Teori Neo Darwinisme


Teori Neo Darwinisme


Definisi evolusi biologi bermacam-macam tergantung dari aspek biologi yang dikaji. Evolusi pada makhluk hidup adalah perubahan-perubahan yang dialami makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang lama dan diturunkan, sehingga lama kelamaan dapat terbentuk species baru hal ini dipengaruhi oleh perubahan frekuensi gen dan perubahan karakter adaptif pada populasi.

Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat dikatakan sebuah teori. Darwin (1858) mengajukan 2 teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru.

Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin mendapat tantangan (terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan – Universal Creation), dukungan dan pengkayaan-pengkayaan. Jadi, teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang sekarang kita kenal dengan label “Neo Darwinian” , bukanlah murni seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di bawah ini merupakan hasil pengkayaan yang mencerminkan pergulatan pemikiran dan argumentasi ilmiah seputar teori evolusi.

Topik yang akan dibahas dibawah ini meliputi perkembagan teori evolusi Darwin dalam masa “Neo Darwinian” dan implikasi dari teori evolusi biologi Darwin terhadap cara pandang kita tentang keberadaan makhluk dan alam semesta.

Dengan berbagai perkembangan dalam perkembangan dalam ilmu biologi, khususnya genetika maka kemudian Teori Evolusi Darwin diperkaya. Seleksi alam tidak lagi menjadi satu-satunya agen penyebab terjadinya evolusi, melainkan ada tambahan faktor-faktor penyebab lain yaitu: mutasi, aliran gen, dan genetic drift. Oleh karenanya teori evolusi yang sekarang kita seiring disebut Neo-Darwinian atau Modern Systhesis.


*      TEORI NEO-DARWINISME

Model Teori Neo-Darwinis, yang kita anggap sebagai teori evolusi yang “terkenal” saat ini, dimana teori ini menyatakan bahwa kehidupan telah mengalami perubahan atau berevolusi malalui mekanisme alamiah Seleksi Alam dan Mutasi. Dasar teorinya menyatakan bahwa seleksi alam dan mutasi adalah mekanisme yang saling melengkapi. Modifikasi revolusioner berasal dari  mutasi secara acak yang terjadi pada struktur genetik makhluk hidup. Sifat-sifat yang ditimbulkan pada mutasi kemudian diseleksi melalui mekanisme seleksi alam dan dengan demikian makhluk hidup berevolusi (Yahya, 2001).

Menurut Aviciena (2012), Secara singkat, proses evolusi oleh seleksi alam (Neo Darwinian) terjadi karena adanya:

a.       Perubahan frekuensi gen dari satu generasi ke generasi berikutnya.
b.      Perubahan dan genotype yang terakumulasi seiring berjalannya waktu.
c.       Produksi varian baru melalui pada materi genetic yang diturunkan (DNA/RNA).
d.      Kompetisi antar individu karena keberadaan besaran individu melebihi sumber daya lingkungan tidak cukup untuk menyokongnya.
e.       Generasi berikut mewarisi “kombinasi gen yang sukses” dari individu fertile (dan beruntung) yang masih dapat bertahan hidup dari kompetisi.

Sekali lagi faktor seleksi alam tidak lagi menjadi satu-satunya agen penyebab terjadinya evolusi, melainkan ada tambahan faktor-faktor penyebab lain seperti mutasi.

Seleksi alam dalam proses ilmiah sebenarnya telah dikenal oleh para ahli sebelum Darwin, dimana definisi seleksi alam sendiri pada zaman itu adalah makanisme yang menjaga agar spesies tidak berubah tanpa menjadi rusak. Darwin sendiri adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa proses ini memiliki kekuatan evolusi. Ia kemudian membangun teorinya berdasarkan hal tersebut (Yahya, 2001). Darwin mengemukakan bahwa seleksi alam merupakan agen utama penyebab terjadinya evolusi. Darwin menyimpulkan seleksi dari prinsip yang dikemukakan oleh Malthus bahwa setiap populasi cendrung bertambah jumlahnya seperti deret ukur, dan sebagai akibatnya cepat atau lambat akan terjadi perbenturan antar anggota dalam pemanfaatan sumber daya khususnya bila ketersediaannya terbatas. Hanya sebagian, seringkali merupakan bagian kecil, dari keturunannya bertahan hidup: sementara besar lainnya tereliminasi (Aviciena, 2012).

Dengan berkembangnya ilmu genetika, teori itu diperkaya sehingga muncul Neo Darwinian. Defenisi seleksi alam dari teori ini adalah segala proses yang menyebabkan pembedaan non random dalam reproduksi terhadap genotype; atau allele gen dan kompleks gen dari generasi ke generasi berikutnya (Aviciena, 2012).

