST dapat mengganggu kesehatan manusia.


J. Bioteknologi Pengolahan Limbah

Bahan berupa benda padat, cari atau gas yang dibang dan tak dikehendaki lagi di sebut samapah atau limbah misalnya bahan dari kaleng, platik, kaca, kertas, sisa makanan, sisa aktifitas pertanian, rumah tangga maupun industry. Sampah atau limbah merupakan bahan pencemar lingkungan yang mengancam kehiupan. Oleh karean itu, hrus ada upya penanganan limbha.
Penanggulangan sampah dapat di lakukan dengan berbagai cara, misalnya di timbun, di bakar, dan didaur ulang.
Salah satu contoh proses daur ulang sampah yang telah diuji pad beberapa samapah yang telah diuji pada beberapa sampah tumbuhan adalah proses pirolisis, yaitu proses dekomposisi sampah dengan suhu tinggi pada kondisi tanpa oksigen (anaerob).
Dengan cara ini, samapah dapat diubah mnjadi arang, gas (misalnya metana), dan bahan organic. Bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Keunggulan dari bahan bakar hasil proses ini adalah kandungan sulfur yang rendah sehingga dapat mengurangi pencemaran udara.
Bahan hasil perombakan makroorganik (dari hewan, tumbuhan, manusia) dengan bantuan mikroorganisme (misalnya bakteri dan jamur) dan dengan bantuan hewan-hewan kecil, di sebut kompos. Dalam pembuatan kompos sangat di perlukan mikroorganisme. Jenis mikroorganisme yang dibutuhkan dalam pembuatan kompos tergantung pada bahan organic yang digunakan serta proses yang berlangsung (misalnya prose situ secara aerob maupun anaerob).
Selama proses pengomposan, terjadi penguarian terhadap selulosa dan pembentukan asam organic, terutama asam humat. Asam humat sangat penting dalam pembentukna humus. Hasil pengomposan terutama bermanfaat sebagai pupuk.
Dengan perkembangan bioteknologi, kini pencemaran lingkungan dapat semakin di kurangi dengan berbagai tehnik pengolahan limbah, misalnya penguraian minyak, air limbah, dan plastik.
Pencemaran oleh minyak. Strain-strain Pseudomorms  mengkonsumsi hidrokarbon. Rekayasa genetik membentuk bakteri super yang mengandung empat jenis plasmid pembawa gen untuk konsumsi hidrokarbon.
Limbah organik dapat diuraikan oleh bakteri aerob atau anaerob.

Gbr. Skema pengolahan air limbah

1. Pengolahan Air Limbah

Limbah yang di hasilkan oleh masayrakat semakin lama semakin banyak dan beragam. Limbah yang mencemari sungai, tanah, dan larutan akan berdampak buruk bagi organisme penghuninya. Jalan keluar dari masalah ini adalah mengolah imbah dan mengubahnya menjadi kurang beracun atau bahkan menjadi bahan yang berguna.
Dengan bioteknologi, pongolahan limbah menjadi lebih terkontrol dan efektif. Pengolahan limbah secara bioteknologi melibatkan kerja bakteri aerob dan anaerob.
Pemrosesan air limbah dan pabrikbertujuan untuk menghilangkan zat pencemar baik pencemar biologis maupun kimiawi, yang mungkin membahayakan manusia atau lingkungan. Mekanisme yang di lalui ialah :
a. Menghilangkan sisa-sisa terakhir benda padat yang tersuspensi
b. Menghilangkan gangguan yang tidak di kehendaki
c. Menghilangan rasa, warna, bau, dan mengurangi kandungan zat yang terlarut.
Prinsip kerja dalam pengolahan limbah melibatkan berbagai fasilitas, dan prosesnya secara umum adalah sebagai berikut.

a. Pengumpulan
Limbah dari rumah, industri, dan dari aktivitas lainnya di salurkan ke jaringan saluran bawah tanah, lalu di kumpulkan ke pusat pengolahan.

b. Pemilahan
Limbah yang masuk ke tempat pengolahan di lewatkan pada lempengan metal yang berfungsi memisahkan (memilah) potongan kayu, kertas, dan bahan-bahan yang besr supaya tidak merusak mesin.

c. Pengaliran limbah
Limbah di alirkan lewat lubang-lubang kecil. Kerikil dan pasir pada larutan limbah di saring, di cuci, lalu di kumpulkan dan digunakan untuk mengisi lubang-lubang di tanah.

