Persyarafan pada jantung, penyediaan darah dan keadaan gizi jantung, serta kerja jantung dalam tubuh dan peredaran darah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Layaknya sebagai makhluk hidup, kita memerlukan oksigen untuk bernafas agar dapat bertahan hidup. Hal ini pun merupakan salah satu cirri makhluk hidup. Selain itu, bernapas juga berperan penting dalam kerja system tubuh yang lain, yaitu system sirkulasi dalam tubuh. System sirkulasi dengan organ utama jantung merupakan system dalam tubuh yang bekerja untuk memompa dan mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh melalui pembuluh-pembuluh darah yang bercabang dari jantung.

Pentingnya aliran darah ini adalah satu hal yang sangat vital, karena darah yang mengalir dalam tubuh kita berfungsi untuk mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan oleh setiap unit sel penyusun tubuh kita. Ketika darah berhenti mengair karena jantung tidak memompanya lagi, maka tubuh akan mulai mengalami kematian Adapun kerja jantung ini tidak terlepas dari pengaruh system saraf. System saraf sebagai pusat pengontrol semua kerja dalam tubuh juga mengatur bagaimana jantung akan membuka dan menutup katupnya untuk memompa darah, bagaimana jantung berdetak dan banyak hal lainnya.
Kerja jantung telah diketahui dengan jelas adalah untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh agar kebutuhan nutrisi setiap unit sel tubuh terpenuhi. Kejra jantung ketika dilihat sekilas hanyalah sebuah siklus yang biasa, namun peranannnya dalam kehidupan sangatlah besar.
B.     Tujuan
Adapun tujuan yang inguin dicapai adalah untuk mengetahui bagaimana persyarafan pada jantung, penyediaan darah dan keadaan gizi jantung, serta kerja jantung dalam tubuh dan peredaran darah.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Persyarafan pada Jantung
Jantung bekerja sesuai control dari system saraf dalam tubuh. Dalam hubungannya terhadap system saraf, jantung bekerja berirama. System saraf yang berperan dalam mekanisme kerja jantung adalah saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Denyut pada jantung pun merupakan salah satu pengaruh dari system saraf. Jantung bekerja secara reflex, dibawah control kesadaran kita.
1.      Refleks Baroreseptor dan Kemoreseptor
Mekanisme saraf untuk pengaturan tekanan arteri yang paling diketahui adalah refleks baroreseptor. Baroreseptor terangsang bila ia teregang. Pada dinding hampir semua arteri besar yang terletak di daerah toraks dan leher dapat dijumpai beberapa baroreseptor, tetapi dijumpai terutama dalam dinding arteri karotis interna yang terletak agak di atas bifurkasio karotis (sinus karotikus), dan dinding arkus aorta.
Sinus karotikus adalah bagian pembuluh darah yang paling mudah teregang. Sinyal yang dijalarkan dari setiap sinus karotikus akan melewati saraf hering yang sangat kecil ke saraf kranial ke-9 (glosofaringeal) dan kemudian ke nukleus traktus solitarius (NTS) di daerah medula batang otak. Arkus aorta adalah bagian yang paling kenyal dan teregang setiap kali terjadi ejeksi ventrikel kiri. Sinyal dari arkus aorta dijalarkan melalui saraf kranial ke-10 (vagus) juga ke dalam area yang sama di medula oblongata. Pada keadaan normal sinus karotikus lebih berperan dalam mengendalikan tekanan darah dibanding arkus aorta, dimana arkus aorta memiliki ambang rangsang aktivasi statik yang lebih tinggi dibanding sinus karotikus yaitu ~110 mmHg vs ~50 mmHg. Arkus aorta juga memiliki ambang rangsang dinamik yang lebih tinggi dibanding sinus karotikus, tetapi tetap berespons saat baroreseptor sinus karotikus telah jenuh.
Baroreseptor, kemoreseptor dalam badan karotid, dan reseptor volume (stretch) dalam jantung, mengirim impuls lewat saraf-saraf aferen dalam saraf kranial ke-9  dan ke-10  menuju NTS di batang otak. Proyeksi dari saraf kranial ke-9 dan ke-10 menuju NTS akan melalui jalur naik (ascending) untuk mencapai daerah di otak dimana efek otonom dapat dirangsang oleh stimulasi elektrik langsung. Daerah tersebut termasuk area-area korteks (fronto-occipital, temporal), girus singuli, amigdala, ganglia basal, dan hipotalamus, juga daerah bawah batang otak dan korda spinalis. Jalur menurun (descending) dari korteks dan girus singuli mencapai hipotalamus. Serabut-serabut dari hipotalamus naik ke nukleus batang otak dan korda spinalis. Korda spinalis mengandung serabut-serabut vasomotor yang berjalan naik dan berakhir pada neuron pra-ganglion simpatik.
Gambar 1: Baroreseptor dan penjalaran sinyal
Kendali kemoreseptor pada sistem kardiovaskuler mencakup kemoreseptor sentral dan perifer. Kemoreseptor sentral di medula oblongata sensitif terhadap pH otak yang rendah, yang mencerminkan peninggian PCO2 di arteri. Peningkatan PCO2 arteri menstimulasi kemoreseptor sentral untuk menginhibisi area vasomotor dengan hasil akhir peningkatan keluaran simpatis dan terjadi vasokonstriksi. Kemoreseptor perifer berperan mengendalikan ventilasi paru dan terletak dekat baroreseptor, yaitu badan karotis dan badan aorta. Penurunan PO2 arteri menstimulasi kemoreseptor perifer untuk menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah.
Skema pengaturan jangka pendek terhadap penurunan tekanan darah

