Pertumbuhan & Perkembangan pada Tumbuhan


Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan

Biologimu.com. Tumbuh dan berkembang merupakan salah satu ciri mahluk hidup. Pertumuhan dan 

perkebangan berjalan seiring. Pertumbuhan adalah proses bertambahanya volume yang irreversible (tidak dapat balik) karena adanya pembelahan mitosis atau pembelahan sel; dapat pula di sebabkan oleh keduanya. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif, contohnya pertumbuhan batang tanaman dapat diukur dengan busur pertumbuhan atau auksanometer. Perkembangan adalah terspesialisasinya sel-sel menjadi struktur dan fungsi tertentu. Perkembang biakan tidak dapat dinyatakan dengan ukuran, tetapi dapat dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat kedewasaan.




Perkembangan awal suatu tumbuhan secara garis besar melalui 3 tahap, yaitu pembelahan sel, morfogenesis, dan diferensiasi seluler.

Pembelahan Sel - Zigot di dalam biji tumbuhan mengalami pembelahan sel mitosis membentuk jaringan embrional.  Morfogenesis (perkebangan bentuk) - Embrio yang terbentuk di dalam biji memiliki kotilodeon dan akar serta tunas rudimenter. Sesudah biji berkecambah, akar dan tunas rudimenter tersebut akan berkembang membentuk sistem akar dan tunas tumbuhan. Proses ini dinamakan morfogenesis.  Diferensiasi Seluler - Jaringan embrional tersu berkembang menjadi struktur dengan fungsi khusus yang kaan dimiliki pada saat dewasa. Pada tahap ini, gen menentukan sifat tumbuha. Sel-sel yang terdeferensiasi akan membentuk jaringan. Diferensiasi adalah proses yang menjadikan sel memiliki fungsi-fungsi biokimia dan morfologi khusus yan sebelumnya tidak dimilikinya. Proses pembentukn jaringan permanen pada tumbuhan (epidermis,korteks, dan stele) yang berasal dari jarinan embrional di sebut spesialisasi.

Jika sistem organ telah terbentuk, organisme akan mengalami pertambahan volume. Hal ini terjadi karena sel terus mengadakan mitosis dan sel mengambil bahan-bahan yang di perlukan dari lingkungan. Peristiwa pertambahan volume ini di sebut pertumbuhan. Proses pertumbuhan dan perkembangan di tentukan oleh interaksi anatra faktor internal (gen dan hormon) dan faktor lingkungan , misalnya suhu, oksigen, cahaya, dan kelembapan. Gen menentukan sintesis rotein pada saat diferensiasi, sedangkan lingkungan yang cocok akan lebih mendukung pertumbuhan dan perkembangan.

A.  Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan

Tumbuhan betambah tinggi dan besar di sebabkan oleh dua hal berikut ;

  1. Pertambahan jumlah sel sebagai hasil pembelahan mitosis pada meristem (titik tumbuh) di titik tumbuh primer dan sekunder.
  2. Pertambahan komponen-komponen seluler dan adanya diferensiasi sel. Misalnya penyerapan irk e dalam vakuola yang menyebabkan sel membesar serta terbentuknya jaringan, prgan, dan individu melalui proses diferensiasi sel dan/ atau spesialisasi.

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dimulai dengan perekcambahan biji. Kemudian, kecambah berkembang mnjadi tumbuhan kecil yang sempurna, yang kemudian tumbuh membesar. Setelah mencapai masa tertentu, tumbuhan akan berbungan dan menghasilkan biji.

Berdasarkan lama hidupnya, tumbuhan dibagi mnjadi 3, yaitu tumbuhan semusim/tahunan (annual), dwi tahunan (biennial), dan menahun (perennial). Tumbuha semusim adalah tumbuhan yang masa hidupnya krang dari satu tahun atau maksimal satu tahun, conothnya palawija. Tumbuhan dwi tahun adalah tumbuhan yang mulai tumbuh sampai menghasilkan biji memerlukan dua tahun, contohnya bit. Tumbuhan menhun adalah tumbuhan yang umurnya ratusan tahun, contohnya pohon-pohon berkayu dan Zingiberaceae. Berikut akan dibahas fase pertumbuhan tumbuhan.

1. Perkecambahan
Pertumbuhan dan perkembangn tumbuhan biji di mulai dengan perkecambahan. Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil dari dalam biji).

