Pendekatan Salingtemas

Loading...

Pendekatan Salingtemas


A.  Pengertian Pendekatan Sains, Lingkungan, Tekonologi, dan Masyarakat

Pendekatan Sains, Lingkungan, Tekonologi, dan Masyarakat biasa disingkat Pendekatan Salingtemas. Pendekatan Salingtemas dalam bahasa Inggris disebut ‘’Science, Environment, Technology, and Society’’ atau disingkat SETS, merupakan suatu pendekatan yang melibatkan unsur sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (Poedjiadi, 2005; Yani, 2013). Pembelajaran dengan strategi ini merupakan perpaduan dari strategi pembelajaran STS (Science, Technology, and Society) dan EE (Environmental Education) (Yani, 2013).

Salingtemas dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Keempat makna ini merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar siswa memiliki kemampuan berpikir sampai mencapai tingkat tinggi. Keempat elemen pada pendekatan ini saling berinteraksi dalam membahas suatu konsep (Utomo, 2008; Risnasari, 2011).

Penggunaan pendekatan Salingtemas adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegratif dengan memperhatikan keempat unsur Salingtemas, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang dimiliki. Sebagai konsekuensinya, diharapkan agar pengetahuan yang dipahaminya secara mendalam itu akan memungkinkan mereka memanfaatkan pengetahuan yang dimilki dalam kehidupan. Maksudnya ialah pendidikan Salingtemas ditunjukkan untuk membentuk peserta didik mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara timbal balik (Binadja, 2002; Yani, 2013).


B.      Tujuan Pendekatan Salingtemas

Pembelajaran berwawasan kemasyarakatan merupakan pembelajaran yang diselenggarakan dengan menggunakan berbagai potensi (sumber daya) yang ada pada lingkungan masyarakat, yang terdiri atas sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya budaya, dan sumber daya teknologi (Hatimah et al., 2007).Kurikulum yang berbasis masyarakat berguna bagi siswa untuk memberikan kemungkinan dan kebiasaan untuk akrab dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Kemungkinan lain mencegah dari keterasingan lingkungan, terbiasa dengan budaya dan adat istiadat setempat, dan berusaha mencintai lingkungan hidup (Sa’ud, 2010).

Tujuan pendekatan ini secara umum sebagaimana diungkapkan oleh  Rusymansyah  (2006; Nurohman, 2008) adalah agar para siswa mempunyai bekal pengetahuan yang cukup sehingga ia mampu mengambil keputusan penting  tentang masalah-masalah dalam masyarakat dan sekaligus dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya.

Pembelajaran Salingtemas dalam pendidikan menurut Pedersen, memiliki dua visi dan tujuan, yaitu; (1) Salingtemas melibatkan siswa dalam pengalaman dan isu-isu/masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan mereka; dan (2) Salingtemas memberdayakan siswa dengan berbagai keterampilan sehingga mereka menjadi warna negara yang bertanggung jawab dan lebih aktif merespon isu atau masalah yang mempengaruhi kehidupan mereka (Depdiknas, 2007; Risnasari, 2011).

Pendekatan Salingtemas harus memberikan kepada siswa pengetahuan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya.Isi pendidikan Salingtemas diberikan sesuai dengan hasil pendidikan yang ditargetkan. Hubungan yang tepat antara salingtemas dalam pembahasannya adalah keterkaitan antara topik dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa bahasan yang berkaitan dengan kehidupan siswa harus lebih diutamakan (Yani. 2013).

Beberapa pandangan tersebut dapat disederhanakan bahwa model Salingtemas dikembangkan dengan tujuan agar; (1) siswa mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas; (2) siswa mampu menggunakan berbagai jalan/prespektif untuk menyikapi berbagai isu/situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah; dan (3) siswa mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki tanggungjawab sosial (Nurohman, 2008; Yani, 2013).


C.  Implementasi Pendekatan Salingtemas dalam Pembelajaran Biologi

Materi pembelajaran pada pendidikan formal sudah terangkum dalam kurikulum yang sifatnya baku. Akan tetapi, dalam pelaksanaan pembelajaran berwawasan kemasyarakatan, guru harus kreatif mengintegrasikan materi dengan pembelajaran dengan kehidupan siswa. Hal ini sangat penting dilakukan, supaya siswa tidak merasa asing dengan materi yang diterimanya sehingga siswa dapat mencerna tentang materi pembelajaran untuk dihubungkan dengan pengalaman hidupnya (Hatimah et al., 2007)

Pembelajaran IPA dikembangkan dengan pendekatan sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat (Salingtemas) untuk mewujudkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan lingkungan. Dalam proses pembelajarannya, IPA tidak hanya mempelajari konsep-konsep tetapi juga diperkenalkan pada aspek teknologi dan bagaimana teknologi itu berperan di masyarakat serta bagaimana akibatnya pada lingkungan (Depdiknas, 2008).

