Perencanaan, Penyusunan, Pengaminidstrasian dan Tekhnik Penilaian Tes Urairan/Essai

Loading...

Perencanaan, Penyusunan, Pengadministrasian dan Teknik Penilaian Tes Uraian/Essai

A.  Deskripsi Tes Uraian (Essay Test)

1.     Pengertian Tes Uraian/Essay Test

Salah satu cara mengevaluasi pembelajaran adalah dengan menggunakan Tes uraian atau Esai. Tes esai sendiri adalah pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Seperti pendapat Ngalim Purwanto, (1991:35) mengatakan bahwa dalam tes dituntut kemampuan peserta didik untuk benar – benar memahami pertanyaan dan merealisasikan gagasannya melalui bahasa tulisan, sehingga tipe tes esai  lebih bersifat power test. Semua bentuk pertanyaan tes esai mengharapkan agar peserta didik menunjukkan pengertian mereka terhadap materi yang dipelajari. Tes esai digunakan untuk mengatasi kelemahan daya ukur soal objektif yang terbatas pada hasil belajar rendah. Soal tes bentuk ini cocok untuk mengukur hasil belajar yang level kognisinya lebih dari sekedar memanggil informasi, karena hasil belajar yang diukur bersifat kompleks.

Jawaban tes uraian atau esaidapat berbentuk mengingat kembali, menyusun, mengorganisasikan atau memadukanpengetahuan yang telah dipelajarinya dalam rangkaian kalimat atau kata-kata yang tersusun secara baik. Oleh karena itu tes uraian sering juga dikatakan sebagaites essay walaupun sebenarnya antara tes uraian dan essay memiliki perbedaan, yaitu dalam hal kedalaman dan keluasan materi yang diukur atau diungkap. Sebenarnya tes uraian lebih tepat digunakan untuk mengukur prestasi belajar yang lebih kompleks, walaupun tidak dipungkiri masih banyak para guru yang menggunakan jenis tes ini hanya untuk mengukur pengetahuan yang bersifat faktual dan dangkal.

Tes esai memiliki potensi untuk mengukur hasil belajar pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks. Butir tes esai memberi kesempatan kepada peserta didik untuk  menyusun, menganalisis, mensintesis ide-ide, dan peserta didik harus mengembangkan sendiri buah pemikirannya serata menuliskankannya dalam bentuk tersusun atau terorganisir. Kelemahan tes esai adalah berkaitan dengan penskoran. Ketidakkonsistenan pembaca merupakan penyebab kurang objektifnya dalam memberikan skor dan terbatasnya reliabilitas  tes. Namun hal ini dapat diminimalkan melalui penggunaan rubrik penilaian, dan penilai ganda.

Penilaian tes esai menghendaki siswa untuk mengorganisasikan, merumuskan dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti peserta didik tidak memilih jawaban akan tetapi memberikan jawaban dengan kata-katanya sendiri secara bebas. Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaannya adalah dengan kata-kata seperti; uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya.Soal-soal esai ini menuntut kemampuan siswa untuk dapat mengorganisir, menginterpretasi, menghubungkan pengertian-pengertian yang telah dimiliki. Dengan singkat dapat dikatakan  bahwa tes ini menuntut siswa untuk dapat  mengingat-ingat dan mengenal kembali, dan terutama harus mempunyai daya kreatifitas tinggi. Soal uraian biasanya jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90 s.d 120 menit.