A.  Proses perkecambahan


Perkecambahan melibatkan proses fisika maupun kimiawi.

  1. Proses FisikaProses fisika terjadi ketika biji menyerap air (imibisi) akibat dari potensial air rendah pada biji yang kering.
  2. Proses KimiaDengan masuknya air, biji mengambang dan kulit biji akan pecah. Air yang masuk mengaktifkan embrio untuk melepaskan hormon giberelin (GA). Hormon ini mendorong aleuron (lapisan tipis bagian luar endosperma) untuk mensintesis dan mengeluarkan enzim.
  3. Enzim - Enzim bekerja dengan menghidrolisis cadangan makana yang terdapt dalam kotilodeon dan endosperma. Proses ini menghasilkan molekul kecil yang larut dalam air, misalnya enzim amilase menghasilkanpati dalam endosperma menjadi gula. Selanjutnya, gula dan zat-zat lainnya diserap dari endosperma oleh kotiledon selama pertumbuha embrio menjadi bibit tanaman.

B. Macam Perkecambahan

Perkecambahan biji dapat dibedakan menjadi epigeal dan hypogeal.
  1. Epigeal - Perkecabahan epigeal adalah apabila terjadi pembentngn ruas batang di bawah daun lembaga dan hipokotil sehingga mengkibatkan daun lembaga dna kotiledon terperangkat ke atas tanah, misanya pada kacang hijau (Phaseolus Radiatus).
  2. Hipogeal - Perkecambahan hypogeal adalah apabila terjadi pembetangan ruas batang terasas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum Sativum). Perkecambahan hanya terjadi jika syarat-syarat yang dibutuhkan terpenuhi, yaitu air yang cukup, suhu yang sesuai, udar yang cukup, dan cahaya matahari yang optimal. Jika syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, maka biji akan tetap dalam keadaan itud(dorman). Lamanya biji dorman bertahan hidup dan mampu berkecambah sangat bervariasi tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan. Kecepatan tumbuh pada baian kecambah berbeda-beda. Pada umumnya daerah diujung kecambah memanjang leih cepat.

C. Pertumbuhan Akar

Irisan membujur akar muda menujukkan adanya empat daerah pertumbuhan, yaitu tudung akar, daerah pembelahan sel (meristem), derah pemanjangan sel, dan daerah pemasakan (diferensiasi).
1)   Tudung akar
Tudng akar merupakan daerah akar yang paling ujung. Funsi tudung akar adalah mensekresikan cairan polisakarida untuk melumasi tanah di sekitar titik tumbuh aar. Cairan ini menybabkan tanah menjadi lunak dan mudah ditembus akar. Selain itu, tudung akar berfungsi melindungi daerah meristem akar.
2)   Daerah mersitem
Daerah meristem terletak di belakang tudung akar, yang meliputi meristem apkal dan derivatnya. Meristem apikal merupakan daerha pusat pembelah sel yang menghasilkan sel-sel meristem primer untuk menggantinkan sel-sel di tung akar yang tanggal.
3)   Daerah pemanjangan
Daerha pemanjangan sel terletak di belakang daerah meristem. Sel-sel I daerah pemanjangan membelah menjadi lebih lamabat dari pada sel meristem. Sel-selnya rlatif lebih tahan terhadap kerusakan yang di sebabkan oleh radiasi dan bahan kimia beracun dibandingkan derah lain. Sel di daerha pemanajngan ini juga berfungsi sebagai penyimpan makanan. Sel-sel memanjang lebih dari 9 kali panjang sel mula-mula. Pemanjangan sel berperan penting untuk menekan ujung akar termasuk meristem, agar akar memanjang.
4)   Daerah Diferensiasi
Daerah diferensiasi terletak di bagian akhir akar, bercampur dengan daerah pemanjangan. Di daerah diferensiasi, sel-sel dari dari daerah pemanjangan mulai terspesialisasi struktur dan fungsinya.
Di daerah diferensiasi terdapat3 sistem jaringan yang dihasilkan dari sel-sel merstem, yaitu sebagai berikut :
  1. Protoderma, merupakan lapisan terluar mersitem primer yang akan menjadi epidermis.
  2. Meristem Dasar, merupakan lapisan kedua yang kan berkembang menjadi sistem jaringan dasar. Jaringan ini mengisi daerah lapisan korteks paa akar diantara stele dan epidermis.
  3. Prokambium, merupakan lapisan pusat (dalam) yang akan berkembang menjadi silinder vaskuler pusat (stele), yaitu xylem dan floem   

