Filsafat Semut yang Berhenti Sejenak Saat Bertemu

Filsafat Semut yang Berhenti Sejenak Saat Bertemu


1.       ONTOLOGI

Ontologi berarti sebagai suatu usaha intelekstual untuk mendeskripsikan sifat umum dari kenyataan, penjelasan yang benar mengenai kenyataan dan membahas sesuatu yang ada (Ihsan, 2010).



Semut, hewan kecil yang suka dengan gula,kita sering mengamati disekitar kita jika terdapat gula atau makanan yang manis diudara terbuka pasti semut ada disitu. Akan tetapi jika diperhatikan pada prilaku semut yang saat bertemu dengan semut lain pasti akan berhenti sejenak. Mengapa semut berhenti sebentar saat bertemu temannya.Semut yang berhenti sebentar bila bertemu dengan semut lainnya, sebenarnya semut itu sedang melakukan komunikasi. Tetapi manusia tidak dapat mengerti bahasa komunikasinya, hanya Allah dan Nabi Sulaiman yang tahu, karena Allah yang menciptakan dan Nabi Sulaiman punya mukjizat bisa berbicara dengan binatang.

Menurut seorang peneliti dari New York University yang bernama T.C.Schneirla, dia pernah mengadakan sebuah percobaan dengan semut.Dia mengambil seekor semut, lalu ditaruhlah semut itu dalam tempat yang berisi makanan. Semut yang lain ditaruh dalam tempat yang berisi semut-semut musuh. Lalu kelakuan kedua semut ini diamati, terutama ketika semut itu berpapasan dengan semut lainnya di jalan.

Dari penelitian itu, T.C.Schneirla menyimpulkan bahwa zat kimia yang dikeluarkan dari makanan dan semut musuh yang menempel pada semut itu, dan ketika semut yang terkena zat kimia makanan bertemu dengan semut lainnya, semut ini akan menyapa (bersentuhan) dengan semut yang tidak terkena zat kimia makanan. Dengan menyapa inilah zat kimia dari semut akan memberi tahu semut lainnya, melalui antena di kepala semut. Apakah di lingkungan sekitarnya ada makanan atau ada musuh.Jadi, alasan semut berhenti sebentar bila bertemu dengan semut lainnya, itu bertujuan memberi tahu semut lainnya, bahwa ada makanan atau musuh disekitarnya, melalui zat kimia yang menempel pada semut pembawa berita itu.

Sehingga, secara ontologis, semut semut yang bertemu antara satu sama lain akan berhenti sejenak. Hal ini sesuai dengan kenyataan dan ada.Dari substansi fenomenologik yang memiliki arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini dimana dari fenomena ini dapat kita lihat ada nilai sosial dan kominikasi yang terdapat pada bentuk prilaku semut tersebut.Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan secara rasional hal ini mungkin saja terjadi dimana semut melakukan komunikasi dimana ada signal signal dari enzim yang dihasilkan untuk memberitahukan adanya informasi mengenai makanan atau adanya musuh. Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.Hal ini sudah benar adanya karena sudah dibuktikan dengan adanya penelitian, secara agama ppun mengakuinya walaupun dalam agama menyebutkan bentuk kominikasi atau arti dari “pembicaraan” dari semut tersebut hanya Allah SWT dan Nabi Sulaiman AS yang mengetahuinya. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.Semut yang saling bertemu dan berhenti sejenak memiliki fungsi untuk melakukan komunikasi atau pertukaran informasi.



2.      EPISTEMOLOGI

Selain itu, Epistemologi memiliki arti lain, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis tentang asal mula, sumber, struktur, dan kebenaran pengetahuan.Epistemologi juga memiliki arti, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis, normatif dan evaluatif  mengenai proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia.

Semut adalah semua serangga anggota suku Formicidae, bangsa Hymenoptera. Semut memiliki lebih dari 12.000 jenis (spesies), sebagian besar hidup di kawasan tropika.Sebagian besar semut dikenal sebagai serangga sosial, dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur beranggotakan ribuan semut per koloni.Anggota koloni terbagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut.Dimungkinkan pula terdapat kelompok semut penjaga.Satu koloni dapat menguasai daerah yang luas untuk mendukung kehidupan mereka.Koloni semut kadangkala disebut "super organisme" karena koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan.

Meskipun ukuran tubuhnya yang relatif kecil, semut termasuk hewan terkuat di dunia. Semut jantan mampu menopang beban dengan berat lima puluh kali dari berat badannya sendiri, dapat dibandingkan dengan gajah yang hanya mampu menopang beban dengan berat dua kali dari berat badannya sendiri (wikipedia).

