Perencanaan, Penyusunan, Pengadministrasian dan Pengelolaan Nilai Tes Pilihan Ganda (Assesmen & Evaluasi Pembelajaran)

Loading...
Perencanaan, Penyusunan, Pengadministrasian dan Pengelolaan Nilai Tes Pilihan Ganda




A. Perencanaan dan Penyusunan Tes Pilihan Ganda

1.     Perencanaan Tes

Secara etimologi, kata “tes” berasal dari bahasa latintestum yang berarti alat untuk mengukur tanah. Dalam bahasa kuno, kata “tes” berarti ukuran yang dipergunakan untuk membedakan antara emas dengan perak serta logam lainnya.Menurut Sumadi Suryabrata, tes adalah: “pernyataan-pernyataan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau testee lainnya” (Sumadi Suryabrata, 2001: 22)

Dalam proses pembelajaran, tes mempunyai kedudukan yang sangat penting karena merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan, keahlian atau pengetahuan. Dalam setiap kegiatan pembelajaran harus diketahui sejauh mana proses belajar tersebut telah memberikan nilai tambah bagi kemampuan siswa. Salah satu cara untuk melihat peningkatan kemampuan tersebut adalah dengan melakukan tes. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan)(Arifin Zainal,  2009)
Dalam perencanaan tes, terdapat ketentuan pokok dan prosedur pengembangan spesifikasi tes yang harus diperhatikan untuk mendapatkan tes yang efektif.

a. Ketentuan Pokok dalam Perencanaan Tes
           
Seorang guru harus memahami tentang pendidikan anak yang akan dites, kondisi tempatpelaksanaan tes akan dilaksanakan dan sebagainya. Pendek kata, bukan keterampilan saja yang diperlukan, tetapi hampir seluruh kepribadian guru terlibat di dalamnya. Itu sebabnya banyak ahli yang mengatakan, bahwa mengkonstruksi tes lebih bersifat sebagai seniatau“Art” daripada sebagai ilmu pengetahuan atau ”science”.Oleh karena itu, jika guru ingin berhasil mengkonstruksi tes, maka dia harus membuat perencanaan tes dengan teliti. Dalam hubungan ini ada empat ketentuan pokok yang perlu diikuti, yakni :

1)  Evaluasi Dilakukan Terhadap Semua Hasil Pengajaran Yang Penting
           
Hasil pengajaran tergambarkan dalam tujuan instruksional yang hendak dicapai.Itu sebabnya, tujuan instruksional itu harus dirumuskan secara jelas, spesifik, dapat diamati dan dapat diukur.Tujuan instruksional dijabarkan berdasarkan tujuan sekolah (tujuan instruksional). Tujuan instruksional umum yang telah digariskan dalam Garis-garis Progam Pengajaran (GBPP) pada hakekatnya adalah tujuan pelajaran atau bidang studi. Tujuan-tujuan ini harus dirumuskan menjadi Kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai. Berdasarkan KD inilah kita dapat menggariskan dan menunjukkan jenis-jenis tingkah laku yang perlu dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses instruksional tertentu. Tercapai tidaknya tujuan-tujuan itu atau perubahan tingkah laku yang diharapkan itu, baru dapat ketahui setelah dilakukan serangkaian tes.Jadi perumusan tujuan yang spesifik bukan saja penting bagi pembinaan kurikulum yang menentukan prosedur dan alat instruksional, melainkan juga penting dalam rangka evaluasi hasil pengajaran.

2) Tes harus merefleksikan hal-hal yang menurut perkiraan mendapat penekanan tertentu dalam pelajaran.

Penekanan dalam pelajaran dapat dilihat dalam proporsi yang direncanakan dalam perencanaan tes.Jika bahan terlalu luas sedangkan waktu yang tersedia singkat, maka perlu mengadakan sampel terhadap isi bahan. Selain dari itu perlu ada keseimbangan antara banyaknya pertanyaan dilihat dari segi isi pelajaran yang akan dites dan tujuan pembelajaran yang dicapai. Untuk itulah maka sebaiknya guru atau pembuat tes terlebih dahulu melakukan analisa tugas (Job analysis).

3)  Hakekat Tes Harus Merefleksikan Tujuan Yang Hendak Dicapai Oleh Tes.

Sebenarnya tujuan yang hendak dicapai adalah menentukan kedudukan tingkah laku siswa dalam hubungan standar khusus, bukan dalam hubungan dengan siswa lain dalam kelompoknya. Tetapi, jika tujuannya adalah membandingkan perilaku (performance) siswa dengan siswa lainnya dalam kelompok yang sama, dengan menggunakan ukuran relatif, maka harus disediakan item-item yang akan mendistribusikan skor dari tingkat yang tinggi ke tingkat yang rendah.

Tes akan valid jika secara nyata mengukur apa yang direncanakan untuk diukur. penggunaan ukuran relatif adalah salah satu cara yang terbaik untuk memperbaiki releabilitas tes, karena itu item-item hendaknya menimbulkan rentang skor yang luas.

4) Hakekat tes harus merefleksikan kondisi-kondisi administrasi di mana tes akan diadministrasikan.