Pertumbuhan dan perkembangan Batang

Pertumbuhan dan perkembangan batang meliputi pemanjangan dan diferensiasi. Pada tumbuhan dikotil terjadi pertumbuhan sekunder, yaitu pada kambiu. Jaringan kambium dapat membelah secara mitosis. Sel-sel cambium mebelah ke rah dalam membentuk xylem dan kearah lur membentuk floem. Sedangkan jaringan kmbium tetap dipertahankan keberadaanya.

Xylem dan floem yang terbentuk dari aktifitas cambium disebut xylem sekunder  dan floem sekunder yang menyebabkan diameter batang atau akar dalam jauh lebih besar, sehingga xylem (kayu) yan dihasilkan juga tebal.

Pembentukan xilem dan floem sekunder di pengaruhi oleh musim dan menimbulkan adanya lingkaran tahunan. Di aderah empat musim, pertumbuhan terjadi pada musim semi. Persitiwa dormansi terjadi pada musim dingin dan musim gugur. Sedangkan di musim panas, pembuluh xilem berukuran mengecil.

Daerah pertumbuhan (titik tumbuh) pada batang terletak diujung batang dengna pembagian daerh yang berbeda-beda. Meristem apikal (titik tumbuh) btang merupkan massa berbentuk kubah yang di bentuk oleh sel-selyang membelah pada ujung tunas tau sering di sebut kuncup. Seperti pada akar, meristem apical batang, prokambium, dan meristem dasar akan berdeferensiasi menajdi 3 bagian sistem jaringan. Daun muncul sebagai tonjolan kecil di sisi-sisi meristem apikal dan disebut primordium. Tunas samping (aksilar) tumbuh dari sel-sel meristem dari kanan kiri meristem apikal di dasar primordium daun.  Tunas samping ini berpotensi membentuk cabang batang.

Di dalam kuncup, ruas batang dan primordium daun berdesakan karena jarak internodus dan antar ruasnya sangat pendek. Sebagian besar pemanjang batangdiotil terjadi melalui pertumbuhan antarruas yang lebih tua di bawah ujung batang. Pertumbuhan, pembelahan, an pemanjngan sel terjadi di dalam internodus. Pada rumput, internodus terus menerus memanjang di sepanjang batang selama periode pemanjangan. Hal itu dimungkinkan karena rumput mempunyai daerah yang di sebut meristem interkalar di dasar tiap-tiap internodusnya.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dibedakan atas faktor luar dan faktor dalam.


1. Faktor Luar
Faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan adalah makanan, air, suhu, kelembapan, oksigen, dan cahaya.

a. Makanan
Makanan adalah sumber energi dan sumber materi untuk menyintesis berbagai komponen sel. Nutrient yang di butuhkan utmbuhan bukan hanya karbon dioksida dan ir, tetapi juga unsure-unsur lainnya. Karbon dioksida di adsopsi oleh daun, sedangkan arid an mineral di serap oleh akar.

Metode kultur hidroponikberhasil mengungkap unsur mineral yang dibutuhkan tumbuhan. Unsure mineral yang dibutuhkan tumbuhan daam jumlah besar di sebut makroelemen. Ada 9 makroelemen atau bahan organik, yaitu karbon, oksigen, hidrogen, fosfor,nitrogen, sulfur, kalsium, kalium dan magnesium. Usnur mineral yang dibutuhkan dalam jumlah kecil di sebut miroelemen. Ada 8 mikroelemen, yaitu zat besi (Fe), klorin, tembaga, magnesium, seng, molybdenum, boron, dan nikel. Mikroelemen berfungsi sebagai kofaktor reaksi enzimatik dalam tumbuhan.

Jika suatau tumbuhan kekurangan sbagi nutrisi, makan tumbuhan itu di sebut mengalami defisiensi. Defisiensi mengakibatkan pertumbuhan terganggu dan jika berkelanjutan akan mengakibatkan kematian. Misalnya, kekurangan nitrogen yang merupakan usnur pembentuk klorofil akan mengakibatkan daun mnguning atau klorosis.