Skema pengaturan jangka pendek terhadap peningkatan tekanan darah
2.      Perangsangan Parasimpatis
a)      Perangsangan pada Jantung
Sistem saraf parasimpatis sangat penting bagi sejumlah fungsi autonom pada tubuh, namun hanya mempunyai peran kecil dalam pengendalian sirkulasi. Pengaruh sirkulasi yang penting hanyalah pengaturan frekuensi jantung melalui serat-serat parasimpatis yang di bawa ke jantung oleh nervus vagus, dari medula langsung ke jantung.
Perangsangan vagus yang kuat pada jantung dapat menghentikan denyut jantung selama beberapa detik, tetapi biasanya jantung akan “mengatasinya” dan setelah itu berdenyut dengan kecepatan 20 sampai 40 kali per menit. Selain itu, perangsangan vagus yang kuat dapat menurunkan kekuatan kontraksi otot sebesar 20 sampai 30 persen. Penurunan ini tidak akan lebih besar karena serat-serat vagus di distribusikan terutama ke atrium tetapi tidak begitu banyak ke ventrikel di mana tenaga kontraksi sebenarnya terjadi. Meskipun demikian, penurunan frekuensi denyut jantung yang besar digabungkan dengan penurunan kontraksi jantung yang kecil akan dapat menurunkan pemompaan ventrikel sebesar 50 persen atau lebih, terutama bila jantung bekerja dalam keadaan beban kerja yang besar. Dengan cara ini, curah jantung dapat diturunkan sampai serendah nol atau hampir nol.







