Pengaruh Osmotik Konsentrasi Garam Hara Terhadap Absorbsi Air dan Pertumbuhan Tanaman (Laporan)

Loading...

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap sel-sel tubuh makhluk hidup, termasuk tumbuhan memiliki ari yang berfungsi sebagai media reaksi biokimiawi. Tumbuhan akan berkembang secara normal dan tumbuh subur serta aktif apabila sel-selnya dipenuhi air. Suatu ketika apabila pada waktu perkembangannya, tumbuhan kekurangan suplai air, maka kandungan air dalam tumbuhan menurun dan laju perkembangannya yang ditentukan oleh laju semua fungsi-fungsi yang juga menurun. Jika keadaan kekeringan ini berlangsung lama maka dapat mematikan tumbuhan.
Kekurangan air dapat menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan yang sedang berkembang. Keadaan kekeringan memiliki dampak positif bagi hidup dan ketahanan hidup suatu organisme. Bersamaan dengan menurunnya aktivitas sel, kepekaannya terhadap faktor-faktor fisik dan kimia dari lingkungannya juga berkurang. Oleh karena itu, walaupun biji-biji kering tidak akan berkecambah, mereka juga tidak akan mati oleh suhu tinggi atau rendah yang dapat menjadikan letal bagi tumbuhan vegetatif. Pada kenyataannya, adaptasi tumbuhan pada keadaan kering maupun suhu terendah sering melibatkan keadaan kandungan air rendah.
Organ tumbuhan yang berfungsi menyerap air secara osmosis adalah akar. Oleh karena itu, absorbs air oleh tumbuhan mungkin dilakukan dengan cara mengendalikan potensial air larutan dimana akar itu berada. Jika PO larutan luar lebih rendah dari PO sel-sl akar, maka air dapat masuk dari larutan, maka masuknya air ke dalam system akar. Dengan meningkatkan konsentrasi zat-zat terlarut air ke dalam akan menjadi lebih lambat sampai arah pergerakan air mungkin akan terbalik.
Maka sangatlah tepat dilakukan percobaan kali ini untuk mengetahui pengaruh osmotik konsentrasi garam hara terhadap absorbsi air dan pertumbuhan tanaman sehingga kita dapat memahami pengaruh garam hara pada akar tumbuhan.
B. Tujuan
            Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum pada kesempatan kali ini, yaitu melihat pengaruh osmotik konsentrasi garam hara terhadap absorbsi air dan pertumbuhan tumbuhan.
C. Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan praktikum kali ini adalah:
1.      Mahasiswa dapat memahami nilai potensial osmotik cairan sel.
2.      Mahasiswa dapat memahami dengan baik peristiwa difusi terbalik pada sel-sel akar.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana pengaruh osmotik konsentrasi garam hara Terhadap absorbsi air dan pertumbuhan tanaman.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air dan nutrient-nutrien terlarut bergerak ke dalam tumbuhan melalui akar. Penjuluran-penjuluran tipis dari sel-sel di permukaan akar, yakni rambut akar, menyerap air dan membawanya ke jaringan penghantar di dalam akar. Faktor-faktor yang mengatur pergerakan zat-zat ke dalam akar adalah difusi, osmosis, dan bahkan tanspor aktif. Sifat tanah yang mengelilingi sistem akar mempengaruhi suplai air yang tersedia bagi akar. Tanah yang terlalu padat atau terlalu renggang menghalangi penyerapan cairan oleh tanah yang telah kehilangan airnya karena diserap oleh sistem akar (Aslam, 2011). 