Pembelajaran sains dengan pendekatan yang mencakup aspek teknologi dan masyarakat mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara konvensional. Perbedaan tersebut meliputi; kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Dengan mengkaitkan serta mengaplikasikan bahan pelajaran sains ke teknologi dan masyarakat, diharapkan  siswa  dapat  menghubungkan  materi  yang  dipelajari  dengan kehidupan  sehari-hari,  serta  perkembangan  teknologi  dan  relevansinya.  Dengan pengkaitan dan pengaplikasian tersebut kreativitas siswa untuk lebih banyak bertanya dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan efek dari hasil observasi makin meningkat. Selain itu, sikap siswa dalam bentuk kesadaran akan pentingnya mempelajari sains untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi melalui proses sains yang benar juga meningkat (Poedjiadi, 2000; Depdiknas, 2008).

Keunggulan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Salingtemas ini  adalah selalu menghubungkan proses belajar mengajar dengan kejadian nyata yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari (bersifat kontekstual) dan komprehensif. Melalui pendekatan Salingtemas ini diharapkan siswa dapat memandang sesuatu secara terintegratif, yaitu dengan memperhatikan unsur-unsur yang terdapat dalam Salingtemas. Guru dapat menghubungkan konsep-konsep sains yang diajarkan dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Diharapkan dapat membantu siswa menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari agar pembelajaran yang dilakukan di  sekolah  bermanfaat  bagi  masyarakat  dengan  tetap memperhatikan  dampaknya  terhadap lingkungan (Nurcahyani et al., 2011).

Nuray, Inci Morgil, dan Secken, (2010; Nurcahyani et al., 2011) dalam jurnalnya yang berjudul The effect of science, technology, society, environment (STSE) interactions on teaching chemistry berpendapat bahwa pembelajaran berdasarkan pendekatan Salingtemas berpengaruh positif terhadap hubungan antara peserta didik dengan dunia nyata, mendorong siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan  berfikir kritis dalam memberikan solusi pada suatu pokok permasalahan di lingkungan sekitar. Siswa belajar lebih memahami suatu topik secara mendalam jika dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan metode konvensional. Diharapkan dengan pendekatan Salingtemas ini siswa menjadi semakin peka terhadap lingkungan alam sekitar, mengingat Indonesia sebagai negara tropis dengan beragam kekayaan sumber daya alamnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Titin et al. (2010) yang berjudul Pembelajaran Biologi Menggunakan Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap Peduli Lingkungan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dan sikap peduli lingkungan mahasiswa. Model STM tersebut dapat dilaksanakan dengan baik menggunakan lima tahapan yakni; orientasi pada masalah, pembentukan konsep, aplikasi konsep, pemantapan konsep dan penilaian.

Pembelajaran IPA Terpadu menjadi salah satu alternatif  pembelajaran  yang  membawa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari akan mampu memberikan  ruang bagi  peserta didik untuk memperoleh pengalaman langsung, sehingga akan membuat peserta didik  lebih aktif,  lebih  mengerti, lebih tertarik,  lebih  berkesan  dan  lebih  memacu siswa  untuk mempelajarinya  lebih  lanjut.  Banyak ahli yang menyatakan bahwa pembelajaran IPA (fisika, kimia dan biologi)  yang disajikan secara terpisah-pisah dianggap terlalu dini bagi anak usia 7-14 tahun karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak.

Isu aktual belakangan ini seperti global warming, pencemaran lingkungan, sumber energi alternatif dan teknologi sederhana yang bermanfaat sedang menjadi pembicaraan yang menarik dalam masyarakat. Sungguh sangat bijaksana bila  dalam pembelajaran IPA Terpadu peserta didik diajak dan diarahkan untuk mempelajari isu-isu aktual yang sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat. Dengan demikian pendekatan pembelajaran berbasis Salingtemas sangat tepat  diterapkan dalam pembelajaran sains. Dalam pembelajaran berbasis Salingtemas  ini  peserta  didik  dibawa pada  suasana yang  dekat dengan kehidupan nyata  sehingga diharapkan siswa dapat mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah  yang  diprediksikan akan  muncul  di  sekitar  kehidupannya. Misalnya dengan terjadinya  kelangkaan bahan bakar fosil 50 atau 100 tahun yang akan datang, siswa harus dikenalkan dengan energi-energi alternatif seperti biogas, yang kini mulai dikenal masyarakat (Sugiyanto et al., 2013).