Jika kita melihat tubuh semut, ada semacam antena di depan kepalanya. Apabila semut berjalan dan bertemu temannya, semut akan saling menepukkan antenanya. Itu adalah cara “berkomunikasi” untuk memberi tahu dimana dia menjumpai makanan. Di sepanjang jalan, semut mengeluarkan zat yang disebut feromon, sebagai tanda pelacak bagi semut lain untuk menuju ke sumber makanan. Semut-semut lain akan mengikuti jejaknya dan tidak akan tersesat. Semut mempunyai zat kimia yang ditinggalkan sebagai bekas jejaknya dan temannya tinggal mengikuti si jejak tersebut. Coba saja kita gosok jalur semut dengan tangan, si semut akan kebingungan sebentar sampai akhirnya menemukan kembali jalur yang tepat.

Pertama-tama semut pencari pergi ke sumber makanan yang baru ditemukan. Lalu mereka memanggil semut lain dengan cairan yang mereka sekresikan dalam kelenjar yang disebut feromon. Saat kerumunan di sekitar makanan membesar, sekresi feromon membatasi pekerja lagi.Jika makanan sangat kecil atau jauh, pencari menyesuaikan jumlah semut yang mencoba mencapai makanan dengan mengeluarkan isyarat.Jika makanan besar, semut mencoba lebih giat untuk meninggalkan lebih banyak jejak, sehingga lebih banyak semut dari sarang yang membantu para pemburu.Apa pun yang terjadi, tak pernah ada masalah dalam konsumsi makanan dan pemindahannya ke sarang, karena di sini ada “kerja tim” yang sempurna.

Contoh lain berkaitan dengan semut penjelajah yang bermigrasi dari sarang ke sarang. Semut ini mendekati sarang tua dari sarang yang baru ditemukan dengan meninggalkan jejak. Para pekerja lain memeriksa sa-rang baru itu dan jika mereka yakin, mereka juga mulai meninggalkan feromon mereka sendiri (jejak kimiawi) di atas jejak lama. Oleh karena itu, semut yang berjalan di antara dua sarang itu meningkat jumlahnya dan mereka menyiapkan sarang.Selama pekerjaan ini, semut pekerja tidak bersantai.Mereka membangun organisasi dan pembagian kerja tertentu di antara mereka.

Semua kategori komunikasi yang disebut di atas dapat dikelompokkan dalam judul “Isyarat Kimiawi”.Isyarat kimiawi ini memainkan peran terpenting dalam organisasi koloni semut. Semiokemikal adalah nama umum zat kimia yang digunakan semut untuk tujuan menetapkan komunikasi. Pada dasarnya ada dua jenis semiokemikal, yaitu feromon dan alomon.

Alomon adalah zat yang digunakan untuk komunikasi antargenus. Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya, feromon adalah isyarat kimiawi yang terutama digunakan dalam genus yang sama dan saat disekresikan oleh seekor semut dapat dicium oleh yang lain. Zat kimia ini diduga di-produksi dalam kelenjar endokrin. Saat semut menyekresi cairan ini sebagai isyarat, yang lain menangkap pesan lewat bau atau rasa dan menanggapinya. Penelitian mengenai feromon semut telah menyingkapkan bahwa semua isyarat disekresikan menurut kebutuhan koloni. Selain itu, konsentrasi feromon yang disekresikan semut bervariasi menurut kedaruratan situasi

Feromon berasal dari bahasa Yunani (Pherein; membawa atau mentransfer, Hormone; ransangan). Feromon berarti zat kimia yang disekresikan oleh satu individu dan diterima oleh individu lainnya pada jenis yang sama, dan memberikan tanggapan berupa perilaku nyata (Releaser Pheromone) atau berpengaruh pada proses fisiologi (Primer Pheromone). Feromon hanya dapat direspon oleh individu pada jenis yang sama(Semiochemical), tetapi pada kasus yang berbeda feromon juga bisa direspon oleh jenis lain (Allelochemical) (Wyatt, 2003). Allelochemical biasanya ditemukan pada interaksi semut dengan serangga  lainnya, seperti interaksi semut dengan kutu daun (Aphididae).

Feromon pada satu jenis semut berbeda dengan jenis lainnya, karena susunan molekul kimia dari feromon tersebut juga berbeda. Feromon yang dihasilkan oleh semut berfungsi sama seperti jejaring sosial yang memberikan informasi kepada individu lainnya dalam jenis yang sama. Luas area penyebaran feromon yang dihasilkan tergantung pada jumlah volume feromon yang dihasilkan oleh semut. Informasi dengan mengunakan zat kimia (feromon) sangat efektif dibandingkan dengan informasi yang disampaikan dengan cara lain, seperti melihat, mendengar atau dengan sentuhan.Semut menggunakan feromon untuk memberikan informasi pada koloninya, seperti; lokasi makanan, alarm, waktu kawin dan sebagai tanda pengenal untuk koloninya. Feromon juga digunakan oleh semut untuk mengetahui letak sarangnya

