Homoseksual

Loading...
Homoseksual




Defenisi Homoseksual

Homoseksualitas merupakan salah satu penyimpangan perkembangan psikoseksual. Secara sederhana homoseksual dapat diartikan sebagai suatu reaksi seks dengan jenis kelamin yang sama atau rasa tertarik dan mencintai jenis seks yang sama. Istilah homoseksual lebih lazim digunakan bagi pria yang menderita penyimpangan ini, sedangkan bagi wanita, keadaan yang sama disebut “lesbian”.Kebanyakan individu berfikir bahwa tingkah laku homoseksual adalah pola yang berbeda dan dapat dengan mudah didefinisikan.Kenyataanya, tidaklah jarang bagi seseorang individu, terutama laki-laki untuk melakukan eksperimen homoseksual dimasa remaja.namun tidak melakukan tingkah laku homoseksual di masa dewasa. Sementara beberapa individu melakukan tingkah laku homoseksual di masa dewasa.

Pada umumnya, cinta homoseksual wanita (lesbianisme) itu sangat mendalam, dan lebih hebat daripada cinta heteroseksual, sungguhpun pada relasi lesbian tersebut sering tidak diperoleh kepuasan seksual yang wajar.Cinta lesbian tadi biasanya juga lebih hebat-ganas daripada cinta homoseksual di antara kaum pria.

Homoseksualitas sudah terjadi sepanjang sejarah umat manusia.Reaksi berbagai bangsa diberbagai kurun waktu sejarah terhadap homoseksualitas ternyata berlainan.Banyak masyarakat memandang heteroseksualitas sebagai perilaku seksual yang wajar, sedangkan homoseksualitas secara tradisional dipandang sebagai gangguan mental. Sampai akhir abad-19, diyakini bahwa umumnya manusia  heteroseksual atau homoseksual dipandang sebagai orientasi seksual dan merupakan hal yang dapat diterima



Jenis-Jenis Homoseksual

Coleman, Butcher dan Carson (1980) menggolongakan homoseksualitas ke dalam beberapa jenis:

1.     Homoseksual tulen. Jenis ini memenuhi gambaran stereotipik populer tentang lelaki yang keperemuan-perempuanan, atau sebaliknya perempuan yang kelaki-lakian. Sering juga kaum tranvestit atau “TV”, yakni orang yang suka mengenakan pakaian dan perilaku seperti lawan jenisnya. Bagi penderita yang memiliki kecenderungan homoseksual ini, daya tarik lawan jenis sama sekali tidak membuatnya terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai minat seksual terhadap lawan jenisnya. Dalam kasus semacam ini, penderita akan impotensi / figriditas apabila ia memaksakan diri untuk mengadakan relasi seksual dengan lawan jenisnya.

2.    Homoseksual malu-malu, yakni kaum lelaki yang suka mendatangi wc-wc umum atau tempat-tempat mandi uap, terdorong oleh hasrat homoseksual namun tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualitas.

3.     Homoseksual tersembunyi. Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dilindungi dengan cara menyembunyikan homoseksulitas mereka. Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh sahabat-sahabat karib, kekasih mereka, atau orang lain tertentu yang jumlahnya sangat terbatas.

4.    Homoseksual situasional. Homoseksualitas jenis ini terjadi pada penderita hanya pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan tidak mendapatkan partner lain jenis, sehingga tingkah lakunya timbul sebagai usaha menyalurkan dorongan seksualnya. Terdapat aneka jenis situasi yang dapat mendorong orang mempraktikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam, misalnya penjara dan medan perang. Akibatnya, biasanya mereka kembali mempraktikkan heteroseksualnya sesudah keluar dari situasi tersebut. Nilai tingkah laku ini dapat disamakan dengan tingkah laku onani atau masturbasi.

5.    Biseksual, yakni orang-orang ynang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksualitas sekaligus. Penderita homoseksualitas ini dapat mencapai kepuasan erotis optimal baik dengan sama jenis maupun dengan lawan jenis.

