Sholat

Loading...

Sholat



Shalat bagi Umat Islam dalam Perspektif Filsafat

Shalat adalah kewajiban bagi umat Islam yang bersifat dogmatis. Meskipun demikian, shalat juga merupakan aktifitas fisik yang bisa diteliti secara empirik, rasional dan kejiwaaan. Oleh karena itu, shalat bisa dikaji dengan menggunakan paham empirisme, rasional dan psikologisme.  Selain itu dengan memperhatikan fenomena yang sering dijumpai di masyarakat adanya kesenjangan antara perilaku orang yang shalat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam shalat, maka shalat  juga bisa dikaji dengan menggunakan paham fenomenologis. Shalat adalah ibadah yang terdiri dari tiga komponen, yaitu niat, bacaan dan gerakan. Oleh karena itu, shalat juga bias dikaji dengan pendekatan hermeneutika.


Menurut Paham Empirisme

Kata `shalat' dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai doa atau sembahyang, dan juga permohonan ampun, belas kasih, dan kasih sayang. Para sarjana Barat sayangnya telah salah dalam mengemukakan konsep shalatyang benar dengan menerjemahkan kata itu hanya sebagai `doa' atau`sembahyang'. Sebenarnya, praktik salat sangat khusus dan merupakan cirri kehidupan religius yang sangat unik dan pokok dalam Islam. Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan pernah berkata,"Yang membedakan antara orang yang beriman kepada Allah dengan orang yang tidak beriman kepada-Nya adalah pelaksanaan shalat."Sholat menurut bahasa berarti do’a, sedang menurut istilah adalah suatu bentuk ibadah yang terdiri dari perbuatan dan ucapan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Dan telah diwajibkan kepada manusia untuk beribadah kepada Allah SWT(QS.2:21). Shalat sekaligus merupakan praktik lahir dan batin: serangkaian latihan jasmani, dan makanan ruhaniah yang paling kaya. Dengan membicarakan tiap aspek ini secara agak detail, kita dapat mengetahui mengapa kaum sufi dalam banyak hal berpikir lebih baik mati daripada tidak shalat.Praktik shalat dilaksanakan paling sedikit pada lima interval waktu yang tetap selama sehari dan dapat dikerjakan pada waktu-waktu lainnyasesuai dengan kemampuan si pelaku. Waktu-waktu pelaksanaan ditetapkan menurut perjalanan matahari dan planet-planet di langit.Kajian ini dibahas secara empiris berdasarkan penelitian beberapa ahli dan dokter yang dikaitkan dengan pengalaman dan fakta di alam.

Setiap peralihan waktu shalat, sebenarnya bersamaan dengan terjadinya perubahan energi alam yang dapat diukur dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang akrab dengan dunia fotografi.

5 waktu shalat yang ditetapkan dalam islam adalah :

1.               Shalat subuh pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam fisiologi, tiroid memiliki pengaruh terhadap sistem metabolisme tubuh manusia. Warna biru muda juga memunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rezeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur pulas pada waktu subuh akan menghadapi masalah rezeki dan komunikasi. Hal ini terjadi karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika ruh dan jasad masih tertidur. Pada saat adzan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkat optimum. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu rukuk dan sujud.

2.              Shalat zhuhur pada waktu zhuhur, warna alam menguning dan berpengaruh terhadap perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga memiliki pengaruh terhadap hati. Di samping itu, warna kuning juga memunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan seseorang. Jadi, mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan shalat zhuhur berulang-ulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaannya serta berkurang keceriaannya.

3.               Shalat Ashar pada Saat ashar, warna alam berubah menjadi oranye. Hal ini memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi prostat, uterus, ovary, testis, dan sistem reproduksi secara keseluruhan.
Warna oranye di alam juga bisa memengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang kerap tertinggal waktu ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu, organ-organ reproduksi juga akan kehilangan energi positif dari warna alam tersebut.