2.   Jenis-Jenis Tes Uraian

Dilihat dari luas-sempitnya (scope) materi/masalah yang ditanyakan, soal tes bentuk essay atau uraian memiliki dua bentuk, yaitu essay atau uraian terbatas (restricted response items) dan essay atau uraian bebas (extended respons items). Beberapa tahun ke belakang, Depdikbud menyebut kedua jenis tes ini dengan istilah tes uraian objektif dan tes uraian non-objektif. Walaupun sebenarnya jika dilihat lebih dalam, kedua jenis tes terakhir ini (uraian objektif dan uraian non-objektif) merupakan bagian dari tes essay terbatas, karena pengelompokkan tes uraian menjadi uraian objektif dan uraian non-objektif hanya didasarkan kepada pendekatan pemberian skor saja. Perbedaan antara soal bentuk uraian objektif dengan uraian non-objektif terletak pada kepastian pemberian skor. Pada soal bentuk uraian objektif, kunci jawaban dan pedoman penskorannya lebih pasti (diuraikan secara jelas hal/komponen yang di skor dan berapa skor untuk masing-masing komponen tersebut. Sedangkan pada soal uraian non-objektif pedoman penskoran dinyatakan dalam rentangan (0 – 4 atau 0 – 10), sehingga pemberian skor (penentuan kualitas jawaban) sedikit banyak akan dipengaruhi oleh unsur subjektif si pemberi skor. Untuk mengurangi subjektifitas ini, dapat dilakukan dengan cara membuat pedoman penskoran secara rinci dan jelas, sehingga pemberian skor dapat relatif sama.

3.    Kelebihan dan Kelemahan Tes Uraian/Essay Test

a.       Kelebihan Tes Uraian

1)    Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks. Hasil belajar yang kompleks artinya hasil belajar yang tidak sederhana. Hasil belajar yang kompleks tidak hanya membedakan yang benar dari yang salah, tetapi juga dapat mengekspresikan pemikiran peserta tes serta pemilihan kata yang dapat memberi arti yang spesifik pada suatu pemahaman tertentu. Apabila yang diukur adalah kemampuan hasil belajar yang sederhana, yaitu memilih suatu yang lebih benar atau yang lebih tepat, maka sebaiknya menggunakan tes objektif.

2)    Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan mengintegrasikan berbagi buah pikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taat asas, maka kemampuan tidak terlihat secara utuh. Bahkan kemampuan itu secara sederhana sudah akan dapat kelihatan dengan jelas dalam pemilihan kata, penyusunan kalimat, penggunaan tanda baca, penyusunan paragraf dan susunan rangkain paragraf dalam suatu keutuhan pikiran.

3)   Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri, sesuai dengan sifat tes uraian yang menuntut kemampuan siswa untuk mengekspresikan jawaban dalam kata-kata sendiri. Untuk dapat mengekspresikan pemahaman dan penguasaan bahan dalam jawaban tes, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara utuh. Penguasaan bahan yang tanggung atau parsial dapat dideteksi dengan mudah. Karena itu untuk menjawab tes uraian dengan baik peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikan dalam tes secara tuntas. Seorang peserta tes yang mengerjakan tes uraian dengan penguasaan bahan parsial akan tidak mampu menjawab soal dengan benar atau akan berusaha dengan cara membual.

4)   Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan guru untuk menyusun butir soal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama, jumlah butir soal tidak perlu banyak dan kedua, guru tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar sehingga akan sangat menghemat waktu konstruksi soal. Tetapi hal ini tidak berarti butir soal uraian dapat dikontruksikan secara asal-asalan. Kaidah penyusunan tes uraian tidaklah lebih sederhana dari kaidah penyusunan tes objektif.

5)   Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakan kebaikan sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes uraian akan sangat mendorong siswa dan guru untuk belajar dan mengajar, serta menyatakan pikiran secara tertulis.

Dengan demikian diharapkan kemampuan para peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan yang dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliable. Bagi siswa yang tidak mempunyai kemampuan menulis, akan menjadi beban.

b.        Kelemahan Tes Uraian

Kekurangan penilaian dengan menggunakana tes esai adalah sebagai berikut:

1)    Memungkinkan timbulnya keragaman dalam memberikan jawaban sehingga tidak ada rumusan benar yang pasti.

2)   Lebih memberikan peluang untuk bersifat subjektif karena penilai yang berbeda atau situasi yang berbeda. Dua atau lebih penilai memberikan penilaian terhadap jawaban yang sama atau seorang penilai menilai sebuah jawaban pada situasi yang berbeda sangat mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.