6.    Homoseksual mapan. Sebagian besar kaum homoseksual menerima homoseksualitas mereka, memenuhii aneka peran kemasyarakatan secara bertanggung jawab, dan mengikat diri dengan komunitas homoseksual setempat. Secara keseluruhan, kaum homoseksual tidak menunjukkan gejala gangguan kepribadian yang lebih dibandingkan kaum  heteroseksual.


Ciri-Ciri Homoseksual

Ciri-ciri spesifik yang umumnya memang ada pada setiap masing-masing orang yang mengidap kelainan yang dinamakan dengan homoseksual. Adapun ciri-ciri umum para homoseksual adalah sebagai berikut.

1.      Berpenampilan rapi
2.     Tidak banyak bicara (Kecenderungan pendiam)
3.     Selalu memakai pengharum tubuh dengan bau yang agak norak.
4.    Berbicara seadanya dan cenderung lembut
5.    Tidak suka bergaul dengan banyak orang
6.    Bertindak hati-hati dalam segala hal pekerjaan yang sedang dikerjakan
7.     Pakaian yang digunakan berbeda dari yang lain sehingga cenderung menarik perhatian banyak orang
8.    Lebih senang bergaul dengan sesama jenis dan berusia dibawahnya dan cenderung takut untuk berkomunikasi dengan lawan jenis.



Ekspresi Homoseksual

Di sisi lain banyak psikiater yang percaya bahwa homoseksualitas dapat pula dibagi atas beberapa kategori, yaitu kategori aktif, pasif dan bergantian peranan.

1.     Tipe aktif adalah tipe maskulin dimana pada relasi homoseksualitas tipe ini menunjukkan sikap aktif dan dalam sodomi, maka penetrasi penis dilakukan oleh tipe ini. 
2.     Tipe pasif sering lebih mengambil alih setiap pseudofeminin, dimana kemudian tipe ini justru menjadi tipe yang betul-betul menderita karena kebanyakan memiliki tubuh yang kewanita-wanitaan, walaupun tidak selalu demikian.
3.     Sedangkan dalam kategori bergantian peranan, penderita kadang-kadang memerankan fungsi wanita, kadang-kadang jadi laki-laki.



Sebab-Sebab Homoseksual

Faktor penyebab homoseksualitas bisa bermacam-macam, adapun faktor-faktor lain penyebab timbulnya homoseksual ditinjau dari dua jenis pendekatan antara lain.

1.     Pendekatan Fisiologis.
Dalam tubuh manusia tedapat hormon-hormon pria dan wanita. Keseimbangan yang relatif antara hormon-hormon tersebut merupakan faktor yang ikut menunjang kadar maskulinitas atau feminitas dari individu. Penyelidikan-penyelidikan terhadap orang-orang homoseksual mengungkapkan bahwa pada kasus-kasus tertentu ketidakseimbangan hormon memang ada, tetapi pengaruhnya sebagai faktor penyebab munculnya homosesksualitas tidak pernah dipastikan dengan pasti.