4.              Shalat magrib pada menjelang maghrib, warna alam berubah menjadi merah. Pada waktu itu, kita kerap mendengar nasihat orang-orang tua agar kita tidak berada di luar rumah. Nasihat tersebut ada benarnya karena saat maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini, jin dan iblis amat bertenaga karena mereka beresonansi atau ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang berada dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan shalat maghrib. Hal itu lebih baik dan lebih aman karena pada waktu ini banyak interferens atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan dapat menimbulkan fatamorgana yang dapat merusak penglihatan kita.

5.             Shalat Isya ketika waktu isya’, alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu isya’ menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Mereka yang kerap ketinggalan waktu isya’ akan sering merasa gelisah. Ketika alam diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan jiwa dan raga. Dengan tidur waktu itu, kondisi jiwa kita berada pada gelombang delta dengan frekuensi di bawah 4 Hz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu istirahat.

Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu, dan kemudian ungu. Perubahan warna ini selaras dengan frekuensi kelenjar pineal (otak kecil), kelenjar pituitary (bawah otak), thalamus, dan hypothalamus. Maka, kita sepatutnya bangun dari tidur pada waktu ini dan mengerjakan shalat malam.

Demikian sebagian kecil dari penjelasan Prof. Riset. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS. dalam bukunya, “The Science of Shalat”. Ia menguraikannya secara luas tentang lautan hikmah shalat menurut ilmu pengetahuan atau sains. Bahkan, lebih jauh lagi ia mengupas shalat laksana sebagai suatu kesatuan utuh antara kesehatan, ibadah, rezeki, psikologi, dan lain sebagainya. Tentu nilai manfaat yang terkandung di dalam shalat ini jika diaplikasikan, tidak hanya akan mengantarkan seseorang menuju ketakwaan, tapi juga bisa menggapai hidup yang paripurna dan bahagia. (Quantum Media )

Selain kajian tentang waktu-waktu shalat, faham ini  juga membahas tentang gerakan-gerakan shalat secara aksiologi. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya seorang dokter ,menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat syaraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar shalat lima waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.secara terperinci gerakan-gerakan shalat yang di maksud adalah :

a.Takbiratul Ihram

Postur : berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalumelipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dankekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darahmengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian keduatangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

 b.Rukuk

Postur : Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehinggabila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

Manfaat : Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantungsejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah.Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahuhingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegahgangguan prostat.

c.I'tidal

Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat keduatangan setinggi telinga.Manfaat: Ftidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud.Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik.Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaransecara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

d. Sujud

Postur : Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dandahi pada lantai. Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisijantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimalke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu,lakukan sujud dengan tuma'ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

e. Duduk

Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk(tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubungdengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri padapangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih(urethra), kelenjar kelamin pria (prostat) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

f.Salam

Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.


Secara terperinci manfaat shalat oleh beberapa ahli adalah :

Shalat Memacu Kecerdasan
          Gerakan sujud dalam sholat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari bokongnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh,gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Apabila melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. 

Perindah Postur
 Gerakan-gerakan dalam sholat mirip yoga atau peregangan (stretching).Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan sholat dibandingkan gerakan lainnya adalah sholat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

Mudahkan Persalinan

Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectusabdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).


Perbaiki Kesuburan

Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam sholat ada dua macam sikap duduk,yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir).Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot?otot daerah perineum.Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang,yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

 Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum.Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kakikanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.


Awet Muda
               
Pada dasarnya, seluruh gerakan sholat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel- sel yang rusak dapat segera tergantikan.Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruhbesar pada kekencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkanwanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

Secara estetika shalat menurut paham empirisme terletak pada khusuknya shalat yang memberikan kebahagiaan dan ketenangan yang menciptakan keindahan dalam perbuatan dan gerakan shalat yang dilakukan seseorang.nilai etis dan perbuatan akan membentuk moral yang baik, dengan melakukan shalat yang  khusuk akan mempengaruhi moral dan tingkah laku seseorang.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/08/08/lplo1n-hasil-riset-gerakan-shalat-yang-benar-ternyata-menyehatkan