Jumlah air yang jatuh pada tanah sangat mempengaruhi sifat-sifat dan produktivitasnya. Di daerah lembab (75-100 cm atau lebih dari presipitasi per tahun), cukup air jatuh di tanah sehingga sebagian besar daripadanya terus ke bawah sampai batas air. Selagi itu berlangsung, tanah membawa mineral. Tanah seperti cenderung asam, dan kesuburannya rendah dan akan menurun (jika tak diawasi) (Kimball 2000).
Berkurangnya potensial air, hormon tanaman juga berubah konsentrasinya, Misalnya, asam absisat (abcisid acid= ABA) meningkat dalam daun dan buah. Penimbunan ABA merangsang penutupan stomata, yang mengakibatkan berkurangnya asimilasi CO2 daun lebih tua dan buah sering kali gugur bila akumulasinya tinggi. Tidak seluruh tumbuhan menunjukkan peningkatan ABA dengan berkurangnya kelembapan. Sitokinin dan etilen dapat meniadakan pengaruh ABA meningkat (Tal dan Imber, 1971). Hal inni mungkin dapat menjelaskan terjadinya pemasakan buah yang lebih cepat dalam kodisi kekurangan air (Campbell,..2004).
Potensial/tekanan osmotik (Ψs,π,PO) ini merupakan istilah yang sudah lama digunakan untuk menguraikan osmosis. Larutan dengan konsentrasi lebih tinggi mempunyai tekanan osmotic (PO). Berati bahwa air berpindah dari larutan dengan PO rendah (hipotonis, PA tinggi) ke larutan PO tinggi (hipertonis, PA rendah) lebih sering digunakan symbol Ψ disbanding dengan PO. Potensial osmotik (PO) lebih menyatakan status larutan, dan status larutan dapat kita nyatakan dalam satuan konsetrasi, tekanan atau energi, Po air murnni sama dengan nol atm atau 0 bar (Ismail, 2011).
Akar mengabsorbsi air dengan cara osmotis. Oleh karena itu absobsi air oleh tumbuhan mungkin dilakukan dengan mengaendalikan potensial air larutan dimana akar itu berada. Jika PO larutan luar lebih rendah dari PO sel-sel akar, maka air dapat masuk dari larutan maka masuknya air ke dalam sistem akar. Dengan meningkatnya konsentrasi zat-zat terlarut air ke dalam akan menjadi lebih lambat sampai arah pergerakan air mungkin akan terbalik (Ismail, 2011).
Pada potensial air, air akan meninggalkan sel itu dengan cara osmosis, sehingga sel itu akan mengalami plasmolisis/mengkerut dan menjauh dari dindingnya. Sel lembek ini memiliki potensial air yang lebih kecil karena kehadiran zat terlarut dan akan memasuki sel melalui osmosis. Sel tersebut akan mulai mengembang dan memberikan dorongan melawan dinding selnya menghaslkan tekanan turgor. Ketika tekanan dinding ini cukup besar untuk mengembangi kecenderungan air untuk masuk karena zat-zat terlarut dalam sel, maka Ψp dan Ψs akan sama besar dan dengan demikian Ψ=0. Besar potensial ini akan menyamai potensial air dari lingkungan ekstraseluler (Campbell,2004).