D.    Langkah Pembelajaran Salingtemas – STM

Pengimplementasian STM dalam pembelajaran menurut Dass (1999; Mahmuddin, 2009) perlu ditempuh dengan empat langkah kegiatan kelas yang secara komprehensif merupakan upaya mengembangkan pemahaman murid dan pelaksanaan suatu proyek STM yang berhubungan preservice  guru. Keempat langkah pembelajaran tersebut adalah fase invitasi atau undangan atau inisiasi, eksplorasi, mengusulkan penjelasan dan solusi, dan mengambil tindakan.

1.     Fase invitasi
Tahap pertama, guru melakukan brainstorming dan menghasilkan beberapa kemungkinan topik untuk penyelidikan.Topik dapat bersifat global atau lokal, tetapi harus merupakan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan bagi siswa (Mahmuddin, 2009).

2.    Fase eksplorasi
Tahap kedua, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan, dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999; Mahmuddin, 2009).

3.     Fase mengusulkan penjelasan dan solusi
Tahap ketiga, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan-rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999; Mahmuddin, 2009).

4.    Fase mengambil tindakan
Temuan yang dilaporkan dalam fase ketiga (mengajukan penjelasan dan solusi) menjadi dasar bagi siswa menerapkan temuan-temuan mereka dalam beberapa bentuk aksi sosial.Jika tindakan ini melibatkan masyarakat sebagai pelaksana, misalnya membersihkan daerah berbahaya siswa dapat menghubungi pejabat publik yang dapat mendukung pikiran dan temuan mereka.Siswa menyajikan informasi ini kepada rekan-rekan kelas mereka. Proposal ini akan dimasukkan sebagai tindakan follow up (Dass, 1999; Mahmuddin, 2009).
Penilaian terhadap proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan STM menurut Yagger (1994; Mahmuddin, 2009) dapat dilakukan dengan menggunakan lima domain sebagai berikut; (1) Konsep, yang meliputi penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi; (2) Proses, penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep atau penyelidikan; (3) Aplikasi, penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan; (4) Kreativitas, pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk mevalidasi penjelasan secara personal; dan (5) Sikap, mengembangkan perasaan positif dalam sains, belajar sains, guru sains dan karir sains.
Alur pembelajaran STM berbeda pula menurut Poedjiadi (2006; Novrizal, 2010).Alurnya dapat dilihat pada gambar berikut.
Description: D:\001.JPG
Gambar 1. Model Pembelajaran STM

E.   Hambatan Pendekatan Salingtemas dalam Pembelajaran
Pembelajaran IPA Terpadu berbasis Salingtemas tentunya juga mempunyai kendala-kendala. Salah satu kendalanya adalah minimnya referensi/bahan ajar sebagai sarana untuk menunjang pembelajaran (Sugiyanto et al., 2013). Mitchener & Anderson (1989; Mahmuddin, 2009), melaporkan hasil penelitian tentang perspektif guru dalam penyusunan dan pelaksanaan sebuah pembelajaran dengan pendekatan STM bahwa guru memiliki hambatan dalam penerapan pendekatan ini dan menunjukkan kekhawatiran berupa ketidaknyamanan dengan pengelompokan, ketidakpastian tentang evaluasi, dan frustrasi tentang populasi siswa, dan kebingungan peran guru.

1.     Peran guru

Kekhawatiran terhadap konten dapat terjadi karena persentasi waktu yang rendah bagi peran guru dalam transfer pengetahuan kepada siswa. Guru lebih banyak berperan dalam mengarahkan pengetahuan siswa pada upaya penemuan masalah dan konseptualisasi berdasarkan disiplin ilmu. Penanaman konsep lebih banyak dilakukan pada momen tertentu secara tepat, sehingga memiliki tingkat retensi yang lebih lama.

Hambatan lain dalam penerapan pendekatan ini adalah siswa belum terbiasa untuk berpikir kritis dan belajar mengambil pengalaman di lapangan, sehingga dibutuhkan kesabaran dan ketekunan guru untuk mengarahkan dan membimbing siswa dalam pembelajaran. Untuk menerapkan pendekatan ini, peranan guru dimulai dari perencanaan pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, motivator dan pembimbing.Pendekatan STM menuntut kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian yang baik (Aisyah, 2007; Mahmuddin, 2009).