d. Pengendapan
Limbah di alirkan ke tangki-tangki yang lebih besar di mana bahan-bahan padat mengendp di dsar tangki membentuk Sludge (endapan) kasr. Sludge tersebut kemudioan dipindahkan ke tangki pencerna (digester) sludge dengan tenaga listrik.

e. Proses Aerob
Cairan yang dikeluarkan dari tangki penempatan primer di masukkan kea lat pengolahan sekunder. Di dalam alat tersebut, mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan protista memecah materi organik menjadi mineral, gas, dan air. Aktivitas pemechana ini memerlkan banya oksigen, dan mengikuti reaksi berikut :
C C02
Karbon karbon dioksida
H2S SO42-
Hydrogen sulfide Sulfat
NH4+ NO3-
Amonium nitrat

Proses aerob terbagi menjadi dua berikut ini.
1). Pengaktifan Sludge
Pada proses ini, gelembung-gelembung udara didifusikan pada efuen primer. Efluen adalah cairan limbah yang belum atau sudah diolah. Proses ini memakan waktu 8 jam. Pada saat tersebut, mikroorganisme mengubah sebagian besar bahan organik manjdi substansi yang sederhana.
2). Penyaringan
Efluen primer di semprotkan dari lengan-engan horizontal yang berputar secara perlahan ke dasar saringan yang trbuat dari kerak besi (tahi arang), kerikil, atau wadah plastic dalam tangki beton.
Dengan adanya lapisan organisme yang menyelimuti dasar saringan, maka saat efluen primer menetes perlahan dan melewati dasar saringan, mikroorganisme menguraikan metri organik. Reaksi penguraian ini sama dengan rekasi pada sludge yang diaktifkan. Protista seperti Vorticella, aktif memakan bakteri dan jamur untuk memecah penyumbatan saringan yang mempelambat proses penuraian.
Efluen primer dari proses sludge yang diaktifkan atau dari proses penyaringan masuk ke tangki-tangki penempatan dimana mikroorganisme dari beberapa sisa materi organik dipisahkan dari air dan membentuk sludge. Beberapa isludge digunakan dalam proses aerob selanjutnya, sedangkan sisanya dikirim ke tangki pencerna.

f. Kucuran air
Air dari tangki-tangki penempatan cukup bersih untuk di buang ke sungai. Supaya ari leboih bersih dan dapat digunakan untuk keperluan tertentu, maka ari di saring lewat alas yang terbuat dari pasir halus dan aran aktif, lalu di tambah klorin untuk mencegah pertumbuhan organisme yang masih tersisa.

g. Proses anaerob
Sludge dari tangki penempatan pertama dan dari proses anaerob didiamkan 2 sampai 3 minggu dalam tangki tanpa oksign dengan suhu 30’C-40’C. pad saat tersebut terjadi penguraian (pencernaan) secara anaerob dari sludge yang di lakukan oleh bakteri, misalnya Methanobacterium. Penguraian tersebut mengubah materi organik menajdi gas metana, air, dan mineral-mineral.

h. sumber energi
Gas yang diproduksi selama proses anaerob, yaitu metana, dapat digunakan untuk membakar atau memanaskan tangki pencerna dan menyalakan listrik yang digunakan utnuk menggerakkan mesin dan menyuplai kebutuhan energy. Selain itu, metana juga dapat dialirkan ke pipa yang di sambungkan kerumah-rumah dan digunakan untuk keprluan rumah tangga, misalnya untuk memasak.

i. Pembuangan sampah
Sludge yang telah di cerna dibuang ke laut atau di semprotkan ke tanah sebagai penyubur tanah yang dapat menyediakan nitran dan fosfat serta meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air.


2. Pengolahan Limbah Minyak

Pencemaran air oleh minyak sangat sering terjadi di laut, sungai dan perairan lainnya. Minyak sangat resisten terhadap degradasi oleh mikroba. Kini, dengan bioteknologi telah di temukan cara untuk menguraikan minyak, yaitu dengan menggunakan jamur Cladosporium resinae.
Jamur Clasdoporium resinae dapat mendegradasi plastik dan parafin dengan efektif. Mikroba lain adalah Pseudomonas. Hasil rekayasa genetika oleh Dr. Chakrabarty, yang dapat memecah ikatan hidrokarbon minyak.
Cara lain untuk mengatasi polusi minyak adalah menggunakan pengemulsi yang menyebabkan minyak bercampur dengan air sehingga dapat di pecah oleh mikroba. Salah satu pengemulsi adalah polisakarida yang disebut emulsan yang di produksi oleh bakteri Acinobecter colcoaceticus.