3)   Proses penyekoran sering terganggu oleh faktor-faktor lain diluar maksud pengukuran, misalnya keindahan dan kerapian tulisan.

4)  Penggunaan soal esai membutuhkan waktu koreksi yang lama dalam menentukan nilai.

5)   Reliabilitasnya rendah artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang paralel yang diuji ulang beberapa kali. Ada tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.


B.        Perencanaan Pengembangan Tes dalam Bentuk Uraian

Skema tes uraian

Seperti pada tes lain, untuk mendapatkan soal tes uraian yang baik, perlu direncanakan secara matang. Paling tidak si penyusun soal harus memahami atau mengingat kembali prinsip-prinsip penilaian, dan mengingat kembali prosedur pengembangan tes secara umum.

Secara umum perencanaan itu mencakup:
1.     Merumuskan tujuan tes, untuk apa tes itu dilakukan.
2.    Mengkaji/menganalisis: GBPP, pokok bahasan/topik/tema/konsep, buku sumber, rencana pembelajaran/satuan pelajaran, dan materi-materi pelajaran mana yang cocok untuk dibuat dengan soal uraian.
3.     Membuat kisi-kisi
4.    Penulisan soal disertai pembuatan kunci jawaban dan pedoman penskoran
5.     Penelaahan kembali rumusan soal (oleh sendiri atau orang lain)

Selain itu, dalam langkah perencanaan tes ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan guru sebagai pendidik yaitu:

1.    Menentukan cakupan materi yang akan diukur: Langkah ini biasanya dilakukan dengan menyusun kisi-kisi soal yaitu daftar spesifikasi, Ada empat langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar, yaitu;
a)   Menulis kompetensi dasar
b)   Menulis materi pokok
c)    Menentukan indikator dan
d)   Menentukan jumlah soal

2.    Bentuk Tes : Pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes, jumlah peserta tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan.

3.    Menetapkan panjang Tes : langkah menetapkan panjang tes, meliputi berapa waktu yang tersedia untuk melakukan tes, hal ini terkait erat dengan penetapan jumlah item-item tes yang akan dikembangkan. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal, yaitu bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi, keandalan yang diinginkan, dan waktu yang tersedia.


C.  PenyusunanSoal dalam Bentuk Tes Uraian

Kaidah umum yang perlu diperhatikan dalam menyusun suatu soal antara lain sebagai berikut :

1.     Gunakan bahasa yang mudah dipahami
2.    Jangan mengutip langsung kalimat dari buku
3.     Bila merupakan pandangan seseorang, sebutkan tokohnya
4.    Tidak memberi isyarat jawaban bagi soal lain
5.    Hindarkan hal-hal yang sepele
6.    Hindarkan kebergantungan pada soal lain

Suatu soal juga seharusnya mempunyai petunjuk pengerjaan soal. Petunjuk soal seharusnya berisi tentang :

1.          bagaimana cara mengerjakan tes tersebut
2.         bagaimana bentuk jawaban yang harus ditulis
3.         kriteria umum yang akan digunakan dalam menilai jawaban tersebut
4.        waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tes tersebut
5.         Jika ada pembobotan pada soal, sebaiknya juga diberitahukan sehingga membantu siswa mengalokasikan waktu menjawab soal dengan bijaksana.