Salah satu cara untuk member nutrisi mineral yang optimal ialah dengan menumbuhkan tumbuhan secara hiroponik dalam cairan nutrisi yang komposisi mineralnya dapat diramu dengan tepat.
Pada umumnya, tumbuhan mendapatkan mineral dari dalam tanah. Akan tetap ada juga tumbuhan yang menapatkan nutrisinya dari serangga yang terjerat di perangkapnya. Tumbuhan yang mencukupi kebutuhan nutrisinya dengan cara tersebut di sebut insektivor, misalnya kantong semar (Nephentes).   
b. Air
tanpa air, tumbuhan tidak akan tumbuh. Air termasuk senyawa utama yang sangat di butuhkan tumbuhan. Air berfungsi antara lain untuk fotosintesis, mengakibatkan reaksi enzimatik, menjaga kelembapan, dan membantu perkecambahan biji . tanpa air rekasi kimia I dalam sel tidak dapat berlangsung sehingga mengakibatkan tumbuhan mati.

c. Suhu
pada umumnya, tumbuhan membuthkan suhu tertentu untuk tumbuh dan berkembang dngan baik, yang di sebut suhu optimum. Suhu paling rendah yang memungkinan tumbuhan untu tumbuh di sebut suhu minimum, sedangkan suhu paling tinggi yang memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh di sebut suhu maksimum.Setiap tumbuhan mempunyai suhu minimu, optimum, dan maksimum yang berbeda-beda. Keberadaan suhu ini erat hubungannya dengan enzim. Jia suhu terlalu tinggi atau teralu rendah, enzim akan rusak.

d. Kelembaan
pengaruh kelembapan udara berbeda-beda terhadap berbagai tumbuhan, tanah dan udara yang lembap berpengaruh bai bagi pertumbuhan. Kondisi lembap menyebabkan banyak air di serap tumbuhan dan sedikt yang diuapkan. Kondisi tersebut mendukung aktifitas pemanjangan sel-sel. Dengan demikian, sl-sl lebih cepat mencapai ukuran maksimum sehingga tumbuhan bertambaha besar.

e. Cahaya
tumbuhan membutuhkan cahaya. Banyaknya cahay yang di butuhkan tidak selalu sama pada setiap umbuhan. Umumnya, cahaya menghambat pertumbuhan meninggi karena cahaya dapat menguraian ausin (hormon pertumbuhan). Hal ini dapat kita lihat pada pertumbuhan tumbuhan yang lebih tinggi pada tmpat yang gelap di bandingkan tempat yang terang. Pertumbuhan yan cepat di tempat yang gelap di sebut etiolasi.

Cahaya juga merangsang pembungaan tumbuhan tertentu. Ada tumbuhna yang dapat berbungan pada hari pendek (lamanya penyinartan matahari llebih pendek dari pada waktu gelapnya). Ada pula tumbuhna yang berbungan pada hari panjang (lamanya penyinaran lebih panjang dari pada waktu gelapnya). Hal tersebut ada hubungannya dengan hormon Fitokrom dalam tumbuhan.

Fitokrom adalah protein dengan kromatofora yang mirip fikosianin. Fitokrom mmpunyai dua macam struktur yang reversibel yaitu dapat mengabsorpsi cahaya merah (660 nm) disngkat Pr dan yang dapat yang dapat mengabsorpsi cahaya merah jauh, far red (730 nm) disngkat Pfr.
         730 nm
Pr                    Pfr
        660 nm
Kedua struktur berubah karena cahaya. Pada keadaan gelap, perubahan secara perlahan-lahan terjadi dari Pfr menjai Pr. Pfr merupakan bentu aktif. Pada tanaman hari pendek, Pfr menghambta pembungaan dan Pfr ini jumlahnya menyusut pada waktu periode gelap. Pada tanaman hari panjang, Pfr merangsang pembungaan.

Selain mempunyai pengaruh terhadap pembungaan, fitokrom berpengaruh terhapa etiolasi, pemanjngan batang, pelebaran daun, dan perkecambahan. Pelebaran daun terjadi apabila fitorkrom berubah dari Pr menjadi Pfr dan memerlukan cahaya.


