Intelligence Quotient (IQ)

Loading...


Intelligence Quotient (IQ)
Psikologi Pendidikan



A. Teori-Teori IQ

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta. Kecerdasan yang paling utama dimiliki manusia adalah Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Intelektual atau Inteligensi adalah kemampuan potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berpikir. IQ (Intelligence Quotient) adalah kemampuan atau kecerdasan yang didapat dari hasil pengerjaan soal-soal atau kemampuan untuk memecahkan sebuah pertanyaan dan selalu dikaitkan dengan hal akademik seseorang. Banyak orang berpandangan bahwa IQ merupakan pokok dari sebuah kecerdasan seseorang sehingga IQ dianggap menjadi tolak ukur keberhasilan dan prestasi hidup seseorang. Kecerdasan ini ditemukan pada tahun 1912 oleh William Stem yang digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang.

Dengan daya pikirnya, manusia berusaha mensejahterakan diri dan kualitas kehidupannya. Pentingnya menggunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam.Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan keMahakuasaan Sang Pencipta (Allah SWT).

Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap

Masing-masing individu tersebut. Kecerdasan intelektual (IQ) diyakini menjadi sebuah ukuran standar kecerdasan selama bertahun-tahun. Bahkan hingga hari ini pun masih banyak orangtua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (intelligence quotient) di atas level normal (lebih dari 100). Syukur-syukur kalau bisa jadi anak superior dengan IQ di atas 130. Harapan ini tentu sah saja. Dalam paradigma IQ dikenal kategori hampir atau genius kalau seseorang punya IQ di atas 140. Albert Einstein adalah ilmuwan yang IQ-nya disebut-sebut lebih dari 160.

Namun, dalam perjalanan berikutnya orang mengamati, dan pengalaman memperlihatkan, tidak sedikit orang dengan IQ tinggi, yang sukses dalam studi, tetapi kurang berhasil dalam karier dan pekerjaan. Dari realitas itu, lalu ada yang menyimpulkan, IQ penting untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi kemudian jadi kurang penting untuk menapak tangga karier. Untuk menapak tangga karier, ada sejumlah unsur lain yang lebih berperan. Misalnya saja yang mewujud dalam seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa bisa ia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes ia berkomunikasi dan menangkap bahasa tubuh orang lain. Unsur tersebut memang tidak termasuk dalam tes kemampuan (aptitude test) yang ia peroleh saat mencari pekerjaan. Pertanyaan sekitar hal ini kemudian terjawab ketika Daniel Goleman menerbitkan buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (1995).

Sebelumnya, para ahli juga telah memahami bahwa kecerdasan tidak semata-mata ada pada kemampuan dalam menjawab soal matematika atau fisika. Kecerdasan bisa ditemukan ketika seseorang mudah sekali mempelajari musik dan alat-alatnya, bahkan juga pada seseorang yang pintar sekali memainkan raket atau menendang bola. Ada juga yang berpendapat kecerdasan adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan, dan lainnya beranggapan kecerdasan adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan seterusnya. Kemudian dari berbagai hasil penelitian, telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peran yang jauh lebih significant disbanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak (IQ) barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya (hampir seluruhnya terbukti) mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Terbukti banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, terpuruk di tengah persaingan. Sebaliknya banyak orang yang kecerdasan intelektualnya biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja, pegusaha-pengusaha sukses, dan pemimpin-pemimpin di berbagai kelompok. Disinilah kecerdasan emosi atau emotional quotient (EQ) membuktikan eksistensinya.

Tujuh dimensi menurut Robbins (2001:58) dalam kecerdasan intelektual adalah:
1. Kecerdasan angka, merupakan kemampuan untuk menghitung dengan cepat dan tepat
2. Pemahaman verbal, merupakan kemampuan memahami apa yang dibaca dan didengar
3. Kecepatan persepsi, merupakan kemampuan mengenali kemiripan dan beda visual dengan cepat dan tepat
4. Penalaran induktif, merupakan kemampuan mengenali suatu urutan logis dalam suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah itu
5. Penalaran deduktif, merupakan kemampuan menggunakan logika dan menilai implikasi dari suatu argumen
6. Visualilsasi spasial, merupakan kemampuan membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisinya dalam ruang dirubah
7. Daya ingat, merupakan kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu


Teori Triarkis Stenberg

Menurut teori inteligensi triarkis dari Robert J. Stenberg (1986, 200), inteligensi muncul dalam bentuk : analitis, kreatif, dan praktis.