Kaidah menyusun soal uraian/esay yang baik adalah sebagai berikut :

1.          Tentukan pengetahuan/ kecakapan apa yang akan kita evaluasi
2.         Tentukan bahwa siswa tidak akan menjawab terlalu banyak atau terlalu panjang sehingga waktu tidak cukup. Tes essay bukan tes kecepatan menulis.
3.         Mulailah pertanyaan dengan ”bandingkan”, ”berilah alasan”, ”jelaskan”, ”terangkan bagaimana” jangan mulai pertanyaan dengan ”apa”, ”siapa”, ”berapa”, ”kapan”
4.        Jika ada beberapa soal usahakan ada rentangan kesukaran dan kekompleksan soal. Kalimat jelas tidak mengandung arti ganda
5.         Panjang pendek dan kompleksitas jawaban disesuaikan dengan tingkat kematangan siswa

Langkah-langkah dalam penyusunan soal uraian/esai adalah sebagai berikut.
1.        Penentuan tujuan tes
2.       Penyusunan kisi-kisi tes
3.        Penulisan Soal
4.      penelaahan soal (validasi soal)
5.       Perakitan soal menjadi perangkat tes
6.        Uji coba soal termasuk analisis-nya
7.       Bank Soal
8.       Penyajian tes kepada peserta didik
9.       Skoring (pemeriksaan jawaban)



D.  Pengadministrasian Tes Uraian

Dalam pengadministrasian soal uraian/esai, ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.
1.     Soal sesuai dengan indikator
2.    Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai
3.     Materi yang ditanyakan sesuai dengan tujuan pengukuran
4.    Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis pendidikan atau tingkat kelas
5.    Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian
6.    Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal

7.     Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca
8.    Rumusan kalimat soal komunikatif
9.    Butir soal menggunakan bahasa yang baku
10. Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian
11.  Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu
12. Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat menyinggung perasaan peserta didik

Langkah-langkahpengadministrasian soal uraian/esai antara lain sebagai berikut :

1.     Merumuskan tujuan tes
Tes uraian dapat dibuat untuk bermacam-macam tujuan, seperti:
a.     Pertama, tes yang bertujuan untuk mengadakan evaluasi belajar tahap akhir (EBTA) atau ujian lain yang sejenis dengan EBTA.
b.    Kedua, tes yang bertujuan untuk mengadakan seleksi, misalnya untuk saringan masuk perguruan tinggi atau untuk penerimaan beasiswa untuk murid yang berbakat.
c.     Ketiga, tes yang bertujuan untuk mendiagnosis kesulitan belajar murid, yang dikenal dengan tes diagnostic.

2.    Analisis Kurikulum atau Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
Analisis kurikulum bertujuan untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan yang akan dijadikan dasar dalam menentukan item atau butir soal dalam membuat kisi-kisi soal.

3.     Analisis Buku Pelajaran dan Sumber dari Materi Belajar Lainnya
Analisis buku pelajaran digunakan untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan berdasarkan jumlah halaman materi yang termuat dalam buku pelajaran atau sumber materi belajar lainnya.

4.    Mengidentifikasi materi-materi yang cocok untuk dibuat dengan soal uraian
Tes uraian biasanya dibuat dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan menganalisis yang dimiliki oleh siswa, atau menjelaskan prosedur, hubungan sebab-akibat, atau memberikan argumen-argumen yang relevan.

5.    Membuat kisi-kisi
Manfaat kisi-kisi adalah untuk menjamin sampel soal yang baik, dalam arti mencakup semua pokok bahasan secara proporsional.

Contoh format kisi-kisi soal :

No.
Kompetensi
Materi
Indikator
No. Soal
1.
2.
3.

6.    Penulisan soal disertai pembuatan kunci jawaban dan pedoman penskoran
Dalam penskoran bentuk soal uraian objektif, skor hanya dimungkinkan dengan dua kata gori, yaitu benar atau salah. Untuk setiap kata kunci yang benar diberi skor 1 (satu), sedangkan setiap kata kunci yang dijawab salah atau tidak dijawab diberi skor 0 (nol). Dalam satu rumusan jawaban dapat mengandung lebih dari satu kata kunci, sehingga skor maksimum jawaban dapat lebih dari satu. Kata kunci tersebut dapat berupa kalimat, kata, bilangan, simbol, gambar, grafik, ide, gagasan atau pernyataan yang merupakan kunci jawaban atas satu pertanyaan (soal). Dengan pembagian yang tegas seperti ini, unsur subjektifitas dapat dihindari atau dikurangi.