2. Faktor Dalam

Pertumbuhan juga dipengaruhi faktor-faktor dalam, misalnya gen dan hormon.

a. Gen
di dalam gen terandung faktor-faktor sifat keturunana yang dapat diturunkan pada keturunannya. Selain itu, gen juga berfungsi untuk mengontrol rekasi kimia di dalam sel, misalnya sintesis protein. Pembentukan protein yang meruapakan bagian dasar penyususn tumbuh tumbuhan, dikendalikan oleh gen secara langsun. Dengan kata lain, gen dapat mengatur pola pertumbuhan melalui sifat yang di turunkan dan sintesisi-sintesis yang dikendalikannya.

b. Hormon
Hormon ialah regulator pertumbuhan yang sangat esensial yang di buat pada suatu bagian tumbuhan, sedangkan respons pertumbuhan terhadap hormon terjadi di bagian tumbuhan lainnya, misalnya di akar, batang, atau daun. Hormon tumbuhan (fitohormon) yang telah di kenal antara lain auksin, sitokinin, giberelin, Gas etielen, asam abisat, asam traumalin, kalin, dan sebagainya.

a.  Auksin
Akuksin adalah hormon pertumbuhna yang pertamakali di temukan. Salah satu jenis auksin yan telah dapat diekstraksi dari tumbuhan adalah asam indol asetat atau IAA. Auksin ditemukan oleh Frist Went, ahli Botani Belanda (1863-1935), pada tahun 1928. Dalilnya yang terkenal adalah “tak mungkin terjadi pertumbuhan tanpa adanya zat tumbuh”.

Tempat sintesis auksin ilah meristem apikal, misalnya ujung batnga (tunas), daun muda, dan kuncup bunga. Semula, auksin auksin di ketahui terdapat di ujung kecambah gandum Avena Sativa. Akan tetapi, ternyata diujung-ujung tumbuhan lain juga terdapat zat yang fungsinya sama dengan auksin.
Ada beberapa jenis auksin, antara lain auksin a dan b. auksin a serupa dengan auksin b, hanya berbeda dalam kandungan airnya. Auksin a memiliki satu mol lebih banyak. Selain itu, ada zat yang disebut heteroauksin yang kemudian di ketahui sebagai asam indol asetat (IAA). Semakin jauh dari ujung tumbuhan, konsentrasi auksin semakin menyusut.

a). Pengaruh auksin terhadap pembentukan akar pada stek
ada tumbuhan yang mudah dibiakkan dengan setek, namun adapula yang sama sekali tidak dapat dibiakkan dengan setek. Untuk menghasilkan akar, setek harus mempunyai tunas karena tunas dapat menghasilkan uksin yang diedarkan ke daerah di bawahnya, yaitu ke dasar pemotongan setek tersebut.

Setek tanpa tunas dapat membentuk akar, asalkan pada setek tersebut diberi auksin/ IAA. Pada tahun tiga puluhan, Thiman dan Went dapat membuktikan bahwa pemberian auksin dengan dosis tertentu pada setek akan mendorong pembentukan akar.

b).  Pengaruh auksin terhadap batang
Tumbuhan yang terkena cahaya dari satu arah akan melengkung kearah cahaya, kejadian ini di sebut fototropisme. Membngkoknya batang tumbuhan ke arah datangnya cahaya di sebabkan karena adanya perbendaan konsentrasi auksin. Pada daerah gelap, konsentrasi auksin lebih tinggi sehingga sel akan memanjang lebih cepat di bandingkan kecepatan pemanjangan sel di daerah yang lebih terang. Oleh karenanya pemanjangan yang tidak seimbang dari kedua sisi batang ini , batang menjadi bengkok.

Went dapat menunjukkan bahwa penyinaran dari satu sisi pada ujung koleoptil menyebabkan terjadinya transport auksin dari sisi yang terkena sinar kesisi yang gelap.

c). Pengaruh auksin terhadap daun
Apabila auksin bekerja sama dengan gas etilan, maka akan terbentuk daerah absisi yang menyebabkan daun gugur. Daun yang tua menghasilkan lebih sedikit auksin. Penurunan konsentrasi auksin menyebabkan sel-sel di lapisan absisi lebih sensitive terhadap etilen . pengaruh etilen di lapisan absisi adalah menyebabkan sel-sel daun memproduksi enzim yang dapat mencerna selulosa dan komponen dinding sel lain. Akibatnya, erjadi pemisahan pada daerah absisi, dan akhirnya duan terlepas dari batang. Daerah absisi ini terletak antara batang dan pangkal tangki daun.