Menurut Paham Rasionalisme

Menurut paham ini shalat dimaknai secara rasional dan logis, Sholat adalah sebuah ritual agama di Islam yang berbentuk gerakan dan do’a. Ritual dimana kita diajarkan untuk patuh kepada Tuhan dengan siap sedia melakukan ritual tersebut sesuai dengan waktu dan tempatnya serta cara-caranya. Sholat itu menghindarkan kita terhadap perbuatan munkar, tentunya ketika kita sudah melakukan sholat dengan khusyu dan tuma’ninah artinya kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan sepenuhnya dan siap untuk melakukan apa yang dianjurkan maupun menghindari apa larangan-Nya kepada kita karena kita sudah mempunyai kepatuhan atas ritualistik yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai bentuk kepatuhan kita kepada-Nya. Secara rasional, hal ini nyata dan memiliki kebenaran karena  dikaitkan secara empiris dengan pengalaman shalat khusuk dan tumanina yang dapat menghindarkan dari kemungkaran.


Menurut paham fenomenologisme

Kebiasaan yang bersifat ritual, akan tetap bertahan sampai masa tua selama hal tersebut menjadi sebuah ritual yang dapat diterima secara menyeluruh oleh orang yang melakukannya. Seperti fenomena di lingkungan masyarakat, seseorang yang telah membawa ritual mereka sejak kecil hingga di usia mereka yang ke-65 tahun lebih. Pengaruh lingkungan terutama dari orang tua dan teman sebaya sangat berperan penting terhadap pembentukan sikap ataupun perilaku. Pemaknaan terhadap sesuatu tergantung bagaimana orang memposisikan hal tersebut dalam hidupnya, misalnya seseorang memaknai shalat berjamaahnya sebagai wadah mempererat tali silaturrahmi, sedangkan sebagian lagi memaknainya sebagai sumber tabungan pahala karena tidak ingin menyia-nyiakan kelebihan umur mereka. Shalat berjamaah dapat memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan. ada 3 aspek yang mendapatkan dampak dari ritual  shalat berjamaah ini. Dari fisik, seseorang mengaku sehat secara fisik, tidak memiliki riwayat penyakit yang parah, bahkan tidak pernah merasakan perawatan rumah sakit ataupun suntikan. Tampak pula dari postur tubuh mereka yang masih tegap, serta masih tangkas melakukan berbagai  aktivitas. Pada psikologis, seseorang mengaku menjadi disiplin berkat ritual shalat berjamaah ini. Sedangkan dampak pada sosial, seseorang mengaku  menjadi lebih peduli pada sekitarnya, baik masalah kabar tetangga ataupun menyebarkan keutaman shalat berjamaah pada orang-orang sekitarnya.


Menurut Paham Psikologisme

Menurut paham ini Shalat berkaitan dengan jiwa dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dengan  membentuk karakter cerdas spiritual, emosional, sosial, dan personal.

Cerdas Spritual

Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Shalat bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi merupakan kebutuhan manusia secara spritual. Semakin dekat diri kita kepada Allah semakin tenang jiwa kita, tidak mudah berkeluh kesah.  Oleh karena itu, seorang mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang dan akan terhindar dari sifat keluh kesah, gelisah, serta bakhil (kikir). 

Allah berfirman dalam surat Ar Ra’du  (13:28), “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra’d 28). Menurut Dadang Hawari  dari sudut kesehatan jiwa, shalat merupakan pemenuhan salah satu kebutuhan dasar spritual manusia yang penting bagi ketahanan rohaniah dalam menghadapi berbagai stres kehidupan. Shalat adalah simbol penyerahan diri seorang muslim pada Allah SWT.
Cerdas Emosional

Hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma’ninah. Tuma’ninah mengandung arti tenang, konsentrasi, dan hadir dengan apa yang dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaan, tetapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan setiap orang sama derajatnya ketika shalat. Ini mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu’. Ketawadhu’an adalah cerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikat hidupnya. Bila kita tawadhu’ (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya.  Cirinya adalah ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya.