3. Biodegrdasai Plastik

Plastic adalah materi yang sangat sulit diuraikan secara alamiah. Sampah plastik umumnya dibakar, padahal pembakaran plastic menimbulkan polutan yang berbahaya bagi paru-paru. Saat ini telah di kembngak nproduk plastic dari politen dan polyester poliuteran yang bermassa molekul rendah. Plastic dari bahan tersebut dapat di degradasi oleh mikroba jamur Cladosporium resinae.
Pada umumnya, plastic yang lebih lentur lebih mudah di degrdasi, misalnya plastic untuk kemasan. Telah ada penelitian yang telah berhasil menemukan bentuk baru plastik yang biodegradable untuk industry pengemasan. Produksi plastik ini di dasarkan pada bahan kimia polihidroksibutirat yang di hasilkan beberapa mikroba. Plastik ini tidak hanya dapat terurai, tetapi juga dapat di buat oleh mikroba Alxaligenes eutropuhs. Plastik biodegradable lain adalah pulula, yang diproduksi secara omersial ari polisakarida yang di hasilkan oleh Aurebasidium pullulans.


K. Bioteknologi Bahan Bakar Alternatif

Bahan bakar minyak yang ada sekarang suatu saat akan habis karena termasuk sumber daya yang tidak dapat di perbaharui. Hal ini merupakan tantangan bagi para ilmuwan untuk menemukan bahan bakar pengganti yang di produksi melalui bioteknologi. Saat ini, ada dua jenis bahan bakar yang diproduksi dari fermentasi limbah, yaitu gasohol (alkoho) dan biogas (metana).

1. Gasohol

Pada tahun 1970-an, harga minyak meningkat, sehingga banyak Negara mencoba untuk mencari energi alternative. Salah satunya adalah dengan mengunakan bahan bakar berbahan baku nabati (biofuel). Misalnya gasohol. Gasohol di hasilkan dri fermentasi khamir pada gula. Gasoholo bersifat murah, dapat diperbaharui dan tidak menimbulkan polusi. Bahan baku yang paling digunakan adalah tebu. Setelah tebu diambil gulanya, maka tersisa limbah berserat yang di sebut basage. Bassege dapat dikeringkan dan di bakar sebagai sumber energi untuk proses destilasi pembuatan gasohol.
Proses pembuatan gasohol meliputi 5 langkah utama :
a. Penanaman tebu
b. Ekstraksi gula dengan memecah dan menggilas tebu
c. Pengkristalan sukrosa, yang menyisakan sirup glukosa yang di sebut molase romyces cerevisia menjadi alkohol pekat
d. Destilasi (penyulingan) alkohol pekat menjadi etanol murni (gasohol) memakai sumber tenaga dari bassage.

2. Biogas

Alternatif bahan bakar masa depan untuk menggantikan minyak adalah biogas. Biogas di buat melalui anaerob dalam fermentasi limbah kotoran organisme. Pada fase anaerob akan di hasilkan gas metana (biogas) yang mudah terbakar dan di dgunakan untuk bahan bakar.
Di Cina, India dan beberapa Negara lain, desa-desa memiliki fermentor biogas untuk menghasilkan metana. Ke dalam fermentor tersebut, dimasukkan feses hewan, daun-daunan, kertas, dan lain-lain yang akan diuraikan oleh bakteri dalam fermentor.
Hasil penguraiana senyawa organik yang di jadikan sumber energy adalah gas CH4 (metana); disamping itu di hasilkan gas CO2. Penguraian senyawa organik ini memanfaatkan 3 kelompok mikroba sehingga menghasilkan gas metana:
a. Kelompok bakteri fermentattif, yaitu Streptococci, Bacterioides, dan beberapa jenis Enterobacteriaceae
b. Kelompok bakteri asetogenik, yaitu Kethanobacillus dan Desulfovibrio
c. Kelompok bakteri metana, yaitu Methanobacterium, Methanobacillus, dan Methanococcus
Ketiga kelompok bakteri tersebut bekerja sama dalam pembentukan biogas, walaupun yang mendominasi fermentasi metana adalah jenis Methanobacterium.