Dengan berpedoman pada hal di atas, maka langkah pemberian skor soal uraian objektif adalah :

a.         Tuliskan semua kata kunci atau kemungkinan jawaban benar secara jelas untuk setiap soal.
b.        Setiap kata kunci yang benar di jawab diberi skor 1. Tidak ada skor setengah untuk jawaban yang kurang sempurna. Jawaban yang diberi skor 1 adalah jawaban sempurna, jawaban lainnya adalah 0.
c.         Apabila satu pertanyaan memiliki beberapa sub pertanyaan, rincilah kata kunci dari jawaban soal tersebut menjadi beberapa kata kunci sub jawaban, dan buatkan skornya.
d.        Jumlahkan skor dari semua kata kunci yang telah ditetapkan pada soal dimaksud. Jumlah skor ini disebut skor maksimum.

Dalam penyekoran soal bentuk uraian non-objektif, skor dijabarkan dalam rentang. Besarnya rentang skor ditetapkan oleh kompleksitas jawaban. Oleh karena itu mungkin berentang dari 0 – 4, 0 – 8, 0 – 10, dan lain-lain. Skor minimum harus 0, karena jika tidak yang tidak menjawab pun akan mendapat skor minimum tersebut. Sedangkan skor maksimum ditentukan oleh penyusun soal dan keadaan jawaban yang dituntut oleh soal itu. Langkah penskorannya adalah:

a.         Tuliskan garis-garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan pegangan dalam pemberian skor.
b.        Tetapkan rentang skor untuk setiap kriteria jawaban.
c.         Pemberian skor pada setiap jawaban tergantung pada kualitas jawaban yang diberikan oleh siswa.
d.        Jumlahkan skor-skor yang diperoleh dari setiap kriteria jawaban sebagai skor siswa. Jumlah skor-skor tertinggi dari setiap kriteria jawaban disebut skor maksimum dari suatu soal.
e.         Periksalah satu soal-satu soal untuk semua siswa sebelum pindah ke soal lain, untuk menghindari pemberian skor berbeda terhadap jawaban yang sama.
f.          Bila tiap butir soal telah selesai diskor, hitunglah jumlah skor perolehan siswa untuk setiap soal. Kemudian hitung nilai tiap soal dengan rumus:
Skor perolehan siswa
Nilai tiap soal =
g.         Jumlahkan semua nilai yang diperoleh dari semua soal. Jumlah ini disebut nilai akhir dari suatu perangkat tes yang disajikan.
7.         Penelaahan kembali rumusan soal (bisa dilakukan sendiri atau orang lain)

Dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan adanya batasan ruang lingkup, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari, serta dapat mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penyekoran. Karena itu kaidah umum yang terpenting dalam menulis soal bentuk uraian adalah, segera tulis kunci jawaban atau pokok-pokok jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa beserta kriteria atau rentang skor yang mungkin diberikan, begitu selesai menulis soal.

Kaidah khusus penulisan soal bentuk uraian adalah sebagai berikut :

Materi
a.         Soal harus sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Artinya soal harus menyatakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator.
b.        Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.
c.          Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran. 44
d.        Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis sekolah dan tingkat kelas.

Konstruksi
a.         Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai; seperti: mengapa, uraikan, jelaskan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah, dsb. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya: siapa, dimana, kapan. Demikian juga kalimat tanya yang menuntut jawaban “ya” atau “tidak”, jangan digunakan.
b.        Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
c.         Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soal selesai ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penskorannya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentang skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan.
d.        Hal-hal lain yang menyertai soal (grafik, tabel, gambar, peta, atau yang sejenisnya) harus jelas dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Bahasa
a.         Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana, dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa, serta baik dari segi kaidah bahasa Indonesia.
b.        Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
c.         Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran yang berbeda (salah pengertian).
d.        Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal peserta berasal dari berbagai daerah.
e.         Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan testee.