2.    Pendekatan Psikologis.
Perkembangan psikoseksual normal yang menyababkan penyesuaian diri yang heteroseksual tergantung pada pola yang berlangsung lama dari hubungan emosional yang efektif, terutama diperoleh dalam kalangan keluarga tetapi juga dalam hubungan diluar keluarga.Penyesuaian diri secara homoseksual terjadi jika hubungan-hubungan ini tidak adekuat, menyimpang, atau tidak ada.Tipe pengalaman-pengalaman emosional yang berikut ini telah dikaitkan dengan homosesksualitas.
a.     Pengalaman homoseksual pada usia dini yang menyenangkan karena godaan dari orang yang berpengalaman atau karena turut serta secara sukarela untuk sekadar ingin mengetahui.
b.    mendapatkan pengalaman homoseksual yang menyenangkan pada masa remaja atau sesudahnya.
c.     Faktor-faktor psikologis lain. Faktor-faktor tersebut adalah perasaan takut untuk menikah karena orang tuaa selalu bertengkar, takut memikul tanggung jawab terhadap perkawinan dan keluarga, takut akan hubungan-hubungan dengan orang yang tidak sejenis karena pengalaman-pengalaman sebelumnya yang menimbulkan frustasi dan memalukan, seorang anak laki-laki yang pernah mengalami pengalaman traumatis, dimana ia mengalami dominasi dari seorang wanita sedarah sehingga muncul kebencian terhadap wanita dan muncul dorongan homoseksual yang menetap, beberapa orang heteroseksual ikut serta dalam kegiatan homoseksual karena akan mendapat imbalan uang.
d.    memandang perilaku heteroseksual sebagai sesuatu yang aversif atau menakutkan/tidak menyenangkan
e.     seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibunya, sehingga timbull kebencian/antipati terhadap ibunya dan semua wanita. Lalu muncul dorongan seks yang jadi menetap.
f.      Panik homoseksual tidak terjadi pada orang yang tertarik pada masalah homoseksualitas. Keadaaan ini biasanya terjadi pada pasien dengan dorongan homoseksual laten yang kuat yang menyangkal menjadi homoseksual, tetapi yang mempunyai pengalaman yang mengarahkan seseorang dengan jenis kelamin yang sama adalah tertarik secara seksual padanya. Pangalaman mencetuskan perasaan homoseksualitas yang tidak dikenali, yang menyebabkan pasien melakukan pertahanan yang pasif, yang menyebabkan keadaan panik yang ditandai oleh kecemasan, rasa takut, kemungkinan kekerasan dan paranoid.Panik homoseksual dapat terjadi jika pasien adalah impotent pada hubungan heteroseksual. Kadang-kadang jarang, tindakan seksual untuk menimbulkan orgasme, seperti masturbasi atau hubungan anal, dapat mencetuskan panik. Seringkali, pencetusan terjadi saat pasien dalam keadaan terintoksikasi alkohol atau obat lainnya. Situasi yang sering terjadi adalah barak militer dan asrama mahasiswa. Panik homoseksual adalah tidak normal, dan mungkin berhubungan dengan gangguan psikiatrik yang serius, seperti skizofrenia.



Dampak Perilaku Homoseksual

Perilaku homoseksual ini mempunyai beberapa dampak negatif, antara lain sebagai berikut.

1.      Seorang homo tidak mempunyai keinginan terhadap wanita. Jika mereka melangsungkan perkawinan maka isterinya tidak akan mendapatkan kepuasan biologis, dan akibatnya suami isteri menjadi renggang
2.    Perasaan sesama jenis membawa kelainan jiwa yang menimbulkan suatu sikap dan perilaku yang ganjil, karena seorang yang homo kadang berperilaku sebagai laki-laki dan wanita.
3.     Mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit kelamin seperti kanker anal, kanker mulut dan mengakibatkan rusaknya saraf dan otak akibat melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis.
4.    melemahkan akal dan menghilangkan semangat kerja dsb.


Cara Mengatasi Perilaku Homoseksual dan Lesbian

Perilaku ini dapat diatasi dengan terapi. Yang paling utama dalam terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang kuat yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Sedangkan agar meminimalisir kemungkinan homoseksualitas maka pada saat masih kanak-kanak, individu harus diberikan pendidikan secara proporsional oleh kedua orang tua. Seorang ayah harus memerankan perannya sebagai seorang bapak yang baik dan begitu pula seorang ibu harus memerankan perannya sebagai seorang ibu secara baik pula. Oleh karena itu pola asuh orang tua yang baik dapat meminimalisir kemungkinan individu menjadi homoseksual.



Pandangan Bioetika Terhadap Homoseksual
Seksualitas berkaitan dengan standar pelaksanaan agama dan etik Jika keputusan seksual yang ia buat melawati batas kode etik individu maka akan menimbulkan konflik internal, seperti perasaan bersalah, berdosa dan lain-lain. Spektrum sikap mengenai seksualitas memiliki rentang mulai dari pandangan tradisional (hubungan seks hanya boleh dalam perkawinan)  sampai dengan sikap yang memperbolehkan sesuai dengan keyakinan individu tentang perbuatannya.