Skema efek peningkatan aktivitas parasimpatis dan penurunan aktivitas simpatis pada jantung dan tekanan darah
b)      Perangsangan pada Pembuluh Darah
Serabut parasimpatis hanya dijumpai di beberapa daerah pada tubuh. Serabut parasimpatis mempersarafi kelenjar air liur dan kelenjar gastrointestinal, dan berpengaruh vasodilatasi pada organ erektil di genitalia eksterna. Serabut postganglion pasasimpatis melepaskan asetilkolin yang menyebabkan vasodilatasi.
3.      Perangsangan Simpatis pada Jantung
a)      Perangsangan pada Jantung
Serat-serat saraf vasomotor simpatis meninggalkan medula spinalis melalui semua saraf spinal toraks dan lumbal pertama dan kedua. Serat-serat ini masuk ke dalam rantai simpatis dan kemudian ke sirkulasi melalui dua jalan; (1) melalui saraf simpatis spesifik, yang terutama menginervasi vaskulatur dari visera internal dan jantung serta (2) melalui nervus spinalis yang terutama menginervasi vaskulatur daerah perifer. Inervasi arteri kecil dan arteriol menyebabkan rangsangan simpatis meningkatkan tahanan dan dengan demikian menurunkan kecepatan aliran darah yang melalui jaringan. Inervasi pembuluh besar, terutama vena, memungkinkan bagi rangsangan simpatis untuk menurunkan volume pembuluh ini dan dengan demikian mengubah volume sistem sirkulasi perifer.
Hal ini dapat memindahkan darah ke dalam jantung dan dengan demikian berperan penting dalam pengaturan fungsi kardiovaskular. Perangsangan simpatis yang kuat dapat meningkatkan fekuensi denyut jantung pada manusia dewasa dari 180 menjadi 200 dan, walaupun jarang terjadi, 250 kali denyutan per menit pada orang dewasa muda. Juga, perangsangan simpatis meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung, oleh karena itu akan meningkatkan volume darah yang dipompa dan meningkatkan tekanan ejeksi. Jadi, perangsangan simpatis sering dapat meningkatkan curah jantung sebanyak dua sampai tiga kali lipat selain peningkatan curahan yang mungkin disebabkan oleh mekanisme Frank-Starling. Secara singkat, mekanisme Frank-Starling dapat diartikan sebagai berikut: semakin besar otot jantung diregangkan selama pengisian, semakin besar kekuatan kontraksi dan semakin besar pula jumlah darah yang dipompa ke dalam aorta.
Sebaliknya, penghambatan sistem saraf simpatis dapat digunakan untuk menurunkan pompa jantung menjadi moderat dengan cara sebagai berikut: Pada keadaan normal, serat-serat saraf simpatis ke jantung secara terus-menerus melepaskan sinyal dengan kecepatan rendah untuk mempertahankan pemompaan kira-kira 30 persen lebih tinggi bila tanpa perangsangan simpatis. Oleh karena itu, bila aktivitas sistem saraf simpatis ditekan sampai di bawah normal, keadaan ini akan menurunkan frekuensi denyut jantung dan kekuatan kontraksi ventrikel, sehingga akan menurunkan tingkat pemompaan jantung sampai sebesar 30 persen di bawah normal.

Skema efek peningkatan aktivitas simpatis pada jantung dan tekanan darah
b)      Perangsangan pada Pembuluh Darah
Serabut simpatis tersebar luas pada pembuluh darah tubuh, terbanyak ditemukan di ginjal dan kulit, tetapi relatif jarang di koroner dan pembuluh darah otak, dan tidak ada di plasenta. Serabut ini melepaskan norepinefrin yang berikatan dengan adrenoseptor di membran sel otot polos pembuluh darah. Serabut simpatis menyebabkan vasokonstriksi pada sebagian besar pembuluh darah, tetapi di otak, jantung, dan otot rangka menyebabkan vasodilatasi.
Skema efek penurunan aktivitas simpatis pada arteri dan tekanan darah