      Inteligensi analitis adalah kemampuan untuk menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan, dan mempertentangkan.
      Inteligensi kreatif adalah kempuan untuk mencipta, mendesain, menciptakan, menemukan, dan mengimajinasikan.
      Inteligensi praktis focus pada kemampuan untuk menggunakan, mengaplikasikan, mengimplementasikan, dan mempraktikkan.

Strenberg mengatakan bahwa murid dengan pola triarkis yang berbeda akan “tampak berbeda” di sekolah. Murid dengan kemampuan analitis yang tinggi cenderung lebih disukai dalam sekolah umum (konvensional). Mereka sering kali mudah menyerap pelajaran dimana guru member pelajaran dan murid diberi ujian. Mereka biasanya dianggap murid “pintar” yang mendapat nilai/rangking bagus, nilainya selalu bagus, nilai baik dalam tes inteligensi dan SAT, dan mudah masuk universitas.

Murid yang punya inteligensi krreatif tinggi biasanya bukan rangking atas dalam kelas. Stenberg mengatakan bahwa murid yang kreatif mungkin tidak dapat menyelesaikan tugas pelajaran sesuai harapan guru. Mereka tidak member jawaban yang lazim atau tepat, tetapi jawaban yng unik atau aneh, sehingga sering dimarahi atau disalahkan. Guru yang baik tidak akan menghambat kreativitas murid, tetapi Sternberg percaya bahwa seringkali keinginan guru untuk meningkatkan pengetahuan murin justru menekan pemikiran kreativitasnya.

Seperti murid inteligensi kreatif yang tinggi, murid dengan inteligensi praktis seringkali mengalami kesulitan memenuhi keinginan sekolahh. Namun, murid ini seringkali berprestasi di luar kelas. Meraka mungkin memiliki keahlian social yang bagus dan pemahaman umum yang baik. Saat dewasa, mereka terkadang menjadi manajer sukses, pengusaha, atau politikus, meskipun catatan reastasi sekolahnya biasa-biasa saja.

Stenberg percaya bahwa hanya ada sedikit tugas yang murni analitis, kkreatif, atau praktis. Umumnya tugas-tugas membutuhkan kombinasi keahlian-keahlian itu.


Teori Multiple Inteligence

Howard Gardner percaya bahwa ada banyak tipe inteligensi spesifik atau kerangka pikiran. Kerangka ini dideskripsikan bersama dengan contoh perkejaan yang meerefleksikan kekuatan masing-masing kerangka :

         Keahlian verbal : kemampuan untuk berpikir denga kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis, wartawan, pemibcara)
         Keahlian matematika : kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika (ilmuwan, insinyur, akuntan)
         Keahlian spasial : kemampuan untuk berfikir tiga dimensi (arsitek, peerupa, pelaut)
         Keahlian tubuh-kinestetik : kemampuan untuk memanipulsi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet)
         Keahlian musical : sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara (composer, musisi, pendengar yang sensitive)
         Keahlian intrapersonal : kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupann dirinya secara efektif (teolog, psikolog)
         Keahlian interpersonal : kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain (guru teladan, professional kesehaan mental)
         Keahlian naturalis : kemampuan untuk mengamatti pola-pola di alam dan memahami system alam dan system buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah)
Gardner percaya bahwa masing-masing bentuk inteligensi dapat dihancurkan oleh pola kerusakan otak tertentu, yang masing-masing melibatkan keahlian kognitif yang unik, dan masing-masing tampak dalam cara unik baik di dalam diri orang berbakat atau idiot (individu yang mengalami retardasi mental tetapi punya bakat hebat dalam domain tertentu seperti music, melukis, atau perhitungan numeric).


B. Definisi IQ

Intelligent Quotient (IQ) adalah angka yang diperoleh dari sebuah tes kecerdasan. IQ berkaitan erat dengan intelegensi, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Dalam sebuah proses pembelajaran intelegensi bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu materi tersampaikan dan terserap oleh siswa.