Minimal terdapat tiga hal yang harus ditetapkan, yaitu frekuensi tes, kuantitas tes dan format tes. Pertama, harus diputuskan berapa kali tes akan dilakukan. Kalau berpijak pada sistem instruksional, maka jelas bahwa penilaian terhadap perilaku siswa harus dilakukan sepanjang proses instruksional sampai dengan akhir pelajaran. Kedua, harus diputuskan berapa banyak item yang akan diperlukan sesuai dengan waktu yang tersedia, banyaknya tujuan yang harus dicapai, dan banyaknya bahan pelajaran.Ketiga, harus diputuskan bentuk format tes yang akan digunakan. apakah akan menggunakan tes essay atau tes objektif,apakah akan menggunakan bentuk item B-S, pilihan berganda, menjodohkan dan sebagainya


b. Prosedur Pengembangan Spesifikasi Tes

Spesifikasi Tes adalah suatu uraian yang menunjukan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus dimiliki oleh tes yang akan dikembangkan. Tes untuk mengukur hasil belajar siswa, memiliki prinsip-prinsip serta langkah-langkah perencanaan  tersendiri. Dalam merencanakan penyusunan achievement test diperlukan adanya langkah-langkah yang harus diikuti secara sistematis sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Dengan demikian, pada akhirnya tes benar-benar dapat menjadi instrumen yang dapat mengukur apa yang sebenarnya harus diukur.

Secara umum langkah-langkah penyusunan tes menurut para ahli penyusun tes maupun para pengajar (classroom teacher) adalah sebagai berikut:
1) Menentukan atau merumuskan tujuan tes.
2) Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan diukur dengan tes itu.
3) Menentukan atau menandai hasil-hasil belajar yang spesifik
4) Merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
5) Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
6) Menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan tes.

Adapun langkah-langkah penyusunan tes, jika merujuk kepada pedoman yang disusun oleh Balitbang Depdiknas tahun 2006 adalah sebagai berikut :

1) Menentukan tujuan penilaian. Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda.Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar, diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/ diukur disesuaikan seperti untuk kuis/ menanyakan materi yang lalu, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu/ kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik.

2) Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar.

3) Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya. Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan. Bila jawabannya tepat, maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau uraian. Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan: kinerja (performance), penugasan (project), hasil karya (product), atau lainnya.

4) Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta pedoman penskorannya. Dalam menulis soal, penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisan soal. 


Adapun proses penentuannya secara lengkap dapat dilihat pada bagan berikut ini.


Sementara itu langkah-langkah penyusunan tes menurutSumadi Suryabrata adalah sebagai berikut :
           
1) Menentukan tujuan, untuk menentukan dan merumuskan tujuan evaluasi dengan jelas, diperlukan kepasyian mengenai daerah medan psikologi peserta didik yang akan diukur,karakteristik peserta didik yang akan diukur, dan kedudukan tujuan tersebut dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang lebih tinggi.

2) Menyusun kisi-kisi soal, tujuan penyusunan kisi-kisi adalah merumuskan setepat mungkin ruang lingkup,tekanan,dan bagian-bagian tes sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi si penyusun tes.

3) Memilih tipe-tipe soal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih soal, yakni :
a) Kesesuaian antar tipe soal dengan materi pelajaran
b) Kesesuaian antar tipe soal dengan tujuan evaluasi
c) Kesesuaian antar tipa soal dengan skoring
d) Kesesuaian antar tipa soal pengolahan hasil evaluasi
e) Kesesuaian antar tipa soal dengan sdministrasi tes yaitu penyelenggaraan dan pelaksanaan tes,dan
f) Kesesuaian antar tipa soal dengan dana dan kepraktisan.

4) Merencanakan taraf kesukaran soal, Suatu hal yang diperhitungkan oleh perancang tes, adalah mempertimbangkan taraf kesukaran soal. Secara umum taraf kesukaran soal dapat diketahui secara empirik dari presentase yang gagal dalam menjawab soal,secara rinci akan dijelaskan pada analisis item .Kesukaran soal demikian itu hanya  dapat diketahui bila mana soal tersebut telah diujikan. Namun pada bentuk soal tertentu seperti bentuk uraian; pemberian tugas karya tulis, sudah dapat diperhitungkan tingkat kesukaranya,yakni berdasarkan berat-ringanya beban penyelesaian soal tersebut. Oleh karena itu bagi pendidik dalam merencanakan suatu tes,sebaiknya butir-butir soal diujicobakan terlebih dahulu,hasil ujicoba dpat dipakai untuk mengetahui tingkat kesukaran soalnya.

5) Merencanakn banyak sedikitnya soal, ada beberapa yang harus diperhatikan dalam merencanakan banyak sedikitnya soal,yalni:
a) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan reliabilitas tes,
b) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan bobot keseluruhan bagian
c) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan waktu tes,dan
d) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan ujicoba suatu tes

6) Merencanakan jadwal penerbitan soal, Dalam mempersiapkan suatu tes, perlu diperhatikan waktu untuk menggandakan soal, apalagi jika lembaga pendidikan belum memiliki tenaga profesional untuk keperluan ini yang mampu bekerja secara optimal dalam waktu singkat dapat menggandakan sdoal dalam jumlah yang besar. Disamping faktor penggandaan menjadi pertimbangan utama bagi perencanaan tes, perku juga dipoertimbangkkan tingkat kerumitan soal,sebab  soal yang rumit memerlukan keahlian khusus untuk menyelesaikanya serta memaka waktu lebih lama (Sumadi Suryabrata , 1987:18-21).