Skema efek peningkatan aktivitas simpatis pada arteri dan tekanan darah

B.     Penyediaan Darah dan Keadaan Gizi Jantung
Jantung sebagai salah satu organ paling penting dalam sistem sirkulasi tubuh juga membutuhkan zat makanan dan oksigen sebagai sumber energy untuk dapat melakukan kerjanya. Jantung pun memerlukan suatu system pembuangan yang digunakan untuk membuang zat ampas atau zat sisa dan karbondioksida. Pada jantung, system peredaran darah khusus yang digunakan untuk memenuhi keperluan tersebut adalah system peredaran darah koroner.
Peredaran darah koroner terdiri dari arteria coronaria kiri dan arteri coronaria kanan, serta system vena yang terdiri dari sinus coronaria dan vena jantung. Darah yang mengalir di sepanjang pembuluh darah coronaria pada akhirnya akan mengalir masuk ke atrium kanan dari jantung.
Aliran darah pada peredaran darah koroner lebih banyak ketika ventrikel dalam keadaan relaksasi (diastol) daripada ketika ventrikel dalam keadaan kontraksi (sistol). Hal tersebut disebabkan karena :
a.       pembuluh-pembuluh darah kecil yang terdapat di antara sel-sel jantung menutup karena kontraksi otot ventrikel.
b.      Lubang antara aorta dengan arteri coronaria tertutup oleh kelopak katup pada waktu aorta membuka.
Dalam keadaan istirahat, aliran darah koroner mencapai ±250 ml per menit, namun dapat mencapai 1000 ml per menit pada waktu gerak badan yang keras.
Keadaan gizi jantung dapat diketahui dengan jalan mengisolasi jantung dan mengalirkannya dengan zat gizi (perfusi) melalui pembuluh nadi coronaria. Kanula yang dihubungkan dengan botol bertekanan dimasukkan ke aorta. Larutan yang berisi zat gizi kemudian dialirkan ke kanula yang selanjutnya mengalir ke pembuluh nadi coronaria dan akhirnya sampai ke otot jantung. Larutan ini kembali ke serambi kanan melalui sinus coronaria. Jantung kemudian dihubungkan dengan alat pencatat dan hasil pencatatannya dapat dilihat pada kimograf.
Beberapa factor yang mempengaruhi pengaliran zat gizi yang juga mempengaruhi kerja jantung adalah :
a.       Suhu
Ketika larutan yang dialirkan didinginkan, maka denyut jantung akan lambat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan kecepatan metabolism dari nodus sinoauricularis.
b.      Tekanan
Bila tekanan larutan perfusi diturunkan, maka kuat kontraksi jantung juga akan menurun, yang kemungkinan disebabkan oleh zat guzu yang berkurang.
c.       Oksigen
Bila persediaan oksigen berkurang, maka denyut jantung menjadi lemah dan tidak teratur, sehingga akhirnya berhenti berdenyut.

C.    Kerja Jantung
Kerja jantung memompa darah ke seluruh tubuh degan cara otot jantung berkontraksi kemudian berelaksasi secara teratur. Adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian menyebabkan terjadinya denyut nadi atau denyut jantung.
Jika atrium berkontraksi, ventrikel mengembang mencapai volume terbesar atau volume maksimum atau dalam keadaan relaksasi maksimum. Ventrikel dalam keadaan relaksasi maksimum ini disebut diastole. Pada fase diastole, katup bikuspidalis membuka dan darah dari atrium masuk ke ventrikel rangsang yang melalui berkas HIS terputus kurang lebih sepersepuluh detik digunakan jantung untuk beristirahat.
http://siswa.univpancasila.ac.id/nufidwi/files/2010/11/JANTUNG.jpgSetelah sepersepuluh detik, otot ventrikel benkontraksi. Keadaan ini disebut diastole. Dalam fase ini, katup bikuspidalis dan katup trikuspidalis menutup karena gerakan korda tendinae yang disebabkan oleh kontraksi otot papilari (urat pengatur katup). Dengan berkontrakinya ventrikel, darah menuju katup semilunaris. Katup ini segera terbuka kemudian darah masuk aorta dan ke arteri paru-paru. Periode dari akhir pemompaan hingga akhir pemompaan berikutnya disebut siklus jantung.
Orang dewasa yang sehat memiliki tekanan systole kurang dari 120 mmHg dan diastole kurang dari 80mmHg. Biasanya semakin tua terdapat kenaikan tekanan sistol dan diastole. Jika systole melebihi batas tekanan normal, dikatakan orang tersebut menderita tekanan darah tinggi (hipertensi), sedangkan apabila jika kurang dari batas tekanan normal disebut menderita tekanan darah rendah (hipotensi).
Secara normal, jantung memompa darah kurang lebih dari 5 liter per menit dengan jumlah denyut nadi 70 puluh kali. Jika ada kegiatan lain, misalnya berolahraga maka denyut jantung dapat mencapai lebh dari 100 kali per menit dan memompa darah lebih dari 20 liter.