Intelligence Quotient adalah potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berfikir. Digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan belajar. Kecerdasan ini erat kaitannya dengan kemampuan Kognitif (penalaran) yang dimiliki oleh individu. Untuk mengetahui IQ tersebut, terhadap seseorang harus dilakukan tes Inteligensi dan dari hasil test tersebut bisa terlihat gambaran “tingkatan intelgensi” orang tersebut yang hasilnya disebut dengan IQ (Intelligence Quotient).

Kecerdasan ini terletak di otak bagian kortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan seseorang kemampuan untuk : berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta Inovasi (pembaharuan). atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologi dengan “What I Think” (apa yang saya pikirkan).

IQ merupakan interpretasi hasil tes inteligensi (kecerdasan) ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat inteligensi seseorang (Azwar, 2004:51). Alfred Binet dan Theodore Simon mendefinisikan inteligensi sebagai suatu kemampuan yang terdiri dari tiga komponen, yaitu: a) Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, b) Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilakukan, dan c) Kemampuan untuk mengeritik diri sendiri (Azwar, 2004:5). Sejalan dengan hal itu, David Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif (Azwar, 2004:7). Raymond Bernard Cattell.

Anastasia (2001 : 220) mengatakan IQ adalah ekspresi dari tingkat kemampuan individu pada saat tertentu, dalam hubungan dengan norma usia yang ada sehingga inteligensi bukanlah kemampuan tunggal tetapi merupakan kumpulan dari berbagai fungsi. Istilah ini umumnya digunakan untuk mencakup gabungan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk bertahan dan maju dalam budaya tertentu.

Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain. Intelectual Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari perancis pada awal abad ke 20. Kemudian Lewis ternman dari unuversitas stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal dengan test Stanford-Binet. Pada saat itu IQ dipahami sebagai pokok dari sebuah kecerdasan seseorang sehingga IQ dianggap menjadi tolak ukur keberhasilan dan prestasi hidup seseorang. Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan orang tersebut kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Kecerdasan intelektual merupkan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Prakarsa kedua orang di atas menghasilkan test Stanford-Binet, yang digunakan untuk mengukur kecerdasan anak yang boleh masuk sekolah biasa atau sekolah luar biasa.

Dalam pandang Stanford-Binet- IQ dipandang sebagai berikut :
1.  Kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan tujuan tertentu, semakin cerdas seseorang, semakin cakaplah ia menentukan tujuan tersebut, dengan tidak mudah membelokkan tujuan tersebut,
2.  Kemampuan untuk menyelesaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan tersebut,
3.  Kemampuan untuk melakukan otokritik, yang terwujud dalam kemampuan untuk mencari kesalahan yang telah diperbuatnya dan memperbaiki kesalahan tersebut.

IQ (Intelligence Quotient) adalah kemampuan atau kecerdasan yang didapat dari hasil pengerjaan soal-soal atau kemampuan untuk memecahkan sebuah pertanyaan dan selalu dikaitkan dengan hal akademik seseorang.

Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak akan ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan, diolah dan diinformasikan kembali pada saat dibutuhkan. Proses dalam menerima, menyimpan dan mengolah kembali informasi biasa disebut “berfikir”. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan otak manusia.

Ada lima dimensi kemampuan intelektual, yaitu :
1. Kognisi, yang merupakan operasi pokok intelektual dalam proses belajar,
2. Mengingat merupakan proses mental primer untuk retensi atau menyimpan dan reproduksi segala sesuatu yang diketahui intelektual,
3. Berfikir divirgen, yaitu operasinya  jelas mencakup potensi bakat kreatif, yang bertugas mencoba sesuatu,
4. Berfikir konvergen, yaitu berfikir yang menghasilkan informasi dari informasi yang sudah ada, yang hasilnya ditentukan oleh respon yang diberikan,
5. Evaluasi, yaitu kemampuan mencari keputusan atau mencari informasi dari kriteria yang memuaskan

Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intelligence Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang dapat ditentukan seorang tersebut umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan genetik yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu disamping faktor gizi makan yang cukup.

IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai orang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi maasuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.


