Inovasi Siswa


1. Pengertian Inovasi Pendidikan
Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaharuan dan perbuahan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju ke arah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan bererncana (tidak secara kebetulan saja) (Ihsan, 2011). Inovasi seringkali diartikan pembaharuan, penemuan dan ada yang mengaitkan dengan modernisasi (Ardiansyah, 2011).
Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discoveri adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery (Ardiansyah, 2011).
Inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Inovasi di bidang pendidikan adalah usaha mengadakan perubahan dengan tujuan untuk memperoleh hal yang lebih baik dalam bidang pendidikan (Sa’ud, 2009). Pembaharuan (inovasi) di bidang pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan (Fuad, 2011).

2. Karakteristik Inovasi Pendidikan
Cepat lambatnya penerimaan inovasi oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Adapun karakteristik inovasi pendidikan diantaranya :
1.    Keuntungan relative, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonomi, faktor social (gengsi), kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponene yang sangat penting.
2.    Kompatibel, ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.
3.    Kompleksitas, ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedang inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebarannya.
4.    Trialabilitas, ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih dulu.
5.    Dapat diamati, ialah mudah tidaknya diamati suatu inovasi.. inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan inovasi yang sukar diamati hasilnya akan lama diterima oleh masyarakat (Sa’ud, 2009).

3. Tujuan Inovasi Pendidikan
Menurut Santoso (dalam Ihsan, 2011), tujuan utama inovasi adalah meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relefansi, kualitas dan efektivitas; sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakan dan pembangunan), dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya. Menurut Hasbullah (dalam Ardiansyah, 2011), tujuan utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosesdur organisasi. Tujuan lain dilakukannya inovasi pendidikan adalah untuk memecahkan masalah pendidikan dan menyongsong ke arah perkembangan dunia kependidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan lebih pesat (Ardiansyah, 2011).
Arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1. Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan-kemajuan tersebut.
2. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luas sekolah bagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, dan Perguruan Tinggi (Ardiansyah, 2011).
Maksud diadakannya inovasi pendidikan ini ialah sebagai pembaharuan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan dan sebagai upaya untuk memperkembangkan pendekatan yang lebih efektif dan ekonomi (Ardiansyah, 2011).

4. Kendala Inovasi Pendidikan
Menurut Sanjaya (2011), kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum antara lain adalah:
1) Perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi.
2) Konflik dan motivasi yang kurang sehat.
3) Lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan.
4) Keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi
5)  Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi.
Untuk menghindari masalah-masalah tersebut di atas, dan agar mau berubah terutama sikap dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan dikembangkan, sehinga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat berhasil dengan baik, maka guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya harus dilibatkan (Sanjaya, 2011).





















Bab III
Pendidikan, Siswa, dan Konsep Inovasi Siswa
1. Pendidikan dan Inovasi
Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia. Perencanaan pendidikan harus dibuat sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh dari suatu proses pengambilan keputusan dan implementasi, jika ingin memperoleh hasil positif (Sa’ud dan Abin,2007). Pendidikan adalah suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan (Sa’ud, 2009). Salah satu komponen penting pendidikan dan menjadi sasaran utama inovasi pendidikan adalah siswa.