Secara singkat, kerja jantung dapat dilihat melalui gambar di bawah ini :
http://4.bp.blogspot.com/_uMiAcvfZW3Y/S772q3l8svI/AAAAAAAAAD0/dUpUEIKaFoU/s400/mekanisme+jantung.jpg
1.      Serambi jantung mengembang sehingga darah dari seluruh tubuh yang kaya karbon dioksida masuk ke serambi kanan. Darah dari pembuluh balik paru-paru (vena pulmonalis) yang kaya oksigen masuk ke serambi kiri.
2.      Serambi jantung mengempis dan bilik mengembang.
3.      Darah masuk ke bilik. Darah dari serambi kanan masuk ke bilik kanan, darah dari serambi kiri masuk ke bilik kiri.
4.      Bilik jantung mengempis.
5.      Darah dari bilik kiri yang kaya oksigen dipompakan dengan kuat ke seluruh tubuh, sedangkan darah dari bilik kanan yang kaya karbon dioksida dipompakan ke paru-paru untuk dibersihkan.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Persyarafan pada jantung merupakan hal utama dalam mengatur kerja jantung yang bekerja di bawah kesadaran kita. Dengan control saraf, jantung bekerja secara berirama memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan adanya denyut yang terjadi pada jantung.
2.      Penyediaan darah dan keadaan gizi pada jantung juga menjadi factor yang penting dalam kinerja optimal jantung. Dalam hal ini jantung yang tersusun dari jutaan sel juga membutuhkan nutrisi agar dapat bekerja dengan baik sehingga ketersediaan darah dalam tubuh pun terpenuhi.
3.      Kerja jantung secara optimal dimulai dari serambi jantung mengembang sehingga darah dari seluruh tubuh yang kaya karbon dioksida masuk ke serambi kanan. Darah dari pembuluh balik paru-paru (vena pulmonalis) yang kaya oksigen masuk ke serambi kiri. Ketika serambi jantung mengempis, maka bilik mengembang sehingga darah masuk ke bilik. Darah dari serambi kanan masuk ke bilik kanan, darah dari serambi kiri masuk ke bilik kiri. Kemudian bilik jantung mengempis mengakibatkan darah dari bilik kiri yang kaya oksigen dipompakan dengan kuat ke seluruh tubuh, sedangkan darah dari bilik kanan yang kaya karbon dioksida dipompakan ke paru-paru untuk dibersihkan.
B.     Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi pembaca agar ke depannya makalah yang direncanakan dapat mendekati kesempurnaan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim2. 2011. Sistem Peredaran Darah. http://sistemperedarandarah2.blogspot.com/

Anonim3. 2011. Pengaturan Jangka Pendek Terhadap Peningkatan Tekanan Darah. http://www.eprints.uny.ac.id/Pengaturan_jangka_pendek_terhadap_peningkatan_tekanan_darah.doc

Anonim4. 2011. Jantung. http://id.wikipedia.org/wiki/Jantung

Taiyeb, Mushawwir. 2009. Fisiologi Peredaran. Makassar : UNM

0 Response to "Persyarafan pada jantung, penyediaan darah dan keadaan gizi jantung, serta kerja jantung dalam tubuh dan peredaran darah"

Posting Komentar