Contoh kartu Telaah Soal Uraian:
No. Soal
Perangkat
No.
Aspek yang Ditelaah
Ya
Tidak
A. Materi
1.
Soal sesuai dengan indikator
2.
Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas
3.
Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran
4.
Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah 
atau tingkat kelas
B. Konstruksi
5.
Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya 
atau perintah yang menuntut jawaban terurai
6.
Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal
7.
Ada pedoman penskoran
8.
Gambar, grafik, table, diagram dan sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca
C. Bahasa
9.
Rumusan kalimat soal komunikatif
10.
Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
11.
Rumusan soal tidak menggunakan kata /kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian
12.
Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat
13.
Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan siswa
Catatan:

8.      Reproduksi tes terbatas
Tes yang sudah dibuat diperbanyak dalam jumlah yang cukup menurut jumlah sampel uji coba atau jumlah peserta
9.         Uji Coba Tes
Sampel uji coba harus mempunyai karakteristikyang kurang lebih sama dengan karakteristik peserta tes yang sesungguhnya.
10.      Analisis hasil uji coba
Berdasarkan data hasil uji coba dilakukan analisis, terutama analisis butir soal yang meliputi validitas butir, tingkat kesukaran, dan fungsi pengecoh.

11.       Revisi soal
Apabila soal-soal yang valid belum memenuhi syarat berdasarkan hasil konfirmasi dengan kisi-kisi, dapat dilakukan perbaikan atau revisi soal.
12.      Merakit soal menjadi tes



E. Penilaian Soal Uraian
               
Interpretasi Seperti dalam bentuk tes lain, interpretasi adalah menafsirkan bagaimana hasil pelaksanaan penilaian tersebut, apakah tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan tercapai atau tidak.

Langkah yang harus ditempuh dalam menginterpretasikan hasil evaluasi itu adalah:
1.          Lakukan pemberian skor
2.         Tetapkan pendekatan penilaian yang sesuai dengan tujuan penilaian
3.         Buat kriteria
4.        Bandingkan skor yang diperoleh dengan criteria yang telah ditetapkan

Analisis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara rasional sebelum tes itu digunakan/ diujicobakan (dengan menggunakan kartu telaah), dan secara empiris dengan menganalisis hasil ujian atau hasil uji-coba secara kuantitatif.

1.          Analisis Daya Pembeda Soal
Yang dimaksud dengan daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (menguasai materi yang ditanyakan) dengan siswa yang kurang pandai (belum/tidak menguasai materi yang ditanyakan). Logikanya adalah siswa yang pandai akan lebih mampu menjawab (mendapat skor lebih baik) dibanding dengan siswa yang bodoh. Indeks daya pembeda biasanya dinyatakan dengan proporsi. Semakin tinggi proporsi itu, maka semakin baik soal tersebut membedakan antara siswa yang belajar dengan yang tidak belajar, antara siswa yang menguasai dengan yang tidak menguasai.

2.         Analisis Tingkat Kesukaran.
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu, yang biasa dinyatakan dengan indeks. Indeks ini biasa dinyatakan dengan proporsi yang bersarnya antara 0,00 sampai 1,00. Semakin besar indeks tingkat kesukaran, berarti soal tersebut semakin mudah

Selain itu, Agar diperoleh soal–soal bentuk yang dikatakan memadai sebagai alat penilaian hasil belajar, hendaknya diperhatikan hal-hal berikut:

1.          Dari segi isi yang diukur
Segi yang hendak diukur hendaknya ditentukan secara jelas abilitasnya misalnya pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisi suatau permasalahan, dan aspek kongnitif lainnya.Setelah abilitas yang hendak diukur cukup jelas, tetapkan materi yang ditanyakan.

2.         Dari segi bahasa
Gunakan bahasa yang baik dan benar sehingga mudah diketahui makna yang terkadung dalam rumusan pertanyaan.bahasanya sederhana, singkat tetapi jelas apa yang ditanyakan. Hindari bahas yang berbelit-belit, membingungkan, atau mengecoh siswa.