2. Penyusunan Tes Pilihan Ganda

Langkah-langkah penyusunan soal pilihan ganda, dimulai dengan menyusunkisi-kisi soal, selanjutnya adalah menulis/menyusun soal, sebelum test digunakanmelakukan penelaahan butir soal, dan terakhir memeriksa hasil test.

a. Penulisan Kisi-Kisi Soal

1) Teknik Mengisi Kisi-Kisi

Kisi-kisi dapat didefinisikan sebagai matrik informasi yang dapatdijadikan pedoman untuk menulis dan merakit soal menjadi instrument tes.Dengan menggunakan kisi-kisi, pembuat soal dapat menghasilkan soal-soalyang sesuai dengan tujuan tes. Berbagai instrument tes yang memilikitingkat kesulitan, kedalaman materi dan cakupan materi sama (paralel) akanmudah dihasilkan hanya dengan satu kisi-kisi yang baik. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menyusun kisi-kisi antara lain:

a) Sampel Materi

Pemilihan sampel materi yang akan ditulis butir soalnya hendaknya dilakukan dengan mengacu pada kompetensi yang ingin dicapai. Pemiliha nsampel materi secara representative dapat mewakili semua materi yangdiajarkan selama proses pembelajaran. Semakin banyak sampel materi yangdapat ditanyakan maka semakin banyak pula tujuan pembelajaran yangdapat diukur.Dasar pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampelmateri adalah dasar pertimbangan keahlian (expert judgement).


b) Jenis Tes

Pemilihan jenis tes yang digunakan berhubungan erat dengan jumlahsampel materi yang dapat diukur, tingkat kognitif yang akan diukur, jumlahpeserta tes, serta jumlah butir soal yang akan dibuat. Ada dua jenis tes yangdapat digunakan sebagai alat ukur hasil belajar peserta ujian , yaitu tesobjektif dan tes uraian. Pemilihan jenis tes sangat terkait dengan tujuanpembelajaran yang akan diukur. Tes objektif merupakan jenis tes yang tepatdigunakan untuk ujian berskala besar yang hasilnya harus segeradiumumkan, seperti ujian nasional, ujian akhir program, dan ujiankompetensi profesi.Soal tes objektif dapat diskor dengan mudah, cepat, danmemiliki objektivitas yang tinggi, mengukur berbagai tingkatan kognitif,serta dapat mencakup ruang lingkup materi yang luas dalam suatu tes.

c) Jenjang Pengetahuan

Setiap mata kuliah/kompetensi inti mempunyai penekanankemampuan yang berbeda dalam mengembangkan proses berfikir pesertaujian . Dengan demikian jenjang kemampuan berfikir yang akan diujikanpun berbeda-beda. Jika tujuan suatu kompetensi lebih menekankan padapengembangan proses berfikir analisis, evaluasi dan kreasi, maka butir soalyang akan digunakan dalam ujian harus dapat mengukur kemampuantersebut, begitu juga sebaliknya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kumpulan butir soal yang Akan digunakan dalam ujian harus dapat mengukur proses berfikir yangrelevan dengan proses berfikir yang dikembangkan selama prosespembelajaran. Dalam hubungan ini, kita mengenal ranah kognitif yangdikembangkan oleh Bloom dkk yang kemudian direvisi oleh Krathwoll(2001). Revisi Krathwoll terhadap tingkatan ranah kognitif adalah: ingatan(C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), evaluasi (C5) dankreasi (C6). Berikut ini akan diuraikan secara singkat ke-6 jenjang prosesberfikir tersebut.

1) Ingatan (C1), merupakan jenjang proses berfikir yang paling sederhana.

Butir soal dikatakan dapat mengukur kemampuan proses berfikiringatan jika butir soal tersebut hanya meminta pada peserta ujian untukmengingat kembali tentang segala sesuatu yang telah diajarkan dalamproses pembelajaran, seperti mengingat nama, istilah, rumus, gejala, dsb, tanpa menuntut kemampuan untuk memahaminya.2) Pemahaman (C2), merupakan jenjang proses berpikir yang setingkatlebih tinggi dari ingatan. Butir soal dikatakan mengukur kemampuanproses berpikir pemahaman jika butir soal tersebut tidak hanya memintapada peserta ujian untuk mengingat kembali tentang segala sesuatuyang telah diajarkan dalam proses pembelajaran, tetapi peserta ujiantersebut harus mengerti, dapat member arti dari materi yang dipelajari serta dapat melihatnya dari beberapa segi. Pada tingkatan ujikompetensi, ranah kognitif C1 dan C2, tidak digunakan sebagai dasarpembuatan soal.3) Penerapan (C3), merupakan jenjang proses berfikir yang setingkat lebihtinggi dari pemahaman. Butir soal dikatakan mengukur kemampuan proses berfikir penerapan, jika butir soal tersebut meminta pada pesertaujian untuk memilih, menggunakan atau menggunakan dengan tepatsuatu rumus, metode, konsep, prinsip, hokum, teori atau dalil jikadihadapkan pada situasi baru.4) Analisis (C4), merupakan jenjang proses berfikir yang setingkat lebihtinggi dari penerapan. Butir soal dikatakan mengukur kemampuanproses berfikir analisis jika butir soal tersebut meminta pada pesertaujian untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaanmenurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahamihubungan antar bagian tersebut.5) Evaluasi (C5), merupakan jenjang proses berfikir yang lebih kompleksdari analisis. Butir soal dikatakan mengukur kemampuan proses berfikirevaluasi jika butir soal tersebut meminta pada peserta ujian untukmembuat pertimbangan atau menilai terhadap sesuatu berdasarkankriteria-kriteria yang ada.6) Kreasi (C6), merupakan jenjang proses berfikir yang paling kompleks.Proses berfikir ini menghendaki peserta ujian untuk menghasilkansuatu produk yang baru sebagai hasil kreasinya.