Akan tetapi meskipun agama memegang peranaan penting,keputusan seksual pada akhirnya diserahkan pada individu, sehingga sering timbul pelanggaran etik atau agama. Seperti yang dikemukakan Denney & Quadagno (1992) bahwa seseorang dapat menyatakan pada publik bahwa ia meyakini sistem sosial tertentu tetapi berperilaku cukup berbeda secara pribadi. Misalnya: Seseorang meyakini kalau hubungan sex diluar nikah itu tidak diperbolehkan menurut agama atau etika, tapi karena kurang bisa mengendalikan diri, ia tetap melakukan juga.Michael et al (1994).


Homoseksual Ditinjau dari Segi Norma Masyarakat

Homoseksualitas umumnya di Indonesia dianggap sebagai tindakan yang asusila karena telah melanggar norma-norma yang ada di dalam masyarakat selain itu juga merupakan pelanggaran terhadap hukum-hukum negara dan agama, namun pandangan tentang homoseksual di luar negeri tidaklah selalu sama, misalnya

a.     Tindakan homoseksual disahkan di inggris pada tahun 1967 dan usia homoseksual telah disetujui antara usia 18 ke 21 dan sekarang menjadi 16, undang-undang yang paling baru menjelaskan homoseksual bahwa:
1)       Tidak diizinkan untuk melakukan hubungan seks di tempat umum. 
2)       Sejak Februari 2000, laki-laki gay dan perempuan telah diizinkan untuk melayani di militer.
3)       Civil Partnership Act (2004) menciptakan hukum baru dari kemitraan sipil bahwa di mana dua orang dari jenis kelamin yang sama dapat membentuk sebuah keluarga dengan menandatangani dokumen registrasi.

b.    Aljazair, homoseksualitas adalah ilegal dan  pelakunya dapat dipenjara maksimal 2 tahun penjara.

c.     Mesir, homoseksualitas tidak secara khusus dilarang tetapi tidak dianjurkan.

d.    Uganda, semua tindakan homoseksual adalah ilegal dan mendapat hukuman maksimum seumur hidup tetapi hukuman mati masih dipertimbangkan.

e.     Kanada, homoseksualitas dan segala hal yang terkait seperti perkawinan jenis kelamin sama dan adopsi jenis kelamin yang sama hukumnya legal.

f.      Republik Dominika, homoseksualitas sama seks dan adopsi seks tidak dihukum.

g.    Cina, sejak tahun 1997 pernikahan seks sama dan adopsi tidak dihukum.



Homoseksual Ditinjau dari Segi Sosial Budaya

Dampak  sosial  Budaya merupakan  suatu  pengaruh    dari  hasil  suatu  kegiatan  atau peristiwa,  bisa  terhadap  diri  sendiri,  orang  lain,  bahkan  masyarakat,  serta  bangsa  dan negara.  Secara  sosial,  dampak  dari  eksisnya  komunitas  homoseksual  adalah,  mereka  mulai berani untuk menunjukan keberadaan mereka demi mendapatkan pengakuan. Walaupun jalan  untuk  bisa  diakui  masih  sangat  panjang.  Kondisi  tersebut  diakibatkan  kita  masih menganut budaya ke-Timur-an yang terkenal dengan budaya kesopansantunannya.  Tetapi bukan berarti dengan  mereka  memilih  identitas dirinya  menjadi  seorang homoseks,  mereka tidak santun.  Hanya  saja  stigma  yang  telah  melekat  di  masyarakat  terlanjur  memandang “miring” komunitas homoseksual. Padahal komunitas homoseksual ini sudah ada bahkan dari jaman dahulu dan tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya.



