Reproduksi Anjing

REPRODUKSI ANJING

(Canis lupus familiaris)


Latar Belakang Kajian Reproduksi Anjing


Bilogimu. Setiap makhluk hidup tentunya akan selalu berusaha untuk meneruskan keturunannya. Reproduksi atau berkembang biak merupakan kemampuan suatu organisme untuk menghasilkan keturunan atau organisme baru agar kelestarian jenisnya tetap terjaga. Reproduksi atau perkembangbiakan yang terjadi pada makhluk hidup dibedakan menjadi dua yakni secara kawin (seksual atau generatif) dan secara tidak kawin (aseksual atau vegetatif). Seperti halnya sistem organ lain, sistem reproduksi pada manusia juga terdiri atas beberapa organ.

Reproduksi Anjing


Sistem reproduksi anjing mirip dengan sistem reproduksi wanita. Anjing (Canis lupus familiaris) adalah mamalia karnivora yang telah mengalami domestikasi dari serigala sejak 15.000 tahun yang lalu atau mungkin sudah sejak 100.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil dan tes DNA. Secara umum sistematika organ reproduksi anjing dan hampir sama dengan mamalia lain yang terdiri atas testis, saluran kelamin dengan kelenjar kelamin dan alat kopulasi (penis). Saluran-saluran kelamin terdiri vas eferens, epididimis dan vas deferens sedangkan kelenjar-kelen­jar kelamin hanya terdiri dari kelenjar prostat Organ primer (testis) berjumlah dua buah yang terdapat di dalam kantong luar yang disebut skrotum.

Pubertas atau siklus estrus pertama pada anjing betina dicapai paling awal pada usia enam bulan pada anjing ras dengan ukuran tubuh kecil, dan paling lama pada usia dua tahun pada anjing ras dengan ukuran tubuh yang lebih besar. Siklus estrus anjing terdiri dari proestrus, estrus, metestrus dan anestrus.



Alat Reproduksi pada Anjing


Anjing yang termasuk hewan vertebrata berkembang biak atau bereproduksi secara kawin (seksual). Anjing tergolong makhluk hidup yang memiliki jenis kelamin terpisah, yaitu jantan dan betina. Organ-organ penyusun alat reproduksi pada jantan berbeda dengan betina, berikut uraiannya.

1). Alat Reproduksi Jantan
Alat reproduksi jantan terdiri atas alat kelamin luar dan alat kelamin dalam.



a. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar jantan berupa penis dan skrotum. Penis pada anjing terbagi atas tiga bagian yaitu bagian pangkal, badan dan ujung tudung (glans) penis. Ukuran penis sangat pendek dan bagian pangkal penis anjing dapat membesar seperti balon bila mengalami ereksi. Preputium merupakan selubung bagian ujung anterior penis, selubung ini merupakan suatu lipatan kulit. Selaput lendir dari preputium ini berkelenjar dan sekresinya bersifat lemak, sekresi kelenjar ini bercampur dengan epitel yang rusak sehingga berbau merangsang yang disebut smegma prepusium. Muara luar prepusium disebut orificium praeputii. Penis berfungsi sebagai alat untuk kopilasi dan untuk melepaskan sel-sel kelamin jantan (sperma) ke dalam salauran kelamin betina.

Sementara itu, skrotum adalah kantong pembungkus testis. Fungsi dari skrotum adalah mengatur perubahan temperatur skrotum sehing­ga proses spermatogenesis dapat berlangsung secara normal dan melindungi testis dari gangguan-gangguan luar berupa pukulan, panas, dingin, serta gangguan mekanis lainnya. Terhadap temperatur luar testis, skrotum melindungi testis, dengan jalan mengedurkan dan mengkontraksikan muskulus kremaster testis. Pada keadaan temperatur luar dingin, dinding skrotum mengeriput, muskulus kremaster berkontraksi dan testis tertarik, lebih dekat dengan tubuh, hal ini perlu agar tidak banyak panas yang terbuang. Apabila udara disekeliling panas, otot-otot skrotum relaksasi (mengendur) dan skrotum menggantung menjauhi tubuh, dengan demikian memungkinkan banyak panas yang terbuang. Keseluruhan Ini merupakan proses termoregulasi skrotum. Suhu di dalam kantong skrotum 1-8 oF lebih rendah dari pada suhu di rongga perut. Pengendoran dan pengerutan dari skrotum ini terjadi setelah masa dewasa tercapai.




b. Alat Kelamin Dalam


Alat kelamin dalam tersusun atas kelenjar kelamin (testis), kelenjar aksesoris, dan saluran kelamin jantan.

1). Kelenjar kelamin (Testis)
Secara anatomi, testis pada anjing berbentuk bulat sampai oval dan berada di dalam srotum dengan bagian aksis memanjang kearah dorso caudal. Testis mengandung tubulus seminiferus yang merupakan saluran membelit yang berisi sel-sel spermatogenik dan sel-sel sertoli yang secara berurutan memproduksi dan member makan spermatozoa. Spermatozoa keluar dari tubulus seminiferus melalui tubulus yang lurus ke rete testis di mediastinum testis kemudian kedalam duktus epididimis. Disela-sela sepanjang interstitium ada sel-sel interstitial atau sel leydig yang bertanggung jawab untuk produksi testosterone. Testis terdiri dari tiga kompartemen fumgsional yaitu :
  1. Komparteme interstisial. Pada kompartemen ini mengandung pembuluh-pembuluh darah, sel-sel leydig dan jaringan penyokong yang berfungsi untuk mensuplai tubulus seminiferus dengan hormone dan nutrisi.
  2. Kompartemen basal. Kompartemen ini mengandung spermatogonia dan sel-sel sertoli.
  3. Kompartemen adluminal. Kompartemen ini mengandung perkembangan spermatozoa.
Testis mempunyai dua fungsi utama, yaitu spermatogenesis dan produksi dan sekresi hormone. Sekresi hormone terjadi dalam kompartemen jaringan interstitial testis yang terdiri dari sel-sel leydig yang secara berdekatan berhubungan dengan pembuluh darah dan limfatik. Sel-sel leydig adalah salah satunya sel-sel testicular dengan reseptor untuk LH. LH akan berikatan dengan reseptor pada sel-sel leydig dan akan merespon dan mensintesa beberapa steroid termasuk testosterone. Testosterone diperlukan untuk perkembangan karakteristik sekunder, tingkah laku normal, fungsi glandula assesoris, produksi spermatozoa dan penjagaan system duktus hewan jantan. Testosterone berperan dalam mekanisme umpan balik (feed back) pada pituitary mengontrol sekresi gonadotropin LH dan FSH. Pembentukan androgen-binding protein dalam sel-sel sertoli distimulasi oleh FSH. Pengikatan Testosteron ke protein akan menjaga konsentrasi intratestiler testosterone yang diperlukan untuk spermatogenesis. 

2) Kelenjar Aksesoris

Anjing hanya mempunyai kelenjar prostat yang berkembang sempurna terletak pada leher vesika urinaria dan kelenjarnya bermuara pada uretra. Fungsi kelenjar prostat, menambah cairan alkalis pada cairan seminalis berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra.

3) Saluran Kelamin

Saluran kelamin terdiri dari :

a) Epididimis

Epididimis adalah saluran kelamin yang terletak dekat testis dan merupakan saluran yang berkelok-kelok. Bagian dari epididimis adalah kaput epididimis berbentuk seper­ti huruf U, pipih dan terletak di bagian proksimal dari testis, korpus epididimis mengarah ke distal dan terdapat pada bagian posterior testis, dan kauda epididimis terletak di bagian distal testis, bentuknya agak lonjong sebesar ibu jari. Saluran yang meninggalkan kauda epididimis disebut vas deferens. Fungsi dari epididimis adalah: transpor, penyerapan air, pendewasaan dan penyimpanan sperma. Fungsi dari epitel epididimis adalah untuk absorbsi cairan asal sel Sertoli dan sebagian untuk sekretoris.

b) Vas eferens

Vas eferens berfungsi membawa sel-sel sperma dari testis menuju kantung sperma (epididimis).

c) Vas deferens

Vas deferens atau ductus deferens berfungsi mengangkut sperma dari ekor epididimis ke urethra. Dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam mekanisme pengangkutan semen waktu ejakulasi. Diameternya mencapai 2 mm dan konsistensinya seperti tali.

d) Uretra

Uretra adalah saluran yang terdapat di dalam penis. Uretra merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi. Uretra terdapat di dalam penis. Saluran ini mempunyai dua fungsi, yaitu : (1) sebagai alat pengeluaran, yaitu saluran untuk membuang urine keluar tubuh serta (2) sebagai saluran kelamin, yaitu sebagai saluran semen dari kantong mani.

2). Alat Reproduksi Betina

a. Alat Kelamin Dalam





1. Ovarium

Ovarium berfungsi ganda yaitu sebagai alat tubuh yang memproduksi sel kela­min betina yaitu ovum dan hormon-hormon kelamin betina yaitu estrogen dan progesteron. Ovarium merupakan organ reproduksi primer yang berfungsi menghasilkan hormon yaitu hormon estrogen, progesteron dan relaksin. Hormon ini berperan penting pada alat-alat reproduksi untuk memelihara kebuntingan sampai melahirkan. Ovarium terletak dibagian dorsal abdomen sampai ke ginjal kira-kira daerah vertebrae lumbalis ketiga dan keempat. Tiga macam hormon yang dihasilkan oleh kelenjar ovarium :
  • Estrogen : zat yang menyebabkan birahi pada hewan betina, dan menstimulir pertumbuhan alat kelamin serta menyebabkan pertumbuhan sifat–sifat kelamin sekunder pada hewan betina.
  • Progestron : hormon yang dihasilkan korpus luteum dan memmpunyai fungsi yang berhubungan dengan pertumbuhan sel – sel endometrium sebelum dan selama hewan bunting. Bersama dengan prolaktin menyebabkan perkembangan sistem alveolar dari kelenjar mammae tetapi menghambat perkembangan folikel.
  • Relaksin : hormon yang dihasilkan pada akhir masa kebuntingan menyebabkan relaksasi simphisis pubis. Hormon ini ditemukan pada ovarium, uterus dan tenunan plasenta.

2. Oviduct
Tuba fallopii terdiri dari infundibulum berikut fim­bre, ampula dan ismus. Tuba fallopii digantung oleh alat penggantung yang disebut mesosalping yang berasal dari mesovarium. Tuba fallopii berfungsi sebagai alat dan tempat memindahkan sel telur dan sperma ke tempat fertilisasi, pembuahan, kapasitasi sperma dan tempat pembelahan zigot. Cairan yang mengisi lumen tuba fallopii berasal dari sekresi sel-sel epitel. Cairan ini penting untuk memberi lingkungan yang baik pada proses pembuahan dan bagi per­kembangan sigot selama pembelahan. Dalam keadaan birahi jumlah cairan ini akan meningkat.

3. Uterus (Rahim)
Tipe uterus anjing adalah duplex, yang terdiri dari dua kornu uteri masing-masing dengan saluran vagina.. Rahim merupakan bagian caudal tuba fallopii yang terdiri dari sepasang tanduk rahim (kornua uteri), badan rahim (korpus uteri), dan leher rahim (Servik uteri). Rahim berfungsi sebagai alat dan tempat untuk transport sperma ke dalam tuba fallopii, memberi makan blastosis, pembentukan plasenta, perkembangan embrio/ fetus dan kelahiran anak.

2). Alat Kelamin Luar

Vulva merupakan ujung akhir dari alat kopulasi pada hewan betina dan bersatunya kedua labia vulva membentuk comissura dorsalis dengan bentuk bulat dan ventral yang bentuknya meruncing. Labia vulva menyerupai menyerupai labia minora pada manusia. Permukaan luar berambut dan berkelenjar. Comissura ventralis yang menggantung melalui ischium dan pada daerah tersebut ditemukan klitoris. Klitoris terletak di belahan ventral vestibulum yang pada masa embrional berasal dari penis. Klitoris mengandung jaringan erektil, epitelnya pipih banyak lapis dan kaya dengan ujung-ujung serabut saraf sensoris.


B. Siklus Seksual pada Anjing


Anjing betina memiliki dua periode birahi dalam setahun, setiap enam bulan dengan jangka waktu 2-3 minggu tiap periodenya. Birahi pertama muncul antara bulan ke 6-15 setelah kelahiran, anjing dapat dikawinkan sejak saat ini. Pada anjing ras besar munculnya birahi pertama akan lebih lama karena waktu pertumbuhan yang lebih lama Anjing betina memiliki tipe ovulasi spontan, hal ini berarti ovulasi tidak dipengaruhi kapan dikawini. Periode ini tampak setiap 6 bulan. Estrus/birahi yang terlambat atau dipercepat tidaklah aneh. Durasi dari siklus ini bervariasi tiap hewan dan bergantung pada ras, tetapi selalu diantara 150-300 hari. Siklus estrus ini terdiri atas empat fase: proestrus, estrus terdapat pada saat estrus, diestrus dan anestrus adalah fase istirahat seksual. Tingkah laku, fisiologi dan anatomi akan berbeda-beda pada tiap-tiap fase estrus.

1. Proestrus
Fase dengan lama 7-10 hari mengindikasikan awal dimulainya estrus, ciri fase ini ditemukan tetesan darah dan vulva yang menebal. Pada fase ini pejantan akan tertarik kepada betina, tetapi betina akan menolak saat dinaiki. proestrus berhubungan dengan pembentukan folikel yang distimulasi oleh hormon- hormon gonadotropin LH dan FSH, yang disekresikan oleh glandula pituitary anterior dibawah pengaruh hipotalamus GnRH. LevelFSH dan LH rendah sepanjang proestrus, meningkat saat preovulatori. FSh diperlukan untuk menstimulasi perkembangan folikel dan sekresi estradiol, tetapi sekresi FSH tidak meningkat seperti yang terlihat pada LH karena folikel menskresikan ‘inhibin’, inhibitor dari sekresi FSH. FSH juga berperan sangat penting dalam pendewasaan folikel dan menyediakan sel – sel tersebut untuk konversi pada korpus luteum sesudah ovulasi. Proses ini adalah kunci yang terpenting dalam siklus anjing betina karena ada peningkatan dalam sekresi progesterone oleh folikel sebelum ovulasi, yang muncul dan bermain di pusat dalam memacu estrus dan ovulasi. Level estrogen meningkat setelah LH mencapai level puncak, dan progesterone meningkat (biasanya 4-10 ng/mL saat ovulasi) yang menandakan fase luteal dari siklus ovarium.

2. Estrus
Estrus merupakan tahap berikutnya dari siklus estrus pada anjing betina. Estrus dapat didefinisikan sebagai transisi dari tingkah laku menarik (tetapi tidak mau menerima pejantan (karakteristik proestrus) ke tingkah laku siap untuk dinaiki dan mau menerima. Fase ini berlangsung selama kurang lebih 9 hari (dengan kisaran 4-12 hari).Secara hormonal, estrus dimulai dengan mulai naiknya hormon progresteron. Ovulasi dan masa subur terjadi pada periode ini. 

Feromon merupakan komponen penting dalam masa transisi ini. Feromon disekresikan oleh anjing betina di bawah pengaruh estradiol dan terdeteksi oleh olfaktori anjing atau organ “vemeronasal”. Feromon diproduksi di ginjal dan saluran reproduksi dan bercampur dengan urin atau ada di leleran vagina. Bersamaan dengan tanda-tanda tingkah laku, feromon meningkatkan daya tarik seksual dan menstimulasi aktifitas reproduksi pejantan. Salah satu feromon betina adalah methyl-p-hydroxybenzoate, dan jika komponen ini diterapkan ke vulva dari betina anestrus ataupun yang sudah dikebiri, tetap akan menstimulasi kegairahan. Feromon dapat juga untuk memacu estrus atau berpengaruh pada sinkronisasi estrus betina, khususnya di lingkungan kennel. Ini menunjukkan bahwa feromon dapat mempengaruhi aktivitas pusat GnRH di hipotalamus yang akan menyebabkan peningkatan aktivitas ovarium.

Pusat tingkah laku di otak pada betina muncul sebagai akibat meningkatnya kadar estradiol. Anjing betina menunjukkan ketertarikan pada pejantan dan mencoba untuk menarik perhatiannya. Dia memutar pinggang dan kaki belakang ke arahnya, merendahkan bagian belakang dan menaikkan bagian pelvis, menunjukkan bagian perineal, menggerakkan ekornya ke samping dan menonjolkan vulvanya.

3. Diestrus /Metestrus

Tahap metestrus dimulai ketika anjing betina berhenti menerima pejantan. Untuk memperbaiki fungsi endometrium lamanya fase ini adalah selama 110-140 hari. Fase ini terjadi setelah estrus, dan didefinisikan sebagai dimulainya sewaktu betina menolak untuk dikawini. Konsentrasi Progesteron meningkat di tahap ini. Periode kebuntingan masuk dalam tahap ini. Berbeda dengan mamalia yang lain, corpus luteum pada anjing tidak mengalami luteolisis (pada betina yang tidak hamil). Setelah ovulasi, corpus luteum terisi sel-sel lutein. Corpus luteum berhenti menjalankan fungsinya lebih jelas pada betina hamil karena adanya kerja prostaglandin akibat inisiasi kelahiran.

4. Anestrus
Tahap terakhir dalam siklus estrus adalah anestrus. Ini merupakan masa dimana kadar hormon progesteron dan estrogen sangat rendah walaupun akan mengalami sedikit peningkatan dan kemudian menurun kembali. Fase anestrus pada siklus estrus normalnya terjadi selama 1 – 6 bulan. Ditandai dengan inaktivitas ovarium, involusi uterus dan perbaikan endometrium. Anjing betina yang anestrus tidak tertarik ataupun menerima anjing jantan. Tidak ada leleran vulva, ukuran vulva kecil. Sitologi vaginal didominasi oleh sel parabasal kecil, terkadang disertai neutofil dan sedikit bakteri. Secara endoskopi, lipatan mukosa vagina terlihat datar, tipis dan kemerahan. Pada anestrus terjadi kemerosotan dari fungsi luteal serta penurunan sekresi prolaktin. Akhir anestrus ditandai dengan peningkatan FSH dan LH yang dipengaruhi oleh GnRH. Peningkatan FSH ini menyebabkan folikulogenesis proestrus.


C. Hormon Seksual pada Anjing


Kegiatan seksual anjing juga dipengaruhi oleh hormon yang akan mengontrol setiap aktifitas organ reproduksi, yaitu :

  1. Estrogen. Hormon ini disekresikan oleh ovarium selama estrus, berfungsi untuk menstimulus hypothalamus mensekresikan hormon lain yang akan mendorong terjadinya ovulasi.
  2. Progesteron. Hormon ini disekresikan oleh yellow body (badan kuning) pada saat terjadi ovulasi, hormon ini sangat diperlukan untuk memelihara kebuntingan.
  3. Gonadotropin. Merupakan hormon yang disekresikan oleh glandula hipofise, berupa FSH untuk menstimulus pertumbuhan folikel dan penghentian proses pematangan, LH mennyebabkan ovulasi.
  4. Oxytosin. Hormon yang disekresikan oleh glandula yang sama dengan FSH, menyebabkan dilatasi jaringan pada saat kelahiran, digunakan juga untuk memacu kelahiran.

D. Tingkah Laku Reproduksi pada Anjing

Anjing jantan mulai beranjak dewasa kelamin atau siap kawin (sexually mature) pada umur sekitar 6 bulan. Pada umur tersebut, tingkah laku seksual anjing tidak beraturan, anjing dapat kawin kapan saja dan dimana saja. Anjing betina sampai pada umur siap kawin, yakni pada umur sekitar 9 bulan, jauh lebih lama dibandingkan anjing jantan, dan secara teratur berulang setiap 6 bulan sesudahnya. Jauh sebelum saat birahi tiba, anjing betina telah menarik perhatian anjing-anjing jantan. Pada saat ini alat kelamin betina telah menunjukkan tanda kemerahan dan pembengkakan vulva, keluarnya sekreta dari alat kelamin. Pada saat ini telah mau didekati anjing jantan tetapi tidak bersedia untuk kopulasi. Periode ini dikenal dengan periode proestrus yang lamanya dapat terjadi 7–9 hari kemudian disusul dengan periode birahi yang sejati, anjing betina telah bersedia berkopulasi lamanya antara 5–12 hari. Selama proestrus, vulva mengalami pembengkakan yang cukup besar dan terjadi peningkatan aliran darah.

Masa birahi pertama anjing betina biasanya jarang diketahui karena gejalanya tidak begitu jelas, sehingga sering betina menjadi bunting tanpa diketahui oleh pemiliknya. Pada masa birahi ke dua dapat terlihat jelas saat genitalianya mengeluarkan aroma khas diiringi dengan pengeluaran darah yang makin lama semakin banyak. Ovulasi anjing secara spontan selama setelah 3-4 hari gejalah birahi muncul.

Anjing betina memperlihatkan suatu posisi khas dengan punggung yang direntangkan dan ekor diangkat ke satu arah saja. Anjing betina memperlihatkan posisi tersebut pada periode akhir proestrus. Kopulasi pada anjing juga sangat khas, setelah menaiki betina maka pejantan ini akan mengadakan gerakan-gerakan penetrasi dan saat itu pada pangkal penis membesar menyerupai balon (baculum) sehingga dapat menyumbat alat kelamin betina. Vulva betina juga mengadakan penjepitan-penjepitan sebagai akibat dari spincter vulva yang kontraksi sehingga penis tidak dapat terlepas dari vulva. Pejantan kemudian berusaha melepaskan diri dan mengadakan gerakan ke samping, belakang dan turun dari tubuh betina. Pada periode berikut pejantan akan berusaha menaiki betina lagi sehingga dari gerakan tersebut mengakibatkan penis pejantan dapat lepas dari alat kelamin betina.

Anjing mempunyai tiga fraksi dalam proses ejakulasi, yaitu :
  1. Fraksi pertama ketika anjing pertama naik dan menggerak-gerakan ke depan dan belakang. Cairan ejakulasi yang dihasilkan sebanyak 1 ml yang terdiri dari cairan asesoris dan sedikit spermatozoa.
  2. Fraksi ke dua ketika pejantan mengadakan gerakan ke samping dan menghasilkan cairan ejakulasi sebanyak 1 ml yang terdiri sebagian besar sel spermatozoa.
  3. Fraksi ke tiga ketika pejantan mengadakan gerakan menaiki kembali betina dan menghasilkan cairan ejakulasi sebanyak 5 ml yang terdiri sebagian besar dari cairan asesoris (kelenjar prostate). Seluruh proses kopulasi memerlukan waktu antara 10 hingga 20 menit.
Proses perkawinan dari anjing ada penampakan yang cukup menarik, yaitu pada saat anjing jantan mengalami ejakulasi, penis akan tertahan di dalam vagina betina (terkunci) untuk waktu yang cukup lama sekitar 20-30 menit, dengan posisi berdiri dan saling membelakangi. Pada saat anjing dalam posisi “saling membelakangi” ini sebaiknya jangan mencoba untuk dipisahkan, karena justru akan terjadi kelukaan pada alat kelamin dari anjing jantan maupun anjing betina.

Perkawinan dapat terjadi dalam empat hari pertama dan akan menghasilkan konsepsi yang tinggi jika perkawinan dilakukan pada hari pertama dan ke tiga. Pada anjing yang selama periode birahi tidak melakukan perkawinan dapat mengakibatkan kebuntingan semu (pseudo pregnant). Gejala bunting semu antara lain korpus luteum berkembang, rahim bertambah besar, kelenjar ambing mengalami prolifersi tetapi perut tidak membesar seperti hewan bunting.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Reproduksi Anjing. http://petkartini.comxa.com/news/?read=397
Anonim. 2011. Mengenal Reproduksi Anjing. http://www.anjingdankucing.com/news/?read=79

By Muliana G. H., S. Pd - 2015, Mata Kuliah Bentuk Fisik Reproduksi Vertebrata
Liburan Dzargon.

0 Response to "Reproduksi Anjing"

Posting Komentar