C. Perkembangan IQ

Istilah IQ pertama kali dikemukakan William Stern (1912), Tahapan perkembangan intelektual (perkembangan kognitif/perkembangan mental) anak selalu mengikuti tahapan-tahapan mulai dari sensori-motor (0 – 2 tahun), praoperasional (2 – 7 tahun), operasional konkret (7 – 11 tahun), dan selanjutnya operasional formal (11 tahun ke atas). Irama perkembangan pada setiap tahap berbeda-beda dari anak yang satu dengan anak yang lain. Interval yang diacu oleh Jean Piaget hanyalah acuan umum. Menurut hasil penelitian Piaget, ada 4 faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan intelektual (mental) anak, yaitu:

1.               Kematangan (maturation). Perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan proses perubahan fisiologis dan anatomis akan mempengaruhi perkembangan kognitif. Faktor kedewasaan atau kematangan ini berpengaruh pada perkembangan intelektual tapi belum cukup menerangkan perkembangan intelektual.

2.              Pengalaman Fisik (Physical Experience). Pengalaman fisik terjadi karena anak berinteraksi dengan lingkungannya. Tindakan fisik ini memungkinkan anak dapat mengembangkan aktivitas dan gaya otak sehingga mampu mentransfernya dalam bentuk gagasan atau ide. Dari pengalaman fisik yang diperoleh anak dapat dikembangkan menjadi matematika logika. Dari kegiatan meraba, memegang, melihat, berkembang menjadi kegiatan berbicara, membaca dan menghitung.

3.               Pengalaman Sosial (Social Experience). Pengalaman sosial diperoleh anak melalui interaksi sosial dalam bentuk pertukaran pendapat dengan orang lain, percakapan dengan teman, perintah yang diberikan, membaca, atau bentuk lainnya. Dengan cara berinteraksi dengan orang lain, lambat laun sifat egosentris berkurang. Ia sadar bahwa gejala dapat didekati atau dimengerti dengan berbagai cara. Melalui kegiatan diskusi anak akan dapat memperoleh pengalaman mental. Dengan pengalaman mental inilah memungkinkan otak bekerja dan mengembangkan cara-cara baru untuk memecahkan persoalan. Di samping itu pengalaman sosial dijadikan landasan untuk mengembangkan konsep-konsep mental seperti kerendahan hati, kejujuran, etika, moral, dan sebagainya.

4. Keseimbangan (Equilibration). Keseimbangan merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat fungsi kognitif yang semakin tinggi. Keseimbangan dapat dicapai melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi menyangkut pemasukan informasi dari luar (lingkungan) dan menggabungkannya dalam bagan konsep yang sudah ada padaotak anak. Akomodasi menyangkut modifikasi bagan konsep untuk menerima bahan dan informasi baru.

Dalam perkembangannya, pandangan terhadap kecerdasan ini mengarah pada pemikiran bahwa terdapat hubungan secara fungsional antara kecerdasan intelektual dengan emosi seseorang. Rappaport dalam risetnya di tahun 1970-an menyimpulkaan bahwa emosi tidak hanya dibutuhkan dalam penerimaan, pengorganasian dan pemanggilan informasi yang ada di memory. Orang tidak akan pernah mencapai kesuksesan dalam bidang apapun kecuali mereka menyenangi bidang itu. Jadi untuk mengoptimalkan kecerdasan intelektual yang biasa disebut dengan accelereated learning, tidak dapat dicapai tanpa bantuan aktifitas emosional yang positif.

Kematangan intelektual menjadi  prasyarat pelajar yang baik bagi siswa. Demikian juga kematangan psikologis dan kepribadian. Kematangan intelektual bisa menjadi prakondisi atau kondisi, diperlukan proses belajar yang lama dan intensif bagi terwujudnya intelektual siswa. Kematangan intektual yang dicapai melalui sebuah proses merupakan “kondisi”. Intelektual siswa yang sudah matang menjadi prakondisi bai kematangan intelektualisasi lanjutan.

Salah satu ciri kematangan intelektual siswa adalah kemampuannya mentoleransi ketidakpastian, menahan persetujuan, kemampuan untuk kontradiksi, serta mengakui manfaat atas konsep dan pendapat yang berlawanan tanpa skeptisme dan rivalitas. Orang sudah matang intelektualnya tidak akan mengembangkan sikap antagonistik ketika terjadi perbedaan pendapat , mengkaji ulang simpulan yang meragukan dan mencoba mengambil manfaat atas konsep atau teori yang berbeda dari perspektif lain. Baginya, sikap skeptis menjadi penting tetapi tidak berlebihan , apalagi selalu skeptis dengan perilaku, tindakan atau pemikiran orang lain.