2.   Kompetensi guru

Kompetensi guru sangat penting dalam pembelajaran STM, terutama dalam penguasaan materi inti, problem solving dan hubungan interpersonal.Umumnya guru belum memiliki pengetahuan yang baik tentang pendekatan STM sehingga penerapan pendekatan ini masih sangat jarang ditemukan.Selain itu, paradigma guru dalam menginterpretasikan dan mengembangkan kurikulum, masih berbasis konten sehingga guru merasa dituntut untuk menyampaikan materi tepat pada waktunya dan lupa berinovasi dalam pembelajaran (Mahmuddin, 2009).

3.    Populasi siswa

Sekolah dengan populasi siswa yang tinggi dalam kelas, dapat menjadi masalah tersendiri. Jika kelompok yang dibentuk dalam kelas banyak, guru akan kewalahan dalam pendampingan kelompok dan pembimbingan kajian masalah. Sedangkan ketika kelompok dikurangi (populasi dalam kelompok tinggi) konsekuensinya dapat terjadi peran yang tidak efektif bagi siswa. Sehingga penggunaan pendekatan STM, harus dirancang untuk melibatkan pihak lain dalam proses pembelajaran (Mahmuddin, 2009).

4.   Kompleksitas masalah dan sumber informasi

Kompleksitas masalah dan sumber informasi yang dapat terlibat dalam pembelajaran STM, harus dapat disikapi secara profesional oleh guru.Ketepatan masalah yang dipilih oleh siswa untuk dikaji sangat ditentukan oleh peran guru dalam mengekspos fakta-fakta.Penentuan prosedur analisis dan sumber data yang akurat, memerlukan bimbingan dan arahan dari guru.Demikian pula, dalam hal kajian data dan konseptualisasinya dibutuhkan peran guru dalam memberikan klarifikasi dan penguatan atas hasil-hasil kerja dari tiap kelompok.

Kompleksitas masalah dan sumber informasi juga berimplikasi pada beragamnya fokus anak dalam mengkaji konsep pengetahuan.Konsekuensinya, dibutuhkan kecermatan dalam menyusun alat evaluasi terutama pada domain penguasaan konsep.Penggunaan alat penilaian yang variatif, dapat meningkatkan akurasi data yang dibutuhkan dalam mengevaluasi perkembangan anak (Mahmuddin, 2009).

5.    Waktu

Waktu merupakan faktor penting untuk menentukan materi-materi apa yang akan diajarkan pada siswa. Pelaksanaan seluruh fase pembelajaran pada konten tertentu, kadang-kadang membutuhkan waktu yang panjang sehingga memerlukan analisa yang baik untuk memilih dan mengalokasikan waktu untuk implementasinya. Siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data dari narasumber secara mendetail. Oleh karena itu, siswa harus kerjasama dengan baik antar anggota kelompok agar data yang diperoleh dapat maksimal. Beberapa sekolah memilih waktu di sore hari atau jalur ekstrakurikuler untuk penerapan STM agar tidak terganggu dengan aktivitas belajar yang lain. Bahkan, gelar kasus (show case) yangdilanjutkan dengan refleksi diri, biasanya dilaksanakan pada akhir semester (Aisyah, 2007; Mahmuddin, 2009).

6.    Biaya
Biaya merupakan faktor yang penting dalam implementasi STM.Biaya dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan STM dari mulai identifikasi masalah, sampai pelaksanaan gelar kasus (show case).Umumnya, pihak sekolah belum mengalokasikan biaya untuk kegiatan pembelajaran STM.Oleh karena itu, pihak sekolah khusunya hendaknya memberi dorongan moril maupun materil untuk terselenggaranya penerapan STM ini.Dalam hal dorongan materil, dapat dirintis pembiayaan penerapan metode ini secara swadaya (Aisyah, 2007; Mahmuddin, 2009).

7.      Kerjasama sekolah dengan lembaga terkait
Kerjasama antara sekolah dengan lembaga-lembaga terkait diperlukan pada saat siswa merencanakan untuk mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu.Misalnya, mengunjungi rumah sakit daerah, observasi pada pabrik produk bahan makanan, dan sebagainya. Untuk kelancaran kegiatan, siswa perlu dibekali surat pengantar dari sekolah, atau sekolah melakukan pemrosesan izin ke lembaga yang terkait sebelum kegiatan dilaksanakan. Selain itu, komunikasi dengan orang tua perlu diintensifkan. Orang tua perlu diberi pemahaman sehingga seluruh aktivitas siswa yang menyita waktu dapat dimaklumi atau mendapat support dari orang tua (Aisyah, 2007; Mahmuddin, 2009)

Loading...

0 Response to "Pendekatan Salingtemas"

Posting Komentar