Pada penelitian yang dilakukan oleh Mashaly et al menyatakan bahwa semut dengan jenis Pachycondyla sennaaraensis bisa membuat jalur menuju makanan atau suatu lokasi dengan menggunakan 0.1 gland equivalent/40 cm, maksudnya dengan menghasilkan feromon sebanyak 0,1 dari total feromon keseluruhan pada kelenjar, semut bisa membuat jalur sepanjang 40 cm. dan feromon ini hanya dihasilkan oleh kelenjar Dufour’s.Setiap informasi yang disampaikan melalui feromon akan direspon oleh semut lainnya dengan mengunakan Antena. Pada antena terdapat organ khusus untuk mendeteksi zat kimia terutama feromon.Dalam suatu kasus, semut mengidentifikasi semut yang ditemuinya dengan mendekatkan antena kepada semut tersebut, sehingga kita melihat semut tersebut seperti sedang bersalaman.

Penelitian ilmiah tentang semut pada abad ini me-nunjukkan adanya jaringan komunikasi yang luar biasa di antara makhluk ini. Dalam artikel di majalah National Geographic, hal ini dijelaskan dalam kepala semut terdapat organ-organ indra majemuk, besar dan kecil, untuk menangkap isyarat visual dan kimiawi yang vital bagi koloni, yang mungkin terdiri atas sejuta lebih pekerja, yang semuanya betina. Otaknya mengandung setengah juta sel saraf; matanya majemuk, antenanya berfungsi sebagai hidung dan ujung jari. Tonjolan di bawah mulut menjadi indra pengecap; bulu menjadi indra peraba.

Sekalipun tidak kita perhatikan, semut memiliki metode komunikasi yang cukup berbeda berkat organ pengindra mereka yang peka. Mereka menggunakan organ indra ini setiap saat dalam hidup mereka, dari menemukan mangsa hingga saling mengikut sesamanya, dari membangun sarang hingga bertarung. Sistem komunikasi mereka membuat kita – sebagai manusia yang berakal budi – kagum pada 500.000 sel saraf yang termuat dalam  2 atau 3 milimeter tubuh mereka. Harus kita ingat di sini, setengah juta sel saraf dan sistem komunikasi yang rumit tersebut dimiliki oleh semut yang ukuran tubuhnya hampir sepersejuta  tubuh manusia.

Komunikasi semut dengan bersentuhan antena dalam memelihara organisasi intrakoloni membuktikan penggunaan “bahasa antena” dalam arti sepenuhnya.Isyarat antena semut yang dilakukan dengan bersentuhan ini digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya dimulainya makan, ajakan, dan pertemuan sosial agar teman-teman sesarang saling mengenal. Contohnya, dalam sejenis spesies semut pekerja yang hidup di Afrika, para pekerja pertama-tama bersentuhan antena ketika bertemu. Di sini “berjabatan antena” berarti sapaan dan ajakan masuk sarang.

Gerakan ajakan ini sangat jelas dalam beberapa spesies semut (Hypo ponera).nSaat dua ekor pekerja bertemu berhadapan, semut pengajak memiringkan kepalanya ke samping 90 derajat dan menyentuh bagian atas dan bawah kepala temannya dengan antena. Semut yang diajak menanggapi dengan cara yang sama. Saat semut menyentuh tubuh teman sarangnya, tujuannya bukanlah memberi informasi, melainkan memperoleh informasi dengan mendeteksi zat kimia yang disekresi. Seekor semut mengetuk ringan tubuh teman sarangnya dan menyentuh kuat dengan antena. Kalau ia mendekati teman sarangnya, tujuannya adalah membawa isyarat kimiawi sedekat mungkin. Alhasil, ia akan mampu mendeteksi dan mengikuti jalur bau yang baru ditinggalkan temannya dan mencapai sumber makanan.

Contoh paling mencolok yang dapat diajukan untuk komunikasi dengan sentuhan ini adalah semut yang memberi makan semut lain dengan makanan yang disimpan dalam temboloknya, dengan cara mengeluarkan makanan itu dari mulutnya dengan sentuhan pendek. Dalam percobaan menarik yang dilakukan pada topik ini, berbagai bagian tubuh semut pekerja dari spesies Myrmica dan Formica distimulasi dengan bulu manusia dan berhasil dibuat mengeluarkan makanan cair dari mulut. Semut yang paling peka adalah semut yang baru makan dan sedang mencari teman sarangnya untuk berbagi apa yang baru dimakannya. Para peneliti mencatat bahwa beberapa serangga dan parasit menyadari adanya taktik semacam ini dan mereka mendapat makanan dengan mempraktikkan metode ini. Yang harus dilakukan serangga untuk menarik per-hatian semut hanyalah menyentuh tubuh semut sedikit dengan antena dan kaki depannya. Lalu semut yang disentuh akan memberikan makanannya, meskipun makhluk yang bersentuhan dengannya adalah makhluk jenis lain.


