Perjalan Sperma & Ovum (Reproduksi Vertebrata)

Loading...

Perjalanan Sperma & Ovum hingga Fertilisasi


Pendidikan Biologi - Perjalanan ovum : Saluran reproduksi betina yang harus dilalui ovum adalah tuba fallopii, koruna eteri, dan korpus uteri. Secara histoanatomik, tuba fallopii dibagi menjadi fimbriae, infundibulum, ampula dan isthmus. Perjalanan ovum sangat bergantung dari gerak persitaltik dan sel-sel silia sepanjang saluran tuba falopii. Menjelang ovulasi, estrogen yang dominan membantuk terjadinya gerak persitaltik yang aktif. Pada saat ovulasi, gerakan tersebut kuat dan menyebabkan fimbriae aktif menemukan telur, lalu telur digerakkan menuju ke infundibulum, ampula, dan isthmus.

Perjalanan sperma : yaitu dari tubulus seminiferus, rete testis, epididimis, vas deferens, vagina, serviks, uterus, UTJ, isthms dan ampula. Sperma tumbuh dan dihasilkan pada tubulus seminiferus. Di rete testis, sperma secara pasif mengalir ke epididimis. Sperma mengalami penimbunan, pemadatan, dan pendewasaan pada epididimis, yaitu dengan gerak peristaltik neuromuskuler. Pada vas deferens, sperma mengalami transport pasif dan tercampur dengan seminal plasma dan mulai ada gerakan aktif ejakulasi, yang disebabkan oleh gerak peristaltic metabolism gerak peristaltic gerak mengejut. Sesampainya di vagina, terjadi deposisi di berbagai tempat dan tercampur dengan lender vagina dan serviks, untuk kapasitasi permulaan, biokimiawi. Pada serviks, sperma mengalami gerak aktif mengikuti lendir serviks, ke kripta, terlepas dan melanjutkan perjalanan ke uterus. Pada uterus, sperma terpisah dengan plasma seminal dan meneruskan perjalanan ke tuba fallopii oleh kontrkasi miometrium, juga terjadi kapasitasi dan penambahana daya pembuahan melalui reaksi biokimiawi. Pada bata uterus (UTJ), terjadi seleksi kuantitatif dan kapasitasi lanjutan. Sesampainya di ampula, gerakan sperma menjadi lebih aktif, dan menembus sel-sel corona radiate dan zona pellucida, kemudian terjadi fertilisasi.

Proses pembuahan gambar sperma biologis


Pada akhir kopulasi, semen diejakulasikan oleh sapi jantan. Pada sapi, semen disemprotkan ke mulut serviks atau vagina bagian terdalam (portiovaginalis cervicis). Pada sapi, serviks merupakan hambatan perjalan spermatozoa yang pertama. Semen yang ditumpahkan dalam lumen servik segera tercampur dengan lender seviks. Lender serviks pada waktu estrus membentuk serat-serat atau jalur-jalur yang dapat mengarahkan spermatozoa ke kripta. Ada sekelompok spermatozoa yang dapat langsung masuk ke uterus dan mendapat fasilitas lebih lanjut, yaitu gerakan peristaltik dari dinding uterus, menuju ke tuba fallopii. Tetapi bagian yang langsung meneruskan perjalanan ini tidak sebanyak yang terperangkap pada kripta serviks. Beberapa menit setelah kopulasi, konsentrasi spermatozoa lebih besar dalam kripta, sedikit sekali yang ditemukan pada uterus dan hampir tidak ada yang ditemukan dalam tuba fallopii.

Spermatozoa yang terperangkap dalam kripta, terus berusaha untuk meneruskan perjalanan ke uterus. Spermatozoa yang hidup dapat terus masuk ke uterus, sedangkan spermatozoa yang tidak dapat melanjutkan perjalanan akan mati atau ditelan oleh sel-sel phagocyte. Spermatozoa yang hidup dapat melanjutkan perjalanan, secara bergelombang. Serviks berfungsi sebagai pengatur perjalanan spermatozoa, untuk menghadapi kemungkinan tertundanya ovulasi. Satu ejakulasi terbagi menjadi beberapa “peleton”, dengan harapanjika peleton pertama tidak berhasil menemukan ovum maka peleton cadangan masih mendapat kemungkinan.

Spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba fallopii dalam waktu 5 sampai 10 menit sesudah kopulasi, karena perjalanan sperma dalam uterus dipercepat olh gerak peristaltic. Gerak peristaltic terjadi saat estrus, dan meningkat psda waktu kopulasi. Uterus juga melakukan seleksi spermatozoa, karena banyak ditemukan phagocyte yang dapat menelan spermatozoa. Pada sapi, saluran yang dilalui spermatozoa dari uterus ke tuba fallopii tidak hanya dari lumen yang luas, menciut menjadi saluran yang sempit, dan terdapat rintangan cincin mukosa yang merupakan perbatasan antara uterus dan tuba, dikenal dengan nama uterotubal junction (UTJ). UTJ juga berfungsi penyelektif. Pada isthmus tuba fallopii, terdapat reaksi biokimiawi hingga terjadi perubahan atau penambahan kemampuan bagi spermatozoa untuk menembus corona radiate yang mengelilingi ovum. Setelah melalui corona radiate, spermatozoa bertemu dengan zona pellucid. Proses fertilisasi spermatozoa dimulai dari terbenturnya kepala spermatozoa dengan zona pellucid hingga bersatunya inti sperma dan inti ovum.
Loading...

2 Responses to "Perjalan Sperma & Ovum (Reproduksi Vertebrata)"