Ordo Squamata - Kelas Reptil

Loading...

SQUAMATA

Ordo Squamata – Reptil

Ciri-ciri ular :
  Tubuh tertutupi oleh sisik
  Tanpa kaki
  Lidah bercabang
  Permukaan verntral memiliki sisik yang berukuran lebih besar dari dagu sampai vent (mendekati ekor)
  Mata dilindungi oleh kutikula transparan, pada jenis blind snake mata vestigial ditutupi oleh sisik
  Tanpa membran telinga eksternal
  Tulang tengkorak kecil dengan beberapa tulang dapat bergerak




1. Rostral
2. Anterior nasal
3. Inter nasal
4. Posterior nasal
5. Loreal
6. Prefrontal
7. Preokular
8. Supraokular
9. Postokular
10. Anterior temporal
11. Posterior temporal
12. Supra/upper labial
13. Sub/lower labial

Sistem Reproduksi :

  Jantan
1) Memiliki alat kelamin khusus : HEMIPENIS
2) Sepasang testis
3) Memiliki epididimis
4) Memiliki vas deferens

  Betina
1) Memiliki sepasang ovarium
2) Memiliki saluran telur (oviduk)
3) Berakhir pada saluran kloaka



  Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium.
  Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka.
  Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis.
  Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis.
  Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis.
  Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet.
  Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.
  Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk
  Saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah.

Sistem Integumen :
  • Tubuh reptil umumnya tertutupi oleh sisik-sisik yang beraneka bentuk, terkecuali anggota suku Amphisbaenidae yang tak bersisik.
  • Sisik-sisik itu dapat berukuran amat halus, seperti halnya sisik-sisik yang menutupi tubuh cecak, atau pun berukuran besar seperti yang dapat kita amati pada tempurung kura-kura.
  • Sisik-sisik itu berupa modifikasi lapisan kulit luar (epidermis) yang mengeras oleh zat tanduk, dan terkadang dilengkapi dengan pelat-pelat tulang di lapisan bawahnya, yang dikenal sebagai osteoderm.


Beberapa bentuk sisik yang umum pada reptil adalah: 
  sikloid (cenderung datar membundar), 
  granular (berbingkul-bingkul), dan 
  berlunas (memiliki gigir memanjang di tengahnya, seperti lunas perahu).

Perbedaan bentuk dan komposisi sisik-sisik ini pada berbagai bagian tubuh reptil biasa digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan tersebut.



Integument pada Reptilia umumnya juga tidak mengandung kelenjar keringat. Lapisan terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit (ekdisisis). 

Ekdisis pada ular


Osmoregulasi pada ular
  suhu tubuhnya bergantung dengan suhu lingkungannya. Ular kehilangan sebagian panas dengan cara pendinginan secara evaporasi dari permukaan lembab yang terpapar ke lingkungan. Konveksi juga turut berkonstribusi terhadap hilangnya panas ular, ketika ada aliran air atau udara yang lewat di atas bagian tubuhnya.
   Evaporasi dari sistem respirasi ular dapat ditingkatkan dengan cara panting (menjulurkan lidah ke luar).
  Ular mengenali keberadaan musuh dengan panas yang dihasilkan dari tubuh musuhnya melalui organ pembau (organ jacobson) yang berada di dalam rongga hidung ular.

  Bisa ular keluar dari gigi maksila yang panjangnya kurang lebih 4 cm. di dalam gigi terdapat saluran yang terhubung ke kelenjar bisa. Begitu ular menggigit, kelenjar ini berkontraksi dan mengalirkan bisa dengan kekuatan dahsyat, melalui saluran di dalam gigi ke tubuh korbannya.



Ada tiga tipe taring bisa menurut letaknya di rahang atas, yakni:

  Opistoglypha, terletak pada bagian belakang rahang atas, pendek dan permanen. Terdapat pada beberapa jenis ular anggota famila Colubridae, contohnya: ular cincin emas, buhu, ular bajing, dan lain sebagainya.
  Proteroglypha, terletak pada bagian depan rahang atas. Permanen dan relatif pendek. Sebagian besar anggota famili Elapidae (kobra, ular anang, ular laut, ular cabe, dan sebagainya) memiliki taring bisa tipe ini.
  Solenoglypha, terletak pada bagian depan rahang atas, panjang dan melengkung serta dapat dilipat ke atas. Tipe taring bisa pada semua anggota famili Viperidae (bandotan puspo, edor, truno bamban, dsb)

Kontraksi mulut ular
  1. Pertautan lebih besar dari ukuran mulutnya? Ujung dua mandibula oleh ligamentum yang elastis,
  2. Tulang kuadrat bebas dari tulang kepala dan mandibula
  3. Tulang langit -langit bergerak bebas (sehingga mulut dapat terbuka lebar
  4. Tidak ada tulang dada dan rusuk bebas sehingga dada dapat dilatasi

Tidak sesak nafaskah...?
  1. Kulit lunak dan elastis
  2. Esophagus dan ventrikulus dapat melebar. Ketika menelan mangsa yang besar, pernapasannya tidak terganggu karena glottis terletak jauh di depan diantara rahang di belakang lidah.



Autotomi
  Putusnya ekor cicak merupakan perilaku dari bagian tubuh cicak sebagai pertahanan diri apabila ada musuh yang mengancam.
  Apabila ada musuh, cicak memutuskan ekornya, dengan terputusnya ekor maka gerakan cicak akan lebih cepat untuk menghindari musuh.
  Tulang belakang di persendian antara ekor dan pelvis (pinggul) lemah dan mudah terputus, jadi ketika ada musuh yang mengancam, maka ekor cicak akan terputus dengan mudah.
  Hilangnya ekor sebenarnya terjadi karena kontraksi antara otot di posterior pelvis sehingga dapat memutuskan tulang belakang dan menyebabkan ekor putus. Otot sphincter di ekor yang berkontraksi disekitar arteri caudal sehingga saat ekor putus minim darah.



Loading...

0 Response to "Ordo Squamata - Kelas Reptil"

Posting Komentar