d). Pengaruh auksin terhadap pembentukan buah
Beberapa spesies tumbuhan dapat membentuk buah tanpa mengalami penyerbukan, tetapi dengan di beru laruitan IAA atau pasta yang berisi IAA pada kepala putik. IAA ini menyebabkan bakal buah tumbuh menjadi buah yng tidak mengandung biji (partenokarpi). Penelitian ini dilakukan oleh Gutafson pada tahun 1936 terhadap buah tomat dan apel.

b. Sitokinin
Sitoinin adalah hormon yang bersama dengan auksin mempengaruhi pembelahan sel (sitokinesis). Sitokinin diperoleh dari ragi santan kelapa, ekstrak buah apel, dan dari jaringan tumbuhan yang aktif membelah. Sitokinin yang pertama kali di temukan ialah kinetin. Sitokinin mempengaruhi berbagai proses pertumbuhan. Ada bukti bahwa IAA berpengaruh terhadap sintesisDNA dan mitosis, sedangkan sitokinesis diatur oleh kinetin atau sitokinin.

Eksperimen kultur jaringan dapat membuktikan bahwa  IAA dan kinetin mempunyai efek yang berbeda-beda. Jika dalam medium tempat pemeliharaan jaringantumbuhan di berikan IAA dan kietin dengan perbandingan tertentu, maka akan terjadi efek pertumbuhan dan perkembangan jaringan tertentu pula. Kinetin tanpa disertai IAA tidak dapat menggiatkan pembelahan sel.

c. Giberelin
Giberelin di temukan oleh Kurosawa pada tahun1926.  Giberelin merupakan suatu zat yang diperoleh dari suatu jenis jamur yang hidup sebagai parasit pada padi di Jepang, yaitu Jamur Giberella fujikuroi. Umbuhan padi yang terserang jamur ini memperlihatkan gejala pemanjangan yang abnormal.

Percobaan pemakaian hormon giberelin telah di lakukan terhadap jagung kerdil. Ternyata, giberelin dapat menambah tinggi tumbuhan jagung tersebut. Semakin tinggi konsentrasi giberelin, semakin tinggi pula respons pertumbuhannya. Giberelin mempengaruhi pemanjangan sel maupun pembelahan pada jagung kerdil. Sedangkan pada tumbuhan jagung normal dan tumbuhan normal lainnya, pemakaian giberelin tidak memberikan respons.

Selain mempengaruhi pemanjangan batang, giberelin juga mempengaruhi perkecambahan, serta pertumbuhan dan perkembangan pada akar, daun, bunga dan buah.  

d. Asam Traumalin
Tanaman dapat atau mampu memperbaiki kerusakan atau luka yang terjadi pada tubuhnya. Kemampuan tersebut dinamakan regenerasi (restitusi) yang dipengaruhi oleh hormon luka (asam traumalin). Hormon ini pertama kali di pelajari oleh Haberland. Pada percobaan yang dilakukan, jaringan tanaman dilukai lalu di cuci bersih, ternyata bekas bidang luka tidak membentuk jaringan baru. Pada jaringan luka yang dibiarkan akan terbentuk jaringan baru di dekat luka tersebut.

e. Kalin
Hormon yang mempengaruhi pembentukan organ, misalnya :
  1. Rizokalin  : hormon yang merangsang pembentukan akar, identik dengan vitamin B
  2. Kaulokalin  : hormon yang merangsang pembentukan batang
  3. Filoalin  : hormon yang merangsang pembentukan daun
  4. Antokolin  : hormon yang merangsang pembentukan bunga
  5. Gas Etilen

Hormon gas etilen berpengaruh mendorong pemasakan buah, menyebabkan batang tumbuh menjadi tebal. Gas etilen diproduksi dijaringan buah masak, di ruas batang dan di daun tua.

g. Asam Abisat
Hormon asam abisat menghambat pertumbuhan, menutup stomata selama kekurangan air, menunda pertumbuhan (dormansi). Hormon gas etilen disintesis pada daun, batang, buah dan biji.


By Muliana G. H., S. Pd 

0 Response to "Pertumbuhan & Perkembangan pada Tumbuhan"

Posting Komentar