Pengembangan Kurikulum

Loading...


Contoh Makalah P4B (Program Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi) = Pengembangan Kurikulum

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Pada dasarnya pengembangan  kurikulumdi Indonesia berpijak dari sejarah perkembangan pendidikan di  Indonesia itu sendiri. Secara formal, sejak zaman Belanda sudah terdapat sekolah, dan artinya kurikum juga sudah ada. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada 17 agustus 1945, pendidikan di tanah air terus berkembang, termasuk dalam hal perhatian pemerintah dalam perkembangan kurikulum (Idi, 2014).

Sejak Indonesia merdeka kurikulum telah mengalami beberapa kali perubahan secara berturut-turut yaitu pada tahun 1947, tahun 1952, tahun 1964, tahun 1968, tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994, dan tahun 2004, serta yang terbaru adalah kurikulum tahun 2006.Pada saat ini telah dan sedang dilaksanakan Uji Publik kurikulum 2013 sebagai pengembangan dari kurikulum 2006 atau KTSP.

Secara umum, perkembangan kurikulum adalah  proses  perencanaan  dan  penyusunan kurikulum  oleh  pengembang kurikulum  (curriculum  developer)  dan  kegiatan  yang  dilakukan  agar  kurikulum  yang  dihasilkan  dapat  menjadi  bahan  ajar  dan  acuan  yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Nuryani, 2010).

Kurikulum,  sebagai  suatu  rancangan  dalam  pendidikan  memiliki  posisi  yang strategis,  karena  seluruh  kegiatan  pendidikan  bermuara  kepada  kurikulum.  Begitu pentingnya  kurikulum  sebagai  sentral  kegiatan  pendidikan  maka  harus  benar-benar  dikembangkan. 

Menurut Mulyasa (2013) dalam suatu sistem pendidikan kurikulum itu sifatnya dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengemabangan. Meskipun demikian, perubahan dan pengembangannya  harus dilakukan secara sistematis dan terarah, tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum harus memiliki visi dan arah yang jelas, mau dibawa ke mana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut.

Berdasarkan dari beberapa uraian yang telah dipaparkan diatas pemakalah mencoba menulis tentang bagaimana mengembangkan kurikulum yang dapat dijadikan pedoman untuk mencapai proses pembelajaran agar institusi pendidikan dapat mewujudkan cita-cita dan tujuan mulia pendidikan nasional, dimana outputnya diharapkan mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat sesuai dengan tuntutan zaman.

Mengingat masyarakat yang slalu dinamis dan tidak statis, tantangan dunia pendidikan pun semakin dinamis. Maka kami mengharapkan dengan adanya makalah sederhana ini dapat menjadi bekal bagi tenaga pendidik/ calon tenaga pendidik dalam memajukan institusi pendidikan di Indonesia.


B.      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah.
1.     Apa pengertian dari kurikulum?
2.    Bagaimana sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia?
3.    Apa saja landasan-landasan dalam pengembangan kurikulum?
4.   Apa saja prinsip dalam pengembangan kurikulum?
5.    Apasaja komponen dalam pengembanagn kurikulum?
6.    Bagimana langkah-langkah dalam mengembangkan kurikulum?
7.    Bagaimana latar belakang dalam pengembangan kurikulum 2013?
8.    Bagaimana perbedaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan kurikulum 2013? 

C.     Tujuan Penulisan.

Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini yaitu.
1.     Untuk mengetahui pengertian kurikulum
2.    Untuk mengetahui sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia
3.    Untuk mengetahui landasan-landasan dalam pengembangan kurikulum
4.   Untuk mengetahui prinsip dalam pengembangan kurikulum
5.    Untuk mengetahui komponen dalam pengembangan kurikulum
6.    Untuk mengetahui langkah-langkah dalam mengembangkan kurikulum
7.    Untuk mengetahui latar belakang pengembangan kurikulum 2013?
8.    Untuk mengetahui perbedaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan kurikulum 2013



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.     Pengertian Kurikulum

Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu kata curir dan currere yang merupakan istilah bagi tempat berpacu, berlari, dari sebuah perlombaan yang telah dibentuk semacam rute pacuan yang harus dilalui oleh para competitor sebuah perlombaan. Dengan kata lain, rute tersebut harus dipatuhi dan dilalui oleh para kompetitor sebuah perlombaan. Konsekuensinya adalah, siapapun yang mengikuti kompetisi harus mematuhi rute currere tersebut.

Secara semantik,  kurikulum  senantiasa  terkait  dengan  kegiatan pendidikan. Kurikulum  sebagai jembatan untuk mendapatkan  ijasah. Secara  konseptual,  kurikulum  adalah perangkat  pendidikan yang  merupakan  jawaban  terhadap  kebutuhan  dan  tantangan  masyarakat  (Olivia, 1997 dalam Nuryani