Evolusi dan Agama


Apakah Evolusi itu?

Evolusi didefinisikan sebagai perubahan secara berkala (changes overtime). Jadi menurut teori evolusi, alam semesta beserta isinya terbentuk dari bahan yang sangat primitif melalui rangkaian perubahan yang terjadi secara perlahan selama jutaan tahun. Umumnya, evolusi alam semesta tidak menjadi masalah dengan ajaran
Islam karena teori mengenai proses pembentukan alam semesta (Teori Big Bang) mendukung proses penciptaan alam yang diuraikan di dalam AlQur'an (51:47;21:30) (Sofyan, 2011).

Q.S. Adz-Dzaariyat (51:47)
Q.S. Al-Anbiyaa’ (21:30)

Menurut Sofyan (2011), yang menjadi kontroversi atau paling tidak berpeluang untuk menjadi kontroversi adalah mengenai evolusi makhluk hidup yang diperkenalkan olah Charles Darwin, seorang naturalis dari Inggris, pada tahun 1859 dengan bukunya: "The Origin of Species". Pada awalnya teori Darwin tersebut hanya berisi hal-hal sebagai berikut:
1.        Makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah, tetapi muncul (evolve) dari nenek moyang yang sama (common ancestor).
2.       Seleksi alam (natural selection) adalah penyebab utama, namun bukan satu-satunya, proses modifikasi pada makhluk hidup.
3.       Contoh-contoh atau alasan-alasan yang dikemukakan Darwin untuk mendukung teorinya antara lain:
a.       Variasi dalam domestikasi (artifical selection).
b.      Makhluk hidup selalu dihadapkan pada kesulitan untuk bertahan hidup (struggle of existence).
c.       Kepunahan (extinction) atau kesuksesan makhluk hidup (survival of the fittest).
d.      Hibridisasi (kawin silang).
e.       Catatan geologi (fosil).
f.        Embryologi perbandingan.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, kalangan evolutionist memasukkan hal-hal baru sebagai pendukung teori evolusi seperti:
g.       Awal kehidupan (The origin of life).
h.      Mutasi sebagai salah satu penyebab modifikasi.


Kontroversi Teori Evolusi

Di zaman ini, sejumlah kalangan berpandangan bahwa teori evolusi yang dirumuskan oleh Charles Darwin tidaklah bertentangan dengan agama. Ada juga yang sebenarnya tidak meyakini teori evolusi tersebut akan tetapi masih juga ikut andil dalam mengajarkan dan menyebarluaskannya. Hal ini tidak akan terjadi seandainya mereka benar-benar memahami teori tersebut. Ini adalah akibat ketidakmampuan dalam memahami dogma utama Darwinisme, termasuk pandangan paling berbahaya dari teori tersebut yang diindoktrinasikan kepada masyarakat. Oleh karenanya, bagi mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta makhluk hidup, namun pada saat yang sama berpandangan bahwa "Allah menciptakan beragam makhluk hidup melalui proses evolusi," hendaklah mempelajari kembali dogma dasar teori tersebut (Anonim1, 2008).

Dogma dasar Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara spontan sebagai akibat peristiwa kebetulan. Pandangan ini sama sekali bertentangan dengan keyakinan terhadap adanya penciptaan alam oleh Allah (Anonim1, 2008).

Kesalahan terbesar dari mereka yang meyakini bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan fakta penciptaan adalah anggapan bahwa teori evolusi adalah sekedar pernyataan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Oleh karenanya, mereka mengatakan: "Bukankah tidak ada salahnya jika Allah menciptakan semua makhluk hidup melalui proses evolusi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain; apa salahnya menolak hal ini?" Akan tetapi, sebenarnya terdapat hal yang sangat mendasar yang telah diabaikan: perbedaan mendasar antara para pendukung evolusi (=evolusionis) dan pendukung penciptaan (=kreasionis) bukanlah terletak pada pertanyaan apakah "makhluk hidup muncul masing-masing secara terpisah atau melalui proses evolusi dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Pertanyaan yang pokok adalah "apakah makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara kebetulan akibat rentetan peristiwa alam, atau apakah makhluk hidup tersebut diciptakan secara sengaja?" (Anonim1, 2008).

Jika kita berdebat tentang asal mula manusia, maka yang terpikir, terlintas, atau terbersit pertama kali di benak ataupun pikiran adalah pertentangan teori evolusi Charles Darwin bahwa manusia pertama adalah kera dengan Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa manusia pertama adalah Nabi adam a.s. Namun, hingga saat ini para ilmuwan masih terus mencari bukti untuk memastikan asal mula manusia (Anonim2, 2012).