3.      AKSIOLOGI

Aksiologis adalah sebagai teori tentang niai membahas tentang hakikat nilai.Bagaimana suatu pengetahuan pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.  Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral atau nilai.

Silaturahmi memiliki sekian banyak manfaat yang sangat besar, di antaranya sebagai berikut:
1.        Dengan bersilaturahmi, berarti kita telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
2.       Dengan bersilaturahmi akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan mengetahui keadaan karib kerabat.
3.       Dengan bersilaturahmi, Allah akan meluaskan rezeki dan memanjangkan umur kita.
4.      Dengan bersilaturahmi, kita dapat menyampaikan dakwah, menyampaikan ilmu, menyuruh berbuat baik, dan mencegah berbagai kemungkaran yang mungkin akan terus berlangsunng apabila kita tidak mencegahnya.

5.       Silaturahmi sebagai sebab seseorang masuk surga.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ.
“Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi.”

Telah disebutkan bahwa semut hidup berkoloni dan di antara mereka terdapat pembagian kerja yang sempurna.Kalau dilihat lebih teliti, kita dapati sistem mereka memiliki struktur sosial yang cukup menarik.Mereka pun mampu berkorban pada tingkat yang lebih tinggi daripada manusia. Salah satu hal paling menarik  dibandingkan manusia, mereka tidak mengenal konsep semacam diskriminasi kaya-miskin atau perebutan kekuasaan. Banyak ilmuwan yang bertahun-tahun melakukan penelitian mendalam tak mampu menjelaskan perilaku sosial semut yang begitu maju. Caryle P. Haskins, Ph.D., kepala Institut Carnegie di Washington menyatakan: Setelah 60 tahun mengamati dan mengkaji, saya masih takjub melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut. Semut merupakan model yang indah untuk kita gunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan.

Al Quran memberi informasi menarik saat membicarakan tentara Nabi Sulaiman as.dan menyebut adanya “sistem komunikasi” yang maju di antara semut.

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. (Surat An-Naml: 18)

Kemampuan semut untuk memahami keinginan semut lain melalui sentuhan antena pendek ini menunjukkan bahwa semut mampu, dapat dikatakan, “berbicara” di antara mereka. Bagaimana “bahasa antena” antar semut ini dipelajari oleh semua semut adalah topik lain yang layak dipikirkan. Apakah mereka mengikuti pelatihan tentang ini?Membicarakannya berarti kita juga harus membicarakan adanya Yang Maha-kuasa yang memberikan pelatihan.Karena semut tak mungkin melakukannya, Yang Mahakuasa ini adalah Allah, yang melalui ilham mengajari bahasa untuk berkomunikasi kepada semua semut.

Maka dari bberapa dari prileku semut, ada 4 hal yang bisa kita teladani dari nilai filosofi semut :
1.        Jangan pernah menyerah
2.       Berpikir selangkah lebih maju
3.       Berpikir dan bersikap positif

Lakukan sebanyak mungkin apa yang dapat Anda lakukan. Jangan terjebak pada peristiwa masa lalu, bangkitlah dan lakukan sesuatu yang berguna untuk masa depan Anda”.

Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Mengapa Semut Berhenti Sejenak Jika Bertemu Dengan Semut Lainnya. https://gakadaide.wordpress.com/2013/06/03/mengapa-semut-berhenti-sejenak-jika-bertemu-dengan-semut-lainnya/.Di akses di Makassar tanggal 15 Desember 2014.

Hariana, Fitri. 2013. Mengapa Semut Berjalan Beriringanhttp://fitrihariana.blogspot .com/2013/03/mengapa-semut-berjalan-beriringan.html. Di akses di Makassar tanggal  15 Desember 2014.

Jacke.2013 Tahukah Mengapa Semut Berhenti Sebentar Saat Bertemu Semut Lainnya. http://xblankjacke.blogspot.com/2013/02/tahukah-mengapa-semut-berhenti-sebentar.html.Di akses di Makassar tanggal 15 Desember 2014.

Rijal, Satria. 2012. Feromon pada Semut (Hymenoptera: Formicidae) in Science and Nature. https://theknightman.wordpress.com/2012/12/09/feromon-pada-semut-hymenoptera-formicidae/. Di akses di Makassar tanggal 15 Desember 2014.

Yahya, Harun. ---- Keajaiban Pada Semut. http://digital-library.surabaya.go.id/desama/digital /menjelajah_dunia_semut.pdf. Di akses di Makassar tanggal 15 Desember 2014.

1 Response to "Filsafat Semut yang Berhenti Sejenak Saat Bertemu"

  1. Mengagumkan.. Peristiwa sederhana. Namun memiliki makna yang sangat dalam..

    Filsafatmazhabkepanjen.blogspot.com

    BalasHapus