Shalat yang dilaksanakan secara berjamaah juga mendidik kita untuk menghilangkan sikap egois dan menumbuhkan sikap sabar, sebab kita tidak mungkin mengikuti kemuauan kita untuk ruku’, sujud mendahului imam atau melakukan salam lebih dahulu. Akan tetapi kita dituntut untuk taat dan bersabar mengikuti gerak-gerik seorang imam. Dengan demikian, semakin kita sering shalat berjamaah, maka semakin terdidik diri kita untuk mengendalikan atau melunakan sikap egoisme dan menumbuhkan sikap sabar dan sungguh-sungguh, seperti firman Allah, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk” (QS. Al Baqarah 45).  “Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar “(QS. Al Baqarah: 153).


Cerdas Sosial

Shalat selalu diakhiri dengan salam yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi kamu sekalian. Mengucapan salam ketika mengakhiri shalat merupakan ikrar bahwa kita  akan memberi garansi bahwa kita tidak akan pernah berbuat zalim, keji, dan kemungkaran pada orang lain.  Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Ini adalah kunci sukses karena setiap kali kita berbuat zalim, keji, dan kemaksiatan maka kezaliman dan kemaksiatan  itu akan kembali pada diri kita.
Dari aspek sosial, shalat berjamaah  merupakan manifestasi dari itihadul muslim (bersatunya umat Islam)  tanpa adanya pecah belah di antara mereka, tanpa memandang derajat antara kaya-miskin, dan shalat yang dilakuan secara jamaah akan menciptakan rasa  empati  terhadap sesama hingga akhirnya tercipta sebuah  rasa kasih sayang antar sesama muslim yang berawal dari ta’aruf (saling mengenal).

Cerdas Personal

Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams ayat 9-10, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya”. Dengan kata lain, siapa yang shalatnya khusyuk, maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih. Mulai dari dhahir, rumah harus bersih, bersih dari sampah, bersih dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih, mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Shalat memiliki rukun  dan urutan yang tertib. Jadi, hikmah  dari orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah cinta keteraturan. Ketidakteraturan hanya akan menjadi masalah. Shalat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya.


Menurut Paham hermeneutika

Pendekatan Hermeneutik merupakan hasil pemikiran manusia dalam menganalisis sebuah teks agar lebih kontekstual dalam seting masa yang relevan dengan era kekinian. Oleh karena itu, pendekatan ini bias digunakan untuk menganalisis ibadah shalat karena shalat selain merupakan ibadah yang terdiri dari gerakan juga di dalamnya terdapat bacaan. Berikut ini adalah contoh beberapa bacaan shalat yang bias dianalisis secara hermeneutic :

1)        Ucapan takbir
Mengawali shalat di awali dengan takbir yang disertai dengan mengangkat kedua tangan. Ucapan takbir tersebut mengandung makna bahwa yang besar hanya Allah saja, sementara selain Allah semuanya adalah kecil. Ucapan ini mengajarkan agar setiap muslim yang melaksanakan shalat memiliki sifat rendah hati.

2)       Doa iftitah
Di antara redaksi doa iftitah adalah “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin” yang mengandung arti “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah penguasa alam semesta”. Ucapan ini mengajarkan sikap ikhlas dalam menjalani kehidupan.

3)        Surah al-Fatihah
Salah satu ayat dalam surah al-Fatihah adalah “iyyaka na;budu wa iyyaka nasta’in” yang mengandung arti hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Ucapan ini mengajarkan sikap tawakkal dan kepasrahan diri kepada Allah

Ucapan salam
4)        Shalat diakhiri dengan ucapan salam. Ucapan ini mengajarkan bahwa setelah melaksanakan shalat, segala ucapan dan tindakan akan selalu diupayakan untuk mendatangkan keselamatn, kedamaian dan ketentraman untuk semua manusia bahkan untuk seluruh makhluk Allah swt. http://kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/05/definisi-hermeneutika.html.


By Muliana G. H., S. Pd - 2015
Loading...

0 Response to "Sholat"

Posting Komentar