Dalam tulisan mengenai pembantahan agama terhadap evolusi ini mungkin akan lebih ditekankan kepada asal usul adanya manusia di bumi.


Teori Asal Mula Manusia menurut Charles Darwin

Menurut Anonim2 (2012), pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut: 

1.        Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
2.       Homo habilis
3.       Homo erectus
4.      Homo sapiens

Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti "kera dari selatan." Australophitecus,yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat ("tegap"), sementara yang lain lebih kecil dan rapuh ("lemah").  Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai "Australopithecus > Homo Habilis > Homo erectus > Homo sapiens," evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya (Anonim2, 2012).


Asal Mula Manusia berdasarkan Al-Qur'an (Nabi Adam a.s)

Saat Allah Swt. merencanakan penciptaan manusia, ketika Allah mulai membuat “cerita” tentang asal-usul manusia, Malaikat Jibril seolah khawatir karena takut manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi. Di dalam Al-Quran, kejadian itu diabadikan,

 ".. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr: 28-29). 
(Anonim2, 2012).

Adam adalah ciptaan Allah yang memiliki akal sehingga memiliki kecerdasan, bisa menerima ilmu pengetahuan dan bisa mengatur kehidupan sendiri. Inilah keunikan manusia yang Allah ciptakan untuk menjadi penguasa didunia, untuk menghuni dan memelihara bumi yang Allah ciptakan. Dari Adam inilah cikal bakal manusia diseluruh permukaan bumi. Melalui pernikahannya dengan Hawa, Adam melahirkan keturunan yang menyebar ke berbagai benua diseluruh penjuru bumi; menempati lembah, gunung, gurun pasir dan wilayah lainnya diseluruh penjuru bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:


"Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami angkut mereka didaratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyak makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. al-Isra' [17]: 70)
(Anonim2, 2012).

Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari)

Pembantahan Teori Evolusi
Menurut syariat islam, manusia tidak diciptakan di bumi, tapi di turunkan di muka bumi sebagai manusia dan diangkat/ditunjuk Allah sebagai khalifah (pengganti/penerus) di muka bumi. Manusia sebagai pengganti di muka bumi tentunya ada mahkluk lain yang di ganti  (Anonim3, 2011).

Menurut Anonim3 (2011), ada 2 kemungkinan tentang makluk lain yang posisinya digantikan oleh manusia:
Yang pertama adalah golongan jin

Menurut para ahli mufassirin, salah satu diantaranya adalah Ibnu Jazir, dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan: "yang dimaksud dengan mahluk sebelum Adam diciptakan adalah Al-Jan (golongan jin) yang suka berbuat kerusuhan"
menurut seorang perawi hadits yang bernama Thawus Al-Yamani: "Salah satu penghuni sekaligus penguasa dimuka bumi adalah golongan jin (sebelum manusia diciptakan).

Namun ada juga yang mengatakan bahwa telah ada 3 ummat yang utama sebelum adam, dua diantaranya adalah bangsa jin, sedangkan yang ketiga dari golongan yang berbeda dengan jin, mereka ini mahkluk berdarah dan berdaging.

Dalam surat Al-Hijr 27 dijelaskan: "Dan kami telah menciptakan jin sebelum (adam) dari api yang sangat panas"

Yang kedua adalah manusia purba

Dalam literatur arkeologi, berdasarkan fosil yang ditemukan, memang ada mahkluk lain yang nyaris seperti manusia,tetapi memiliki karakteristik yang sangat primitif dan tidak berbudaya.

Volume otak mereka lebih kecil dari manusia, sehingga kemampuan mereka terbatas. Kelompok makhluk ini kemudian dinamakan Neanderthal oleh para arkeologi. Sebagai contoh Pithecantropus erectus volume otaknya 900cc dan Homo sapiens di atas 1000cc.

Maka dari itu bisa diambil kesimpulan bahwa semenjak 20.000 tahun yang lalu telah ada sosok makhuk yang memiliki akal yang mendekati kemampuan berpikir manusia pada zaman sebelum kedatangan adam NAMUN bukan dari golongan manusia.