d) Tingkat Kesukaran

Dalam menentukan sebaran tingkat kesukaran butir soal dalam setsoal untuk ujian, harus mempertimbangkan interpretasi hasil tes mana yangakan digunakan. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalammenginterpretasikan hasil tes, yaitu pendekatan Penilaian Acuan Patokan(PAP) dan Penilaian Acuan Norma (PAN).Dalam uji kompetensi,interpretasi hasil tes yang digunakan berbasis kompetensi, maka pendekatanyang digunakan adalah PAP.Sehingga dalam menginterpretasikan hasil tesyang menjadi pertimbangan dalam penyusunan butir soal ujian adalah ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam blue print kompetensi.Walaupun butir soal tersebut mudah, tetapi apabila butir soal tersebutdiperlukan untuk mengukur tujuan yang telah ditetapkan, maka butir soaltersebut harus digunakan.

1.        Jumlah Butir Soal

Penentuan jumlah butir soal yang tepat dalam satu kali ujiantergantung pada beberapa hal, antara lain: penguasaan kompetensi yangingin diketahui, ragam soal yang akan digunakan, proses berfikir yang ingindiukur, dan sebaran tingkat kesukaran dalam set tes tersebut. Pada ujikompetensi, waktu dan jumlah butir soal telah ditetapkan, sehingga pembuatsoal dapat memperkirakan tingkat kesulitan soal.

2. Lembar Indikator Soal

Untuk membantu mempermudah pengisian format kisi-kisi, maka yang perlu dilakukan :

a) Siapkan format kisi-kisi dan buku materi yang akan digunakan sebagai sumber dalam pembuatan kisi-kisi.

b) Setelah mengetahui kompetensi inti,maka selanjutnya menentukan indikator pembelajaranyang akan diukur. Kompetensi dasar dan indikator dirumuskan dalamkata kerja operasional, yang merupakan dasar dalam menyusun soal.Contoh kata kerja operasional: menentukan, menyebutkan, menghitung, menunjukkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menyimpulkan. Tentukan pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang akan digunakanuntuk mengukur ketercapaian indikator pembelajaran tersebut. Kemudian tuliskan pokok bahasan dan sub pokok bahasan tersebut padalembar kisi-kisi. Upayakan pokok bahasan dan sub pokok bahasan tersebut merupakan sampel materi yang representative mewakili keseluruhan kompetensi yang diujikan.

c) Tuliskan berapa jumlah butir soal yang layak ditanyakan dalam satu waktu ujian tersebut. Penentuan jumlah butir soal harus memperhatikan tingkat kesukaran butir soal dan proses berfikir yang ingin diukur.

d) Sebarkan jumlah butir soal tersebut per pokok bahasan. Penentuan jumlah butir soal per pokok bahasan hendaknya dilakukan secara proporsional berdasarkan kepentingan atau keluasan sub pokok bahasan tersebut.

e) Distribusikan jumlah butir soal per pokok bahasan tersebut ke dalamsub pokok bahasan. Pendistribusian jumlah butir soal ini juga harus dilakukan secara proporsional sesuai dengan kepentingan atau keluasansub pokok bahasan tersebut.

f) Distribusikan jumlah butir soal per sub pokok bahasan tersebut kedalam kolom-kolom proses berfikir dan tingkat kesukaran butir soal. Pendistribusian ini harus berpedoman pada kompetensi yang akan diukur ketercapaiannya dan proses berfikir yang dikembangkan selama proses pembelajaran.

Catatan bagi penulis kisi-kisi: tentukan materi yang akan diujikansesuai dengan kompetensi inti, selanjutnya pastikan materi – materi pentingsudah terwakili, tentukan banyak soal yang akan diujikan, sesuaikan denganwaktu yang tersedia. Kemudian merumuskan indikator untuk mengukur materi terpilih dengan bahasa yang baik dan mudah dipahami.


b. Penulisan Soal Pilihan Ganda

Tes objektif pilihan ganda merupakan jenis tes objektif yang palingbanyak digunakan.Konstruksi tes pilihan ganda terdiri atas dua bagian, Pedoman Penyusanan Soal Pilihan Ganda– Gita Kostania – 6yaitu pokok soal (stem) dan alternatif jawaban (option). Satu di antaraalternatif jawaban tersebut adalah jawaban yang benar atau yang palingbenar (kunci jawaban), sedangkan alternative jawaban yang lain berfungsisebagai pengecoh (distractor). Pokok soal dapat dibuat dalam dua bentuk,yaitu dalam bentuk pernyataan tidak selesai atau dalam bentuk kalimattanya. Jumlah alternatif jawaban yang dibuat terdiri atas empat atau limaoption jawaban, untuk uji kompetensi sebanyak lima option jawaban.Tata tulis tes pilihan ganda diatur sebagai berikut. Jika pokok soal(stem) ditulis dengan kalimat tidak selesai, maka awal kalimat ditulisdengan huruf besar dan awal option ditulis dengan huruf kecil (kecualiuntuk nama diri dan nama tempat). Karena pokok soal ditulis dengankalimat tidak selesai, maka pada akhir kalimat disertai dengan empat buahtitik.Tiga buah titik yang pertama adalah titik-titik untuk pokok soal yangditulis dengan kalimat tidak selesai dan satu titik yang terakhir merupakantitik akhir alternatif jawaban.Dengan demikian akhir setiap alternatifjawaban tidak perlu diberi tanda titik. Jika pokok kalimat ditulis dengankalimat tanya, maka awal kalimat ditulis dengan huruf kapital dan akhirkalimat diberi tanda tanya. Setiap awal option dimulai engan huruf capital ndan diakhiri dengan tanda titik.Jenis soal yang sering digunakan dalam uji kompetensi profesiadalah soal objektif bentuk pilihan ganda yang berupa kasus.Struktur soalterdiri dari kasus (scenario/vignette), pokok soal/pertanyaan (stem/lead in),dan alternative jawaban (option). Kasus/scenario yang dibuat adalah kasuskasusfactual/nyata, dengan pola pertanyaan harus berbentuk kata tanya,jelas dan dapat dijawab tanpa melihat option jawaban.Secara lebih rinci, di bawah ini diuraikan kaidah penulisan soalpilihan ganda yang harus diperhatikan, sebagai berikut:
1.      Materi
a.     Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.
b.     Pengecoh harus bertungsi
c.     Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban.