L. Bioteknologi Pertambangan(Biohidrometalurgi)

Dalam kegiatan pertambangan secara konvensional, ekstraksi bijih tembaga memerlukan proses dengan zat kimia dan dengan biaya yang besar. Namun, sejak ditemukannya bakteri Thiobacillus ferooxidans maka ekstraksi bijih tembaga dilakukan dengan bantuan bakteri ini. Bakteri ini merupakan bakteri litotrof (pemakan batu), yaitu menggunakan batu yang mengandung sulfur untuk mendapatkan energy dan meghasilkan asam sulfat sebagai limbahnya. Jika asam sulfat bereaksi dengan tembaga dan komponen batu lain, bijih tembaga akan tercuci menjadi larutan tembaga sulfat. Melalui proses di atas, tembaga dapat tercuci dari bijihnya meskipun berasal dari bijih kualitas rendah. Selain pada tembaga, proses biohidromealurgi ini juga dapat dilakukan pada emas, uranium, nikel, dan sebagainya.
Pemanfaatan sifat mikroorganisme yang mampu membantu manusia melakukan proses pemisahan logam-logam dari bijihnya disebut tehnik biomining.
Contoh :
Thichacillus ferrooxidan berperan memisahkan logam dari bijihnya atau kotoran sehingga didapat logam berkualitas tinggi. Sebagai contoh pada tembaga (Cu).
................................................................ ...aktivitas
Reaksi: CuFeS2 + 2 Fe2(SO4)3 + 2 H2O + 3 O2 —————> CuSO4 + 5 FeSO4 + 2 H2SO4 + Energi
................................................ .aktivitas
CuSO4 + 2 Fe+ + H2SO4 + Energi —————————> 2 FeSO4 + Cu2+ + 2 H+
Thiobacillus ferrooxidan bersifat kemolitotrof

M. Implikasi Bioteknologi

Implikasi bioteknologi pada sains, teknologi, dan lingkungan mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Bioteknologi dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI)

Kemajuan dan perkembangan bioteknologi yang mempunyai prospek bisnis telah menggerakkan adanya HaKI (Intelectual Property Rights,IPR) untuk melindungi penemuan-penemuan baru baik produk maupun proses sehingga hanya dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh pakar penemu atau institusi yang membiayai penemuan tersebut. Dewasa ini, gen/ bagian gen, bahkan gen manusai telah dipatenkan. Perlindungan terhadap hak paten ini telah menjadi bagian dari kesepakatan Internasional (Convention on Biological Diversity dan World Trade Organization).

2. Bioteknologi dan Keamanan Hayati (Biosafety)

Boteknologi, seperti juga teknologi lainnya, mengandung risiko akan dampak negative. Sudah lama masalah potensi dampak negatif ini diperdebatkan, baik di tingkat internasional maupun nasional. Di tingkat internasioanl, telah diakui dan di tandatangani sebuah konvensi yang mengikat secara hukum, yaitu konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity, 1992), yang tidak ikut di tanda tangani oleh Amerika Serikat. Sementara, Indoneisa sudah meratifikasinya sebagai undang-undang No. 5 Tahun 1994. Sebagai tindak lanjut konvensi tersebut, di sepakati pula Protokol Cartanegara tetntang pengamanan hayati (Cartanegara Protocol on Biosafety). Protocol ini menyingung tentang prosedur transportasi produk bioteknologi antarnegara yang memperkuat adanya kemungkinan bahaya dampak merugikan terhadap keanekaragaman hayati, ekosistem, kesehatan manusia, ekonmi, social, budaya, dan pengetahuan tradisional (Indigenous knowledge)
Dalam protocol tersebut juga di akui kewenangan suatu Negara dalam mengantisipasi berbagai damapak tersebut.
Dampak merugikan terhadap keanekaragamana hayati di sebabkan oleh adanya potensi terjadinya transfer gen (horizontal and vertical gene flow) ke tanaman sekerabat atau kerabat dekat. Slain itu, cloning akan menyebabkan keanekaragaman genetic yang merugikan populasi, terutama terhadap kesehatan manusia. Ada kemungkinan produk gen asing, seperti gen cry dari Bacillus thuringiens maupun Bacillus sphaericus, dapat meinmbulkan reaksi alergi pada tubuh manusia. Perlu di cermati pula, insersi atau penyisipan gn asing ke genom inang dapat meimbulkan interkasi anatar gen asing dn gen-gen inang sehingga menghasilkan perubahan sifat yang tidak diinginkan.
Dengan demikian, dalam penerapan bioteknologi, banyak aspek yang harus diperhitungkan. Sebagai mahluk ciptaan tuhan yang berakal, selain harus berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup, kiat juga harus bertanggung jawab menjaga keseimbangan lingkungan hidup yang telah di anugerahkan kepada kita.
Loading...

0 Response to "BIOTEKNOLOGI"

Posting Komentar