Perakaran dari tanaman yang ditanam di lapangan biasanya tumbuh dalam voum tanah yang besar. Terjadi kerapatan perakaran yang tinggi dalam profil tanah sebelah atas tempat terjadinya pengambilan air dengan cepat, tetapi apabila air menjadi terbatas dalm profil tanah sebelah atas, perakaran meluas ke profil tanah yang lebih bawah yang airnya lebih banyak. Jadi pada tanaman yang ditanam di lapangan perkembangan tekanan selama daur  kekeringan itu jauh lebih gradual, kemungkinan untuk mengembalikan Ψw, dalam semalam juga besar, dan tanaman mempunyai waktu untuk beradaptasi terhadap kekurangan air yang muncul (Fried,..2005).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum kali ini adalah:
Hari/Tanggal         : Senin, 13 Mei 2011
Waktu                   : Pukul 15.00 - 17.00 WITA
Tempat                  : Laboratorium Biologi Lantai III Timur, FMIPA UNM
B.     Alat dan bahan
a.       Alat
1.      Botol minuman M150 ml 8 buah
2.      Mistar
3.      Sumbat
4.      Kapas  
b.      Bahan
1.      Bahan Tumbuhan  : 16 buah kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus)
2.      Bahan Kimia         : Larutan CaCl2 0,01 %; 0,02%; 0,03%; 0,04%;
                                0,05%; 0,10 % dan 0,20%
3.      Aquadest
4.      Kapas
C.   Prosuder kerja
1.      Menyiapkan CaCl 0,01 %; 0,02%; 0,03%; 0,04%; 0,05%; 0,10 % dan 0,20% serta aquadest.
2.      Memasukkan masing-masing larutan ke dalam botol kultur dan memberi label. Satu botol dipakai sebagai control: mengi dengan aquadest saja.
3.      Mengambil kecambah kacang hijau sebanyak 16 bibit berumur ± 5 hari. Memilih yang sehat dan baik pertumbuhannya serta homogen.
4.      Memasukkan 2 kecambah kacang hijau pada masing-masing dikedua lubang pada tutup botol. Mempergunakan kapas untuk mengganjal tanaman agar tekag, dengan bagian akar yang terendam pada larutan. Menjaga agar kapas tidak menutupi kotiledon kecambah. Melakukan semua hal ini untuk semua botol kultur.
5.      Mengukur dan mencatat panjang batang di atas kotiledon dengan penggaris millimeter.
6.      Memberikan tanda tingginya cairan. Menambahkan air destilasi sampai pada tingkat semula. Mencatat volume air yang ditambahkan.
7.      Setiap 2 melihat keadaan cairan. Menambahkan air destilasi sampai pada tingkat semula. Mencatat volume air yang ditambahkan. Mengamati penampilan tanaman.
8.      Setelah 1 minggu mengeluarkan tanaman dan menemukan panjang batang di atas kotiledon, mengamati keadaan tanaman dan menentukan juga total air yang ditambahkan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Tabel Pertambahan Panjang Kecambah
Larutan
Panjang Batang
Keterangan
Io
I1
I2
I3
I
II
I
II
I
II
I
II
Aquadest
15
15
22,6
22,9
23,5
23,5
22,6
23
Mati karena patah
CaCl 0,01M
15
15
21
22
26,5
25,5
25,6
26,9
Subur
CaCl 0,02M
17
17
24,5
26,4
28
25,5
28,1
26
Subur
CaCl 0,03M
18
18
21,8
24,4
24,5
23
24
22,3
Mati
CaCl 0,04M
18
18
23,4
22
22,5
24,5
22,9
22,5
Layu
CaCl 0,05M
18
18
20,5
20,7
22,5
21
22,5
20
Layu
CaCl 0,10M
18
18
20,1
21,2
19,5
21
19,5
20,7
Mati
CaCl 0,20M
23
23
19,6
22,7
23
19
22
19
Mati