2.    Konstruksi
a.     Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya, kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan
b.     Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja.
c.     Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.
d.     Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran peserta didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri.
e.     Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya, semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
f.      Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan peserta didik memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
g.     Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen.               
h.     Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban.
i.      Gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh peserta didik. Apabila soal bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik, atau tabel itu tidak berfungsi.
j.      Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.
k.     Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya.
3.    Bahasa/budaya
a.   Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek, (2) unsur predikat, (3) anak kalimat; b) pemakaian kata: (1) pilihan kata, (2) penulisan kata, dan c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf, (2) penggunaan tanda baca.
b. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik.
c.   Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada pokok soal. (Chabib Thoha,2003)

Untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, maka dalam penulisannya perlu mengikuti langkah-langkah berikut, langkah pertama adalah menuliskan pokok soalnya, langkah kedua menuliskan kunci jawabannya, langkah ketiga menuliskan pengecohnya.

Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format. Adapun formatnya seperti berikut ini.



Soal bentuk pilihan ganda merupakan soal yang telah disediakan pilihan jawabannya. Peserta didik yang mengerjakan soal hanya memilih satu jawaban yang benar dari pilihan jawaban yang disediakan. Soalnya mencakup: (1) dasar pertanyaan/stimulus (bila ada), (2) pokok soal (stem), (3) pilihan jawaban yang terdiri atas: kunci jawaban dan pengecoh.

Perhatikan contoh berikut!




C. Penelaahan Butir Soal

Sebelum butir soal tersebut digunakan untuk mengukur Kompetensi peserta ujian, butir soal tersebut perlu ditelaah terlebih dahulu. Prosespenelaahan hendaknya dilakukan oleh orang yang menguasai materi dankonstruksi tes (reviewer), adapun yang harus dilakukan dalam penelaahan butirsoal adalah sebagai berikut :
1) Menelaah materi uji (harus relevan dengan kompetensi inti, bahasa dan tingkat kesulitan)
2) Menelaah struktur soal (stem-option dan atau scenario-stem-option)
3) Menyusun kesimpulan telaahan (komentar umum dan saran, keputusanditerima, direvisi, dikembalikan kepada penyusun atau drop)

Di bawah ini adalah daftar cek yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menelaah butir soal pilihan ganda.

No. DeskriptorYa/ Tidak
1. Inti permasalahan yang akan ditanyakan sudah dirumuskan dengan jelas pada pokok soal
2. Tidak ada pengulangan kata yang sama pada alternative jawaban
3. Tidak ada penggunaan kalimat yang berlebihan pada pokok soal
4. Alternative jawaban yang disediakan hendaknya logis, homogen, baik dari segi materi atau panjang pendeknya kalimat, dan pengecoh menarik untuk dipilih
5. Pada pokok soal tidak ada petunjuk ke arah jawaban benar
6. Hanya ada satu jawaban yang benar atau paling benar
7. Pokok soal dirumuskan dengan pernyataan positif
8. Tidak ada alternative jawaban yang berbunyi semua jawaban benar atau semua jawaban salah
9. Alternative jawaban yang berbentuk angka sudah disusun secara berurutan
10. Suatu butir soal tidak tergantung dari jawaban butir soal yang lain

Catatan :
- Konstruksi butir soal dikatakan baik jika tidak ada tanda cek pada kolom “tidak”
- Butir soal yang tidak baik dikembalikan pada pembuat soal untukdiperbaiki, atau di drop.

Jika berdasarkan hasil penelaahan butir soal tersebut dinyatakan baik, maka butir soal tersebut siap untuk dirakit, diketik, dan kemudian digandakan. Selama proses pengembangan tes, maka kerahasiaan tes harus dijaga. Setelah tes dilakukan, maka dengan segera hasilnya diperiksa (Zainal Arifin, 2007).