Homoseksual Ditinjau dari Segi Hukum Indonesia

Dilihat dari segi hukum, bahwa perilaku homoseksual belum dianggap melanggar hukum karena belum ada peraturan yang mengikat tentang homoseksual. Dengan demikian homoseksual bukanlah kejahatan menurut hukum Indonesia, akan tetapi homoseksual dapat menjadi kejahatan jika :

a.    Pelakunya Orang dewasa
Hanya orang dewasa-lah yang menurut hukum mempunyai pertanggungjawaban pidana jika melakukan kejahatan homoseksual ini, selain orang dewasa tidak dapat dikenakan pasal ini, anak-anak tidak bisa terkena pasal ini, artinya anak-anak yang melakukan kejahatan homoseksual tidak masuk kualifikasi pasal ini.

b.    Yang dilakukan “orang dewasa” tersebut adalah perbuatan cabul dengan sesama kelamin.
Perbuatan cabul atau “pencabulan” adalah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu berahi kelamin, misalnya : cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada dan sebagainya (R. Soesilo, 1976 : 183).  Perbuatan mana dilakukan oleh “orang dewasa” terhadap orang lain yang kelaminnya sama, pria dewasa kepada pria, wanita dewasa kepada wanita.

c.     Korban perbuatan cabul tersebut harus “orang yang belum dewasa”.
Syarat mutlak homoseksual menjadi kejahatan, korbannya haruslah “orang yang belum dewasa” atau anak dibawah umur, yang menurut KUHP belum berumur 16 tahun sedangkan menurut UU Peradilan Anak/UU Pengadilan anak, belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.


Contoh Artikel Kasus Homoseksual

Pada kasus ini menceritakan sebuah koran di Uganda yang menampilkan nama-nama orang yang mengalami gangguan homoseksual. Hal ini menyebabkan para pelaku homokseksual menjadi incaran warga Uganda. Pemicunya adalah tidak dilanjutkannya pembahasan mengenai UU Homoseksual di Uganda.Sejak dimuatnya artikel ini pada 9 Oktober 2010, sedikitnya empat kaum gay Uganda menjadi sasaran kekerasan dan banyak di antaranya berusaha menyelamatkan diri dan bersembunyi. Pelecehan juga dialami yang berupa penimpukan batu ke rumah mereka serta kekerasan fisik. Koran yang memuat ada Rolling Stones yang mengakibatkan sebagian masyarakat Uganda mengalami homophobia. Setelah koran itu terbit, Pemerintah Uganda mengeluarkan larangan terbit bagi koran tersebut. Pelarangan terbit bukan lantaran materi berita, namun karena koran itu memang ilegal.

Dalam kasus diatas terdapat konflik antara masyarakat Uganda dengan komunitas gay di Uganda, pemicunya adalah tidak dilanjutkannya pembahasan UU homoseksual. Yang mengakibatkan kaum homoseksual itu menderita. Dilihat dari norma masyarakatnya dapat disimpulkan bahwa  norma masyarakat Uganda dikatakan mirip dengan Indonesia karena menganggap bahwa perilaku homoseksual adalah tidak pantas dan menyalahi kodrat. Dilihat dari segi hukum, wilayah Uganda belum memiliki UU yang mengatur homseksual, sehingga masih diragukan apakah homoseksual dilarang atau tidak. Ketertundaannya pembahasan UU Homoseksual mungkin ada beberapa faktor, namun hal ini memicu konflik pada masyarakat serta timbulnya homophobia yang mengakibatkan pelecehan pada kaum homo itu sendiri.

Pelarangan terbit pada koran Uganda yang memuat kaum gay tersebut tidak akan mengurangi masalah karena permasalahannya ada pada masyarakat. Karena masyarakat menganggap hal tersebut merupakan kelainan seksual yang sangat tidak pantas. Hal itu ditinjau dari norma masyarakat Uganda yang menyebutkan bahwa perilaku homoseksual dianggap sebagai perilaku yang tidak pantas dan abnormal, sehingga bila dilihat sudut pandang masyarakat dianggap melanggar.


Loading...

0 Response to "Homoseksual"

Posting Komentar