Grafik Perubahan Panjang Kecambah I (I3-I0)

B. Pembahasan
Pengamatan kali ini, menggunakan aquadest, CaCl2 0,01M, CaCl2 0,02M, CaCl2 0,03M, CaCl2 0,04M, CaCl2 0,05M, CaCl2 0,10M, dan CaCl2 0,20M, dimana masing-masing dimasukkan kacang hijau (Phaseolus radiates) untuk mengetahui bagaimana pengatuh osmotik dari  konsentrasi garam hara terhadap absorbsi air dan pertumbuhan tanaman. Setelah dilakukan pengamatan selama 1 minggu, terjadi perubahan pertumbuhan dari masing-masing keadaan. Pada aquadest, terjadi perubahan panjang pada kacang 7,6 cm, dengan keadaan tanaman yang mati karena pucuknya sudah patah. Pada CaCl2 0,01M, terjadi perubahan panjang 10,6 cm, dengan keadaan tanaman yang masih segar. Pada CaCl2 0,02M, terjadi perubahan panjang 11,1 cm, dengan keadaan tanaman yang masih segar. Pada CaCl2 0,03M, terjadi perubahan panjang 6,00 cm, dengan keadaan tanaman yang sudah mati. Pada CaCl2 0,04M, terjadi perubahan panjang 3,4 cm, dengan keadaan tanaman yang pada awalnya segar, tapi saat pengamatan terakhir, mulai layu. Pada CaCl2 0,05M, terjadi perubahan panjang 4,5 cm, dengan keadaan tanaman yang mulai layu. Pada CaCl2 0,1M, terjadi perubahan panjang 1,5 cm, dengan keadaan tanaman yang sudah mati. Sementara untuk CaCl2 0,2M, terjadi perubahan panjang tanaman -1 cm, dengan keadaan tanaman yang sudah mati.
Dari pengamatan yang telah dilakukan tersebut, data yang didapat sudah sesuai dengan teori, dimana pada CaCl2 0,2M, perubahan pertambahan panjangnya yang paling rendah, sedangkan yang paling tinggi perubahan panjangnya adalah pada larutan CaCl2 0,02M. Sementara yang lainnya juga terjadi perubahan tetapi tidak terlalu signifikan dan fluktuatif. Menurut teori, semakin tinggi konsentrasi suatu larutan CaCl2 sebagai garam hara tumbuhan akan semakin cepat pula mempengaruhi fisik tumbuhan yang menyerap unsur tersebut yang memungkinkan berakibat defisiensi ataupun hiper unsur hara yang dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan. Kelayuan dan kematian pada tanaman disebabkan oleh konsentrasi garam hara di luar sel akar lebih tinggi atau PA menurun dibandingkan dengan air dalam sel tumbuhan. Jadi, air akan mengalir dari potensial tinggi ke potensial yang rendah sehingga tumbuhan akan kekurangan air (tanaman tidak mampu menyerap air dan mineral pada larutan).
Menurut Muliana (2011), kalsium diserap dalam bentuk ion Ca2+  untuk menyokong pertumbuhan dengan baik. Kalsium tidak ditranslokasikan ke floem sehingga terjadi defisiensi, dan akibatnya terjadi kekahatan pada jaringan yang masih muda, sehingga jaringan mengerut dan berubah bentuk disebabkan oleh kekurangan kalsium, dan daerah meristematik mati lebih awal. Begitupun klorin diserap dalam bentuk ion Cl-, biasanya Cl diserap sangat banyak dari apa yang tumbuhan butuhkan, sehingga pemakaiannya berlebihan. Fungsi Cl adalah pembelahan sel daun dan linarut aktif dalam mengendalikan osmosis.
 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Konsentrasi garam hara berpengaruh pada absorbsi air dan pertambahan panjang tanaman, dimana jika konsentrasi garam hara lebih rendah dari konsentrasi cairan sel, maka absorbsi air berjalan normal. Sebaliknya jika konsentrasi garam hara lebih tinggi dari konsentrasi cairan sel, maka absorbsi air berjalan lambat, sehingga tanaman mejadi layu.
B.     Saran
1.  Praktikan sebaiknya bersungguh-sungguh dalam menjalani praktikum, agar diperoleh ilmu yang optimum berdasarkan hasil pengamatan, dan dapat menguji teori dari perkuliahan.
2.  Kakak asisten sebaiknya membimbing praktikan dengan sepenuh hati dan memberikan penjelasan-penjalasan yang berkaitan dengan praktikum yang sedang dijalani, sehingga terjadi transfer ilmu secara tidak langsung.
3.  Laboran sebaiknya menyediakan alat dan bahan yang berhubungan dengan praktikum, sehingga praktikan tidak usah mencari bahan lagi.
 DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A, Jane B Reece dam Lawrence G Mitchell. 2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Fried, G. H. 2005. Schaum’s Outlines Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.

Ismail. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi  Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Kimball, John W. 2000. Biologi Jilid II Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.

Muliana. 2011. Pengaruh osmotik konsentrasi garam hara terhadap absorpsi air dan pertumbuhan tanaman. http://naturelovers-biomuli.pengaruh-osmotik-konsentrasi-garam-hara-terhadap-absorpsi-air-dan-pertumbuhan-tanaman.blogspot.com/.


Laporan Fisiologi Tumbuhan - Muliana G. H., S. Pd
Loading...

0 Response to "Pengaruh Osmotik Konsentrasi Garam Hara Terhadap Absorbsi Air dan Pertumbuhan Tanaman (Laporan)"

Posting Komentar