C. Pengadministrasian Tes Pilihan Ganda

Pengadministrasian tes adalah pelaksanaan tes yang dimulai dari proses penyusunan naskah tes sampai dengan pelaksanaan tes. Tahapan pengadministrasian tes pilihan ganda  secara terperinci  sebagai berikut :
1.     Penyusunan Perangkat Tes
Dalam penyusunan perangkat tes yang akan digunakan, perlu mempertimbangkan dua hal utama, yaitu :

a)   Penyuntingan Naskah Tes

Suatu naskah tes terdiri atas beberapa butir soal. Dalam penyusunan butir tes haruslah mempertimbangkan beberapa hal yang memungkinkan peserta tes dapat mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam mengerjakan tes tersebut sehingga dapat menjadi suatu perangkat tes. Maka yang menjadi pertimbangan utama dalam penyuntingan tes adalah peserta tes. Sehingga perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1)   Tes bentuk objektif tidak dilaksanakan secara lisan.
2)   Butir tes disusun berdasarkan pokok bahasan awal hingga akhir.
 3)   Tingkat kesukaran tes disusun mulai dari yang termudah hingga yang tersulit.
4)   Butir tes yang setipe hendaknya dikelompokkan dalam satu kelompok.
5)   Petunjuk pengerjaan tes ditulis secara jelas.
6)   Penyusunan butir tes sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesan berdesak-desakkan.
7)   Susunlah setiap butir tes sehingga stem dan seluruh optionnya terletak dalam satu halaman yang sama.
8)   Letakkanlah wacana yang digunakan sebagai rujukan satu atau beberapa butir tes di atas butir tes yang bersangkutan.
9)   Hindarilah meletakkan kunci jawaban dalam suatu pola tertentu. 

b)    Penggandaan Naskah Tes

Dalam proses penggandaan tes haruslah dapat menjamin kerahasiaan naskah tes, sehingga tidak akan mengganggu konsentrasi peserta tes dalam melaksanakan tes. Penggandaan tes sebaiknya terpisah antara lembaran tes dari lembaran jawaban. Beberapa petunjuk praktis dalam penggandaan naskah tes, yaitu :

1) Antar butir tes harus cukup tersedia ruangan, sehingga tidak terkesan saling berdesak-desakan.
2) Angka dan huruf yang disediakan di depan alternatif jawaban harus sama dengan yang digunakan pada lembar jawaban.
3) Untuk jenis tes menjodohkan, kedua ko;om yang berisi tes / alternatif jawaban haruslah terletak dalam satu halaman yang sama.
4) Butir tes yang menggunakan wacana harus terletak dalam satu halaman yang sama.
5) Semua wacana, grafik, diagram atau gambar yang digunakan sebagai landasan butir tes harus jelas.
6) Jika naskah digandakan dalam jumlah yang banyak, maka setiap naskah tes harus sama jelasnya.


2.   Pelaksanaan Tes

Dalam pengadministrasian tes haruslah mempertimbangkan berbagai cara dalam pelaksanaan tes. Cara pelaksanaan tes tersebut meliputi :

a) Open Books VS Close Books
Dalam melaksanakan tes hasil belajar, seorang pengajar memiliki hak penuh untuk menentukan apakah para peserta tes boleh melihat buku/ catatan dan menggunakan berbagai alat belajar seperti tabel, kamus, kalkulator dan sebagainya atau tidak.Boleh atau tidak, keduanya memiliki keuntungan dan kekurangan.

1) Open Books :
Keuntungan dari open books adalah :
-       Para siswa tidak terlalu tegang dalam menghadapi atau mengerjakan soal.
-       Para siswa lebih cenderung mengerjakan tesnya sendiri daripada harus menyontek kepada temannya.
-       Para siswa akan lebih rajin dalam membuat catatan karena mereka akan sadar dengan kebutuhan catatan tersebut.

Kekurangan dari open books adalah :
-          Para siswa mungkin saja akan malas membaca buku/ catatan
-          Mereka yang jarang membaca buku akan kehabisan waktu ujian membolak-balik lembaran buku untuk mendapatkan jawaban.
-          Para siswa cenderung akan malas berpikir.

 2)  Close Books :
Keuntungan dari close books adalah :
-          Para siswa akan terbiasa untuk memahami isi buku/ catatannya.
-          Para siswa akan terbiasa berpikir sendiri.
-          Para siswa akan terbiasa membuat rangkuman.

Kekurangan dari close books adalah :
-          Akan membuat siswa terdorong untuk menyontek.
-          Siswa belum tentu terlatih menggunakan buku catatan sebagai sumber belajar.
-           Berkurangnya prinsip yang mengatakan bahwa buku itu untuk digunakan bukan  untuk dihafal.

b)     Tes Diumumkan VS Tes Dirahasiakan
Pelaksanaan tes dapat dilakukan dengan memberi pengumuman lebih dahulu atau tanpa pemberitahuan sebelumnya.Para ahli psikologi pendidikan tidak dapat menyetujui adanya tes yang pelaksanaannya tidak diumumkan/ dirahasiakan.

Ada beberapa kelebihan dari tes yang diumumkan, yaitu :

1.     Dapat mengukur pengetahuan siap yang dimiliki oleh siswa.
2.     Dapat memotivasi usaha belajar.
3.     Dapat digunakan sebagai alat peningkatan disiplin belajar.

Keterbatasan tes yang diumumkan adalah :

1.   Dapat  membuat siswa yang tidak lulus atau yang mendapat nilai rendah merasa malu sehingga dapat menghapus motivasi belajar mereka.
2.   Guru yang tidak dapat mengumumkan  nilai siswa tepat waktu akan mendapatkan cemoohan dari para siswa.
3.    Memerlukan kemampuan administrasi yang prima yang  memerlukan fasilitas dan dana tambahan.

Kekuatan tes yang dirahasiakan adalah :
1.   Tidak menuntut kemampuan administratif yang prima dan mahal.
2.   Tidak akan mendapatkan protes-protes dari para peserta didik.
3.   Jika dipandang perlu, maka nilai seorang peserta tes dapat diputuskan dengan mengikutsertakan faktor-faktor non tes.