Hal ini di tegaskan lagi dalam surat Al-Israa' (17:70) :
"Dan sesungguhnya telah kami muliakan (anak anak adam), kami angkat mereka di daratan dan lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahkluk yang telah kami ciptakan"

dan juga At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (di banding golongan sebelumnya)"

Beberapa orang yang beranggapan bahwa makhluk hidup ada karena adanya evolusi merupakan pembuktian bahwa segala sesuatu yang terjadi haruslah melalui suatu proses, layaknya proses evolusi. Namun, bagi Allah Sang Maha Pencipta, tidak ada yang tidak mungkin. Dalam menciptakan sesuatu Allah SWT tidak harus melaluinya dg “proses” sbgmn yg dipahami manusia. Selain itu jikapun pernyataan bahwa dalam menciptakan sesuatu itu perlu proses, teori evolusi Darwin bukan penjelasan yang benar tentang bagaimana Allah SWT melakukan “proses” penciptaan makhluk hidup.

Allah SWT memiliki kehendak atas segala sesuatu. Sebagaimana terciptanya Nabi Isa AS. Dalam Q.S. Ali Imran:47 dan 59 disebutkan,




Sikap Ilmiah dalam Menyikapi Teori Evolusi

Walaupun terkesan sangat masuk akal, teori Darwin tetap hanya merupakan wacana (teori) yang dapat dibuktikan benar atau salahnya secara keilmuwan pula. Pembuktian secara supranatural (misalnya intelligent design dan keajaiban) bukan merupakan cara yang terbaik karena supranatural bersifat selalu benar (nonfalsiable) namun sulit dibuktikan secara nyata (untestable) (Sofyan, 2011).

Darwin dan ilmuan lain memberikan hipotesis bahwa seleksi alam dan mutasi gen menyebabkan perubahan bentuk yang menghasilkan makhluk baru disebabkan oleh sifat ingin tahu mereka terhadap proses penciptaan makhluk hidup. Hal tersebut bukan merupakan masalah, karena sifat ilmu memang seperti itu, yaitu dimulai dengan keingintahuan (curiosity) kemudian dilanjutkan dengan pembuktian (Sofyan, 2011).

Namun, teori Darwin sampai saat ini masih hanya sebatas teori. Hal ini dikarenakan terlalu banyak keragu-raguan yang ada di dalamnya. Dalam Q.S. Qaaf:15 disebutkan.

Dengan demikian, penyikapan yang Islami dalam masalah evolusi Darwin adalah dengan mempelajari lebih jauh proses-proses penciptaan makhluk secara ilmiah dan mencari dalilnya di dalam AlQur'an. Apabila dalam proses pembelajaran tersebut dibuktikan bahwa teori Darwin benar, maka sesungguhnya kebenaran tersebut memang ditunjukkan oleh Allah SWT. Sebaliknya apabila dibuktikan bahwa teori Darwin salah, maka teori baru yang menafikan teori Darwin tersebut harus diungkapkan dan disebar luaskan sehingga orang lain dapat membuktikan kebenaran teori baru tersebut secara empiris (Sofyan, 2011).

Adapun pembantahan teori evolusi berdasarkan Al-Quran merupakan hal yang bersifat mutlak dan tidak terbantahkan. Namun, hal yang bersifat supranatural seperti itu adalah hal tidak dapat dilihat secara nyata. Hal seperti itu adalah hal yang haruslah kita imani dan yakini. Adapun sikap yang bijaksana mengenai hal ini ialah terus belajar dan mengkaji ilmu pengetahuan tanpa henti. Sebagaimana hadits Nabi SAW yang berbunyi: Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.



Daftar Pustaka

Al-Qur’anul Karim
Anonim1. 2008. Hakikat Teori Evolusi Darwin: Perang terhadap Agama. http://anjarlinux.staff.uns.ac.id/2008/12/04/hakikat-teori-evolusi-darwin-perang-terhadap-agama/. Diakses pada tanggal 5 Juni 2012
Anonim2. 2012. Asal Mula Manusia, Teori Evolusi Darwin vs Nabi Adam a.s. http://mungkinblog.blogspot.com/2012/05/asal-mula-manusia-teori-evolus. Diakses pada tanggal 6 Juni 2012
Anonim3. 2011. Nabi Adam AS. Pembantahan Teori Evolusi & Pembantahan "Pengusiran" Adam dan Hawa dari Surga. http://dewabrata-ceritadunia.blogspot.com/2011/04/nabi-adam-as-pembantahan-teori-evolusi.html. Diakses pada tanggal 6 Juni 2012



0 Response to "Evolusi dan Agama"

Posting Komentar