D. Strategi Pengembangan IQ

Cara Meningkatkan Intelektual :

    Membuat Dialog internal Pemberdayaan

Dialog sangat memiliki pengaruh terhadap kemampuan anak. Dialog yang negatif dapat mendorong anak mengalami kegagalan. Anak yang merasa rendah diri, akan mengalami pemiskinan intelektualitas. Sedangkan sebaliknya, dialog positif dapat meningkatkan keberhasilan anak meraih masa depan.

Para ilmuwan percaya, ada hubungan signifikan antara pikiran dan tubuh anak. Pikiran depresi akan menekan energi dan motivasi. Selain itu, juga mengurangi kemampuan anak berpikir jernih dan melakukan tindakan tepat. Anak-anak yang depresi cenderung mengalami keraguan dan sulit berpikir jernih. Depresi dapat mengguncang keteguhan sehingga anak-anak tidak dapat mengenali apa yang benar-benar dapat dicapai dan tidak.

Ciptakan sebuah dialog internal positif yang dapat meningkatkan kinerja intelektual anak. Yakni sebuah cara menghilangkan pemikiran subyektif dan membangun kepercayaan diri, mengajarkan anak bagaimana mempraktekkan tanggapan positif.

   Tanamkan kata-kata
Contoh :   Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa.

    Latihan Pengendalian Pernapasan Anak

Salah satu metode efektif dan efisien merangsang proses mental anak adalah pengendalian bernafas. Penelitian menunjukkan, anak-anak memiliki performa akademis yang lebih baik ketika mereka melakukan latihan pernafasan sebelum tes atau tugas.

Latihan pernafasan ini terbukti dapat mengurangi rasa cemas ketika menghadapi ujian. Selain itu, pernafasan yang meningkatkan aliran oksigen ke otak dapat meningkatkan daya ingat, konsentrasi dan kemampuan pemecahan masalah.

Caranya cukup mudah. Ajarkan anak menghitung sampai lima saat bernafas kemudian sampai lima lagi saat nafas keluar. Ulangi cara bernafas ini sekitar 6 kali atau kurang lebih satu menit.  Instruksikan anak untuk mengulang latihan pernafasan setiap kali Ia akan mengerjakan tugas, menghadapi ujian maupun situasi pemecahan masalah yang lain.

Latihan ini perlu diulang berkali-kali agar anak terbiasa. Hal yang patut digaris bawahi mengenai latihan pernafasan, perhatikan cara menarik dan membuang nafas yang lebih cocok untuk dilakukan.


     Lakukan Olah Raga Mental

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mengasah kemampuan anak. Bermain  mampu merangsang pikiran, terutama permainan berbasis strategi. Selain itu, game juga mengasah kemampuan verbal, daya konsentrasi, persepsi dan penalaran.

Berikut  beberapa permainan yang direkomendasi untuk membangun otak yang dapat dilakukan bersama keluarga: Catur, Tebak kata, Puzzle Matematika


     Meningkatkan Intelektual dengan Interaksi Verbal Keluarga  

Jangan menjauhkan anak-anak dari percakapan keluarga hanya ketidak mengertiannya. Libatkan anak-anak dalam percakapan karena ini juga membantu mengembangkan ketrampilan bahasa dan kosa kata. Tak hanya anak-anak usia sekolah, justru terutama anak berusia 16 hingga 26 bulan dimana kemampuan bahasanya sedang berkembang pesat

Tak peduli usia anak, bicarakan topik yang menarik minat mereka  seperti sekolah, teman, hobi, aktivitas, beberapa proyek kreativitas, perjalanan, dan hal-hal menarik lainnya. Apapun yang muncul dari interaksi ini akan membuat anak merasa dihargai serta berkembang lebih cerdas.


     Dorong Anak untuk Membaca Repetitif

Membaca membantu anak mengoptimalkan potensi intelektualnya. Selain itu, aktivitas membaca bersama dapat memelihara bahasa cinta dan memperkuat ikatan orang tua-anak.