Keterbatasan tes yang dirahasiakan adalah :
1.   Tes akan dianggap tidak berguna karena tidak komunikatif dengan para siswa yang bersangkutan.
2.   Dapat membuat tenaga pendidik “main hakim sendiri” tanpa diketahui oleh siapa pun.

c)    Tes Lisan Atau Tes Tertulis
Adapun Kekuatan tes tertulis adalah :
1.   Kemampuan memilih kata-kata, kekayaan informasi, kemampuan berbahasa, kemampuan memilih ataupun memadukan ide-ide dan proses berpikir peserta tes dapat dilihat dengan nyata.
2.   Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik seperti yang disebutkan diatas dapat dibandingkan antara yang satu dengan yang lain.
3.   Dalam waktu yang relatif terbatas dapat dilaksanakan tes yang terdiri atas sejumlah besar peserta tes sehingga ekonomis.
4.   Memungkinkan dikoreksi oleh lebih dari seorang korektor sehingga lebih objektif.

 Keterbatasan tes tertulis adalah :
1.    Khusus untuk tes bentuk esai, tes tertulis dapat menuntut tugas peserta tes yang lebih berat.
2.    Dalam hal tes bentuk esai, maka ketunabahasaan akan merugikan peserta tes yang bersangkutan apabila masalah bahasa diperhitungkan dalam memberi nilai.
3.    Yang bersifat massal itu biasanya kurang baik dibandingkan dengan yang individual.
4.    Siswa cenderung menuliskan jawabannya secara panjang lebar.

Kekuatan tes lisan adalah :

1.    Dapat dilaksanakan secara individual sehingga lebih cermat dan dapat dilakukan “probing” sehingga penguji mampu mengetahui secara pasti dimana posisi hasil belajar peserta didik yang bersangkutan.
2.    Kemampuan-kemampuan seperti yang ada pada tes tertulis yang telah diuraikan diatas dapat dipantau secara langsung oleh tenaga pendidik yang menguji.
3.    Melalui tes lisan dapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dan dialog aktif.
4.    Siswa dapat mengungkapkan argumentasinya secara lebih bebas.

   Keterbatasan tes lisan adalah :
1.     Tidak ekonomis
2.     Jika yang melaksanakan tes hanyalah satu orang, maka akan terjadi subjektifitas yang sukar dikontrol.
3.     Bagi peserta tes yang gagap karena karena merasa tegang akan dirugikan dengan cara ini.
4.     Memungkinkan tenaga pendidik “main hakim sendiri”.

d)         Tes Tindakan Atau Tes Praktek

Kekuatan tes tindakan atau tes praktek adalah :
1. Terjadinya pengecekan terhadap terbentuk atau tidaknya keterampilan yang dirumuskan di dalam TIK.
2.  Membuat pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat dikurangi/ dihilangkan.

Keterbatasan tes tindakan atau tes praktek adalah :
1.  Tidak semua bahan dapat diuji praktekkan
2.  Tergolong mahal dan tenaga pendidik dituntut lebih mampu dari siswanya.
3.  Jika prakteknya tidak dalam keadaan yang sesungguhnya maka siswa cenderung akan main-main/tidak serius atau sebaliknya.



D. Pengelolaan Nilai Tes Pilihan Ganda

1.        Pemberian Skor
Pada hakikatnya pengelolaan nilai tes pilihan ganda di mulai dengan  pemberian skor.Penskoran  adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade).
           
Cara penskoran tes bentuk pilihan ganda ada tiga macam, yaitu: pertama penskoran tanpa ada koreksi jawaban, penskoran disertai koreksi jawaban, dan penskoran dengan butir beda bobot.

1)      Penskoran tanpa koreksi, yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar mendapat nilai satu (tergantung dari bobot butir soal), sehingga jumlah skor yang diperoleh peserta didik adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang dijawab benar. Rumusnya sebagai berikut.
Skor =  B/Nx 100 (skala 0-100)
B = banyaknya butir yang dijawab benar
N = adalah banyaknya butir soal

2)      Penskoran disertai koreksi jawaban yaitu pemberian skor dengan memberikan pertimbangan pada butir soal yang dijawab salah dan tidak dijawab, adapun rumusnya sebagai berikut.
Skor =  x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
S = banyaknya butir yang dijawab salah
P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir
N = banyaknya butir soal
Butir soal yang tidak dijawab diberi skor 0

Contoh :
Pada soal bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 40 butir soal dengan 4 pilihan tiap butir dan banyaknya 40 butir, Amir dapat menjawab benar 20 butir, mejawab salah 12 butir, dan tidak dijawab ada 8 butir, maka skor yang diperoleh Amir adalah:
Skor =  x 100
         = 40

3) Penskoran dengan butir beda bobot yaitu pemberian skor dengan memberikan bobot berbeda pada sekelompok butir soal. Biasanya bobot butir soal menyesuaikan dengan tingkatan kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi) yang telah dikontrak guru. Bobot butir soal juga dapat dibedakan dengan cara lain, misalnya ada sekelompok butir soal yang dikembangkan dari buku pegangan guru dan sekelompok yang lain dari luar buku pegangan diberi bobot berbeda, yang pertama satu, yang lain dua.