Anggota populasi yang membawa genotype yang lebih adaptif (superior) berpeluang lebih besar untuk bertahan daripada keturunan yang inferior. Jumlah individu keturunan yang superior akan bertambah sementara jumlah individu inferior akan berkurang dari satu generasi ke generasi lainnya. Seleksi alampun juga masih bekerja, sekalipun jika semua keturunan dapat bertahan hidup dalam beberapa generasi. Contohnya adalah pada jenis fauna yang memiliki beberapa generasi dalam satu tahun. Jika makanan dan sumberdaya yang lain tidak terbatas selama suatu musim, populasi akan bertambah seperti deret ukur dengan tidak ada kematian di antara keturunannya. Hal itu tidak berarti seleksi tidak terjadi, karena anggota populasi dengan genotype yang berbeda memproduksi keturunan dalam jumlah yang berbeda atau berkembang mencapai matang seksual pada kecepatan yang berbeda. Musim yang lain kemungkinan mengurangi jumlah individu secara drastic tanpa pilih-pilih. Jadi pertumbuhan eksponensial dan seleksi kemungkinan akan dilanjutkan lagi pada tahun berikutnya. Pebedaan fekunditas, sesungguhnya juga merupakan agent penyeleksi yang kuat karena menentukan perbedaan jumlah individu yang dapat bertahan hidup atau dan jumlah individu yang akan mati, yang ditunjukkan dalam angka kematian (Aviciena, 2012).

Darwin telah menerima, namun dengan sedikit keraguan, slogan Herbert Spencer “survival of the fittest in the struggle for life” sebagai altenatif untuk menerangkan proses seleksi alam, namun saat ini slogan itu nampaknya dipandang tidak sepenuhnya tepat. Tidak hanya individu atau jenis yang terkuat tetapi mereka yang lumayan pas dengan lingkungan dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Dalam kondisi seleksi yang lunak atau halus semua individu atau jenis pembawa genotype yang bermacam-macam dapat bertahan hidup ketika populasi berkurang. Individu yang fit (individu yang sesuai dengan lingkungan dapat bertoleransi dengan lingkungan) tidak harus mereka yang paling kuat, paling agresif atau paling bertenaga, melainkan mereka yang mampu bereproduksi menghasilkan keturunan dengan jumlah terbanyak yang viable dan fertile (Aviciena, 2012).

Seleksi alam tidak menyebabkan timbulnya material baru (bahan genetic yang baru yang di masa mendatang akan datang diseleksi lagi),melainkan justru menyebabkan hilangnya suatu varian genetic atau berkurang frekuensi gen tertentu. Seleksi alam bekerja efektif hanya bila populasi berisi dua atau lebih genotype, yang mana dari varian itu ada yang akan tetap bertahan atau ada yang tereliminasi pada kecepatan yang berbeda-beda. Pada seleksi buatan, breeder akan memilih varian genetic (individu dengan genotype) tertentu untuk dijadikan induk untuk generasi yang akan datang. permasalahan yang timbul adalah dari mana sumber materi dasar atau bahan mentah genetic penyebab keanekaragaman genetic pada varian-varian yang akan obyek seleksi oleh alam. Permasalahan itu terpecahkan setelah T.H Morgan dan kawan-kawan meneliti mutasi pada lalat buah Drosophilia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses mutasi menyuplai bahan mentah genetic yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman genetic dimana nantinya seleksi alam bekerja (Aviciena, 2012).

Mutasi didefinisikan sebagai pemutusan atau penggantian yang terjadi pada molekul DNA, yang terdapat dalam inti sel makhluk hidup dan berisi semua informasi genetik. Pemutusan dan panggantian tersebut ini diakibatkan pengaruh-pengaruh luar seperti radiasi atau reaksi kimiawi. Setiap muatsi adalah ‘kecelakaan’ dan merusak nukleotida-nukleotida yang membangun DNA atau mengubah posisinya (Yahya,2001).

Para evolusionis terus terang mengaku setiap penelitian biologi bahwa mutasi jarang terjadi, dan ketika mutasi itu terjadi, maka sepenuhnya akan terjadi mutasi acak. Sebenarnya, evolusionis tidak peduli terhadap hal itu. Namun merekan hanya menekankan seberapa sering mutasi itu dapat terjadi. Atau dengan pertanyaan "Seberapa sering mutasi baik terjadi" (Thompson, 2012).