E. Pengukuran IQ

IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Indeks Kecerdasan atau skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologi), maka akan diperoleh skor 1 Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kematangan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Dengan membandingkan IQ seseorang dengan suatu normal klasifikasi akan dapat diketahui apakah orang tersebut termasuk dalam kelompok mereka yang memiliki kapasitas intelektual superior atau tidak. Penetapan pembatas angka IQ berbeda-beda karena perbedaan tes IQ yang digunakan dan perbedaan kepentingan dari hasil klasifikasi tersebut (Azwar 2006:135).

Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah Test Culture Fair Intelligence (C.F.I.T), terdiri dari tiga skala yang disusun oleh Raymond B. Cattell dan sejumlah staf penelitian dari Institute of Personality and Ability Testing (I.P.A.T) di Universitas Illions, Amerika Serikat. Tes ini digunakan subyek berusia antara 13 tahun sampai dewasa. Menurut teori ”Fluid and Cryctallized Ability” dari Raymond B. Cattell, tes ini untuk mengukur Fluid Ability yaitu yang dibawa seseorang sejak lahir.

Di dalam perkembangannya terbentuklah Crystallized Ability yaitu faktor-faktor kemampuan yang diperoleh dari lingkungan disekitar dirinya. Sampai seberapa jauh peranan Crystallized Ability seseorang adalah tergantung dari potensi Fluid Ability yang dimilikinya.

Kemampuan intelektual ini dapat diukur dengan suatu alat tes yang biasa disebut IQ (Intellegence Quotient). Pengukuran kecerdasan intelektual tidak dapat diukur hanya dengan satu pengukuran tunggal. Para peneliti menemukan bahwa tes untuk mengukur.

Dari batasan yang dikemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa Intelektual itu ialah faktor total berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya termasuk ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya. Kita hanya dapat mengetahui intelegensi dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Intelegensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui kelakuan intelektualnya.

Rumus kecerdasan umum, atau IQ yang ditetapkan oleh para ilmuan adalah :
IQ =  x 100
                      Dimana :

IQ              =  Nilai IQ
MA           =  Mental Age
CA             =  Usia individu


Misalnya anak pada usia 3 tahun telah punya kecerdasan anak-anak yang rata-rata baru bisa berbicara seperti itu pada usia 4 tahun. Inilah yang disebut dengan usia mental. Berati IQ si anak adalah 4/3 x 100 = 133. Interpretasi dari IQ adalah sebagai berikut :

TINGKAT KECERDASAN
IQ
Genius
Di atas 140
Sangat super
120 – 140
Super
110 – 120
Normal
90 – 110
Bodoh
80 – 90
Perbatasan
70 – 80
Dungu
50 – 70
Inbecile
25 – 50
Idiot
0 - 25



Debil/Moron :
·         Angka IQnya 50 – 69
·         Dapat menulis dan membaca, sehingga dapat bekerja dengan pekerjaan yang sederhana
·         Pengendalian emosinya kurang
·         Mudah terlibat pada tingkah laku yang kurang baik
·         Tingkah laku debil dewasa seperti anak berusia 7 – 10 tahun

Imbecile :
  • Tingkat IQnya sekitar 25 – 49
  • Dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa bantuan orang lain, misalnya berpakaian, makan, minum
  • Dapat dilatih melakukan pekerjaan yang sederhana dan bersifat rutin, misalnya mengambil telur dari kandang
  • Masih membutuhkan perawatan
·         Imbecile dewasa tingkah lakunya seperti anak berusia 5 – 7 tahun

Idiot :
·         Mempunyai IQ kurang dari 25
·         Merupakan tingkatan feeble minded yang paling berat
·         Tidak dapat mengurus dirinya sendiri
·         Tingkatan yang terberat anak idiot hanya dapat berbicara beberapa kata

Mengikuti test IQ sudah seharusnya juga melihat usia pada saat mengikuti test tersebut. Disampaikan pula, bahwa nilai IQ dapat suatu ketika turun, naik dan stabil. Untuk mengasah / meningkatkan IQ dapat dilakukan usaha untuk menjaga kesehatan, menjaga gizi makanan, dan rangsangan untuk mengasah otak itu sendiri.


By Muliana G.H., S. Pd, mata Kuliah Psikologi Pendidikan.


Loading...

0 Response to "Intelligence Quotient (IQ)"

Posting Komentar