Adapun rumusnya sebagai berikut.
Skor =  x 100
Bi = banyaknya butir soal yang dijawab benar peserta tes
bi = bobot setiap butir soal
St = skor teoritis (skor bila menjawab benar semua butir soal)

Contoh:
Pada suatu soal tes matapelajaran IPA berjumlah 40 butir yang terdiri dari enam tingkat domain kognitif diberi bobot sebagai berikut: pengetahuan bobot 1, pemahaman 2, penerapan 3, analisis 4, sintesis 5, dan evaluasi 6.
Yoyok dapat menjawab benar 8 butir soal domain pengetahuan dari 12 butir, 12 butir dari 20 butir soal pehamanan, 2 butir soal penerapan dari 4 butir, 1 butir soal analisis dari 2 butir, dan 1 butir soal sintesis dan evaluasi masing-masing 1butir. Berapakah skor yang diperoleh Yoyok?

Untuk mempermudah memberi skor disusun Tabel 6.1. sebagai berikut.

Tabel 6.1. Contoh Pemberian Skor


Skor = x 100
         = 63.9

Jadi, skor yang diperoleh Yoyok adalah 63,9%, artinya Yoyok dapat menguasai tes matapelajaran IPA sebesar 63,9%

2.       Mengubah Skor
Mengubah Skor dapat dilakukan dengan berdasarkan kepada Penilaian Acuan Patokan  atau berdasarkanPenilaian Acuan Norma.

a.         Mengubah Skor dengan Penilaian Acuan Patokan
Penilaian Acuan Patokan (criterion referenced evaluation) yang dikenal juga dengan standar mutlak berusaha menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan patokan yang telah ditetapkan. Sebelum hasil tes diperoleh atau bahkan sebelum kegiatan pengajaran dilakukan, patokan yang akan dipergunakan untuk menentukan kelulusan harus sudah ditetapkan. Depdiknas. (2004).

Standar atau patokan tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang dipergunakan sebagai batas-batas penentuan kelulusan testee atau batas pemberian nilai pada testee. Jika skor yang diperoleh oleh testee memenuhi batas minimal maka testee dinyatakan telah memenuhi tingkat penguasaan minimal terhadap materi yang disampaikan dan sebaliknya jika testee belum bisa memenuhi batas minimal yang ditentukan maka testee dianggap belum “lulus” atau belum menguasai materi. Karena batasan-batasan tersebut bersifat mutlak/ pasti maka hasil yang diperoleh tidak dapat di tawar lagi.

Berhubung standar penilaian ditentukan secara mutlak, banyaknya testee yang memperoleh nilai tinggi atau jumlah kelulusan testee banyak akan mencerminkan penguasaannya terhadap materi yang disampaikan. Pengolahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

a)    Menggabungkan skor dari berbagai sumber penilaian untuk memperoleh skor akhir.
b)   Menghitung skor minimum penguasaan tuntas dengan menerapkan prosentase Batas    Minimal Penguasaan (BMP).
c)    Menentukan tabel konversi.( http://sumberbagi.wordpress.com/2015/03/18)

b.      Mengubah Skor dengan Penilaian Acuan Norma

Penilaian Acuan Norma (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan Standar Relatif atau Norma Kelompok. Pendekatan penilaian ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh testee dengan membandingkan dengan hasil tes dari testee lain dalam kelompoknya. Alat pembanding tersebut yang menjadi dasar standar kelulusan dan pemberian nilai ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh testee dalam satu kelompok. Dengan demikian, standar kelulusan baru daat ditentukan setelah diperoleh skor dari para peserta testee.
Hal ini berarti setiap kelompok mempunyai standar masing-masing dan standar satu kelompok tidak dapat dipergunakan sebagai standar kelompok yang lain. Standar dari hasil tes sebelumnya pun tidak dapat dipergunakan sebagai standar sehingga setiap memperoleh hasil tes harus dibuat norma yang baru. Dasar pemikiran dari penggunaan standar PAN adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen terdapat siswa dengan kelompok baik, kelompok sedang dan kelompok kurang.

Pengolahan skor dengan Penilaian   Acuan Norma (PAN) mengharuskan kita menghitung dengan statistik. Perhitungan dilakukan atas skor akhir (penggabungan berbagai sumber skor),  Kelemahan sistem PAN adalah dengan tes apapun dalam kelompok apapun dan dengan dasar prestasi yang bagaimanapun, pemberian nilai dengan sistem ini selalu dapat dilakukan. Karena itu penggunaan sistem PAN dapat dilakukan dengan baik apabila memenuhi syarat yang mendasari kurva normal, yaitu :

a)    Skor nilai terpencar atau dapat dianggap terpencar sesuai dengan pencaran kurva normal
b)   Jumlah yang dinilai minimal 50 orang atau sebaiknya 100 orang ke atas.



DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.
Dikti Kemenkes. Panduan Pengembangan Penulisan Soal, Jakarta:2010.
Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Depdiknas. Panduan Penulisan Soal Pilihan Ganda, Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang-Depdiknas, 2007.
Suryabrata S.Bahan Evaluasi Assessment, Bandung:FKIP,2003.
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008.

Thoha,Chabib. Teknik Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003.
Zainal,Arifin. Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
http://arminaven.blogspot.com 2015/03/18 pemberian-score-verifikasi-dan-standar.html  diakses pada tanggal 10 oktober 2013

Loading...

0 Response to "Perencanaan, Penyusunan, Pengadministrasian dan Pengelolaan Nilai Tes Pilihan Ganda (Assesmen & Evaluasi Pembelajaran)"

Posting Komentar