3.         Dari segi teknis penyajian soal
Hendaknya jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama sekalipun untuk abilitas yang berbeda sehingga soal atau pertanyaan yang diajukan lebih komprehensif dari pada segi ingkup materinya.

4.      Dari segi jawaban
Jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan yang jawabnnya belum pasti atau guru sendiri tidak tahu jawabannya, atau mengharapkan kebenaran jawabannya tersebut diperoleh dari siswa


Banyak guru yang memberikan skor esai dengan standar yang kurang jelas. Mereka tidak membuat jawaban terlebih dahulu, tetapi menunggu jawaban yang akan diberikan oleh siswa. Hal ini menyebabkan standar yang digunakan bergantung pada kemampuan siswa dalam kelompok sehingga siswa yang memperoleh skor yang tinggi tidak berarti menguasai target yang ditetapkan dengan baik. Padahal kriteria standar merupakan aspek penting dalam pemberian skor yang tepat dan lebih akurat. Pada umumnya penilaian evaluatif dalam menentukan nilai suatu soal dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1.          Dengan daftar check
Membuat daftar indikator yang spesifik dan memberikan nilai pada indikator spesifik tersebut, lalu penilaian dilakukan memberikan nilai tersebut pada jawaban siswa jika sesuai dengan indikator-indikator yang telah didaftar tersebut.
2.         Dengan skala penilaian
Dilakukan dengan menentukan nilai untuk satu atau lebih keterampilan yang merupakan suatu rangkaian dalam bentuk skala. Misalnya skala lima poin menentukan lima tingkat dari sebuah keterampilan.

Contoh penggunaan daftar cek yaitu:
Nilai Tinggi
5
Jawaban yang diberikan jelas, fokus, dan akurat. Dapat menggambarkan suatu hubungan dengan baik dan wawasan yang penting digunakan.
Nilai Sedang
3
Jawaban yang diberikan jelas dan agak focus, tetapi kurang akurat. Hubungan yang digambarkan kurang jelas, dan hanya menunjukkan beberapa wawasan penting.
Nilai Rendah
1
Jawaban yang diberikan meleset, mengandung informasi yang tidak akurat, atau menunjukkan kekurangan penguasaan materi. Gambaran yang ditunjukkan tidak jelas, tidak menggunakan wawasan yang diinginkan.

Penilaian dengan skala lebih subjektif dibandingkan dengan daftar check. Terdapat tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam penilaian menggunakan nilai skala, yaitu :
1.      Tentukan arti dari kesuksesan siswa dalam bentuk skala yang meningkat dalam asesmen.
2.     Berikan contoh kepada siswa yang mengilustrasikan perbedaan dari skala.
3.     Menyediakan latihan yang baik dengan standar yang telah ditentukan

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pengembangan tes uraian dan non tes stkip pgri sidoarjo.htm

http://www.tes esai (essay test) arifin muslim, s.pd.pgsd fkip um purwokerto.htm

http://www.tehnik menskor   john mucle - academia.edu.htm

http://www.Syarat Dan Aturan Penilaian Tes Essay.htm

http://www.Perencanaan Pembuatan Tes   Wakhinuddin's Weblog.htm

http://www.Menuliskan Item-Item Test, Untuk Berbagai Jenis Tes   Mochamad Rovik - Academia.edu.htm

http://www.sumber referensi  penyusunan tes.htm

http://www.tes uraian dan tes objektif .fitriyaniputribungsu.htm

http://www.tes hasil belajar. navel's blog.htm

http://www.perencanaan tes.htm



By Muliana G. H., S. Pd, Mardiana Suyuti S. Pd, Hj. Nureani S. Pd, Hj. Rahmia S. Pd, & Asmadi S. Pd - 2015
Loading...

0 Response to "Perencanaan, Penyusunan, Pengaminidstrasian dan Tekhnik Penilaian Tes Urairan/Essai"

Posting Komentar