Sir Julian Huxley, adalah seorang ilmuan lain yang juga terlibat dalam Teori Neo-Darwinisme ini. Mutasi kurang diperhatikan dalam seleksi alam, frekuensi mutasi juga kurang menguntungkan. Bahkan ada pernyataan yang mengatakan bahwa 1 mutasi yang telah berhasil itu terdengar sudah sangat banyak. Karena begitu banyak mutasi yang merugikan bahkan menyebabkan kematian. Huxley mengatakan untuk mutasi yang cukup baik cukup mengurangi presentase kehadirannya. Martin CP, seorang Evolusionis dari Amerika juga mengatakan bahwa mutasi hanya sekedar perubahan mendadak dalam mengahasilkan keturunan namun sangat mempengaruhi kelangsungan individu organisme (Thompson, 2012).


KEPUTUS-ASAAN TEORI NEO-DARWINISME

Teori Darwin jatuh terpuruk dalam krisis karena hukum-hukum genetika yang ditemukan pada perempat pertama abad ke-20. Meskipun demikian, sekelompok ilmuwan yang bertekad bulat tetap setia kepada Darwin berusaha mencari jalan keluar. Mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh Geological Society of America pada tahun 1941. Ahli genetika seperti G. Ledyard Stebbins dan Theodosius Dobzhansky, ahli zoologi seperti Ernst Mayr dan Julian Huxley, ahli paleontologi seperti George Gaylord Simpson dan Glenn L. Jepsen, dan ahli genetika matematis seperti Ronald Fisher dan Sewall Right, setelah pembicaraan panjang akhirnya menyetujui cara-cara untuk "menambal sulam" Darwinisme (Yahya, 2001).

Kader-kader ini berfokus kepada pertanyaan tentang asal usul variasi menguntungkan yang diasumsikan menjadi penyebab makhluk hidup berevolusi -sebuah masalah yang tidak mampu dijelaskan oleh Darwin sendiri dan dielakkan dengan bergantung pada teori Lamarck. Gagasan mereka kali ini adalah "mutasi acak" (random mutations). Mereka menamakan teori baru ini "Teori Evolusi Sintetis Modern" (The Modern Synthetic Evolution Theory), yang dirumuskan dengan menambahkan konsep mutasi pada teori seleksi alam Darwin. Dalam waktu singkat, teori ini dikenal sebagai "neo-Darwinisme" dan mereka yang mengemukakannya disebut "neo-Darwinis" (Yahya, 2001).

Teori neo-Darwinis telah ditumbangkan pula oleh catatan fosil. Tidak pernah ditemukan di belahan dunia mana pun "bentuk-bentuk transisi" yang diasumsikan teori neo-Darwinis sebagai bukti evolusi bertahap pada makhluk hidup dari spesies primitif ke spesies lebih maju. Begitu pula perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies yang diduga telah berevolusi dari spesies lain ternyata memiliki ciri-ciri anatomi yang sangat berbeda, sehingga mereka tidak mungkin menjadi nenek moyang dan keturunannya (Yahya, 2001).

Neo-Darwinisme memang tidak pernah menjadi teori ilmiah, tapi merupakan sebuah dogma ideologis kalau tidak bisa disebut sebagai semacam "agama". Oleh karena itu, pendukung teori evolusi masih saja mempertahankannya meskipun bukti-bukti berbicara lain. Tetapi ada satu hal yang mereka sendiri tidak sependapat, yaitu model evolusi mana yang "benar" dari sekian banyak model yang diajukan. Salah satu hal terpenting dari model-model tersebut adalah sebuah skenario fantastis yang disebut "punctuated equilibrium". Model ini menolak gagasan Darwin tentang evolusi yang terjadi secara kumulatif dan sedikit demi sedikit. Sebaliknya, model ini menyatakan evolusi terjadi dalam "loncatan" besar yang diskontinu (Yahya, 2001).


Daftar Pustaka


Aviciena. 2012. Teori Evolusi Charles Darwin. http://acrossindonesia. wordpress.com/2008/11/01/teori-evolusi-charles-darwin/.   Di akses pada hari senin, 20 Februari 2012. Makassar.

Thompson, Bert , Ph.D. 2012.  Neo-Darwinism . http://en.wikipedia. org/wiki/Neo-Darwinism.  Di akses pada hari senin, 20 Februari 2012. Makassar.

Yahya, Harun. 2001. Keruntuhan Teori Evolusi. Bandung : Dzikra.


By Muliana G. H., S. Pd - 2015

0 Response to "Teori Neo Darwinisme"

Poskan Komentar