2. Siswa dan Inovasi
Inovasi siswa, yaitu pembaruan, dimana sasaran inovasi adalah siswa. Inovasi siswa yang mampu menghasilkan siswa yang inovatif, tidak lepas dari unsur kreatifitas siswa, dan motivasi siswa untuk membangun dan membangkitkan kompetensi siswa itu sendiri.
Motivasi merupakan konsep hipotesis untuk suatu kegiatan yang dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku seseorang untuk mengubah situasi yang tidak memuaskan atau tidak menyenangkan (Uno, 2008). Kreatif merupakan proses berpikir untuk menghasilkan sesuatu (Uno dan Masri, 2009). Kreativitas adalah ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif mencerminkan prinsinalitas individu siswa. Dari ungkapan pribadi yang inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produkyang inovatif (Munandar, 2004). Banyak orang percaya bahwa kreativitas bisa diasah dan bisa berkembang karena pengalaman, namun sebenarnya tidak ada metode yang diakui secara ilmiah dapat memunculkan kreativitas tersebut (Uno dan Masri, 2009).
Belajar kreatif telah menjadi bagian penting dalam wacana peningkatan mutu pembelajaran. Hingga kini kreativitas telah diterima baik sebagai kompetensi yang melekat pada proses dan hasil belajar. Inti kreativitas adalah menghasilkan sesuatu yang lebih baik atau sesuatu yang baru. Implementasi belajar kegiatan sebagai proses kreatif dan menetapkan target mutu produk belajar sebagai produk kreatif yang inovatif (Munandar, 2011).
Keterlibatan sebagai bagian dari sebuah tim dalam sebuah proyek penelitian yang sedang berlangsung membuka kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi "bagaimana mengatasi rintangan dan memecahkan masalah yang dihadapi selama proses melakukan penelitian dan untuk membenarkan pilihan mereka dengan menggunakan prinsip-prinsip yang mendasari metodologi penelitian empiris" (Gaztambide, 2011).

3. Konsep Inovasi Siswa

a. Inovasi siswa yang telah dilakukan :
Beberapa inovasi siswa yang telah dilakukan diantaranya kelas akselerasi, olimpiade, pendidikan karakter, kelas ekstrakulikuler wajib, bakat dan minat, dan sebagainya.

a.1 Kelas Akselerasi
Program siswa berbakat adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata untuk dapat menyelesaikan program pendidikannya dalam waktu lebih cepat dari siswa lainnya. Program pendidikan yang dimaksud diatas disebut Program Percepatan Belajar atau Program Siswa berbakat akademik dimana siswa SMA dapat menyelesaikan pendidikannya dalam waktu dua tahun (Bagas, 2011). Landasan hukum untuk melaksanakan program siswa berbakat adalah Undang-undang no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut : Pasal 5 ayat 4 dan Pasal 12 ayat 1.
Penyelenggaraan Program Siswa berbakat akademik mempunyai tujuan:
·       Memberi pelayanan khusus kepada siswa yang mempunyai bakat dan kecerdasan istimewa.
·       Memberi kesempatan kepada siswa yang ingin menyelesaikan program lebih cepat di Sekolah Menengah Atas (SMA).
·       Mengembangkan kemampuan berfikir dan bernalar siswa lebih komprehensif dan optimal.
·       Mengembangkan kreativitas secara optimal.

Indikator keberhasilan siswa-siswa berbakat akademik adalah :
·       Memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi untuk masuk ke perguruan tinggi favorit.
·       Munculnya minat dan bakat siswa secara optimal.

Siswa-siswa berbakat yang dihasilkan lewat program siswa berbakat akademik diharapkan memiliki :
·       Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
·       Motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan.
·       Gemar membaca dan meneliti
·       Disiplin yang tinggi
·       Memiliki jiwa seni yang tinggi
Kelemahan dari kelas akselerasi ini adalah siswanya juga kadang-kadang kurang bersosialisasi dengan teman-teman yang lainnya dan waktu bermain mereka kurang. Kelemahan lainnya, pendidikan nilai sulit dipercepat. Dalam perdebatan persoalan pendidikan nasional akhir-akhir ini banyak dipersoalkan kurangnya pendidikan nilai di sekolah-sekolah dari SD sampai SMU. Disadari, kebanyakan sekolah terlalu menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain seperti emosionalitas, religiositas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, afektivitas, dll.
a.2 Olimpiade
Olimpiade merupakan salah satu inovasi pendidikan yang mengembangkan kompetensi belajar kreatif intelektual siswa di berbagai bidang, seperti bidang biologi, fisika, kimia, matematika, komputer, astronomi, geografi.

a.3 Pendidikan Karakter
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. (Sudrajat, 2011).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah (Sudrajat, 2011). Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif (Suyanto, 2011).
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan (Suyanto, 2011).

a.4 Kelas Ekstrakulikuler Wajib
Kelas ekstrakulikuler wajib merupakan suatu inovasi baru bagi siswa, dalam rangka mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing individu siswa. Misalnya, kelas ekstrakulikuler wajib yang telah dilakukan oleh beberapa sekolah negeri di Makassar. Kelas tersebut diantaranya kelas seni (mengembangkan kompetensi seni siswa, seperti menari, menyanyi, teater, parody), kelas astronomi, kelas olahraga (softbol, basket,). Pengadaan kelas ekstrakulikuler seyogyanya dapat meningkatkan kompetensi dan bakat siswa.

a.5 Pengembangan Minat Bakat
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Menurut Holland (dalam Kusmawati, 2011), minat adalah aktivitas atau tugas-tugas yang membangkitkan perasaan ingin tahu, perhatian, dan memberi kesenangan atau kenikmatan. Minat dapat menjadi indikator dari kekuatan seseorang di area tertentu di mana dia akan termotivasi untuk mempelajarinya dan menunjukkan kinerja yang tinggi. Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni (Kusmawati, 2011).
PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) adalah sistem penerimaan mahasiswa baru yang diselenggarakan oleh suatu Universitas atau Institut secara mandiri. PMDK merupakan salah satu inovasi siswa, yang dapat memicu belajar siswa agar bisa melanjutkan pendidikan doi Universitas sesuai dengan minat dan bakat. Dalam sistem ini setiap peserta hanya dapat memilih program-program studi yang ada di Universitas atau Institut tersebut. Sesuai dengan namanya PMDK merupakan penelusuran minat calon mahasiswa, bakatnya, juga kemampuannya.
a.6 Sekolah Piagam
Sekolah piagam diberikan otonomi dalam hal kurikulum tata kelola dan pedagogi, serta bertanggung jawab secara teratur untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan keterampilan prestasi. Kontrak ini diberikan untuk periode terbatas, biasanya 3 tahun, dan sekolah-sekolah piagam yang menunjukkan peningkatan pengetahuan dan pencapaian keterampilan yang
siswa dipertimbangkan untuk perpanjangan kontrak mereka. Mereka yang tidak memenuhi
harapan piagam selama periode kontrak ditutup. Mengingat persyaratan dari kontrak, sekolah piagam biasanya tidak dinemukan dalam struktur permanen dan cukup sering beroperasi di tempat umum yang dikenali, seperti etalase, pusat masyarakat, dan gereja. Gerakan sekolah piagam dikembangkan dengan baik, sehingga membuat orangtua anak menjadikannya sebagai pilihan sekolah untuk anak-anak mereka. Sebelum sekolah piagam ada, percobaan di berbagai sekolah alternatif ke sekolah umum, sekolah magnet juga dilakukan (Bartell, 2008).

b. Inovasi Siswa yang Akan dilakukan

Rumah Profesor Cilik
Rumah professor cilik merupakan salah satu inovasi siswa pendidikan informal. Dimana, didirikannya rumah professor cilik ini dalam rangka mengembangkan kompetensi belajar siswa, minat, bakat, kreatifitas siswa. Rumah professor cilik merupakan jalur pendidikan informal, dimana siswa yang memiliki minat dan keinginan untuk belajar, diluar sekolah dalam rangka pengembangan kompetensi siswa, intelektual siswa. Rumah professor cilik adalah suatu wadah pembelajaran diluar sekolah yang dilaksanakan diluar jam pelajaran sekolah, dan di luar lingkungan sekolah. Misalnya, hari minggu, khusus untuk kegiatan belajar di rumah professor cilik.  



Oleh : Muliana G. H., S. Pd - 2015, Mata Kuliah Inovasi Pendidikan

0 Response to "Inovasi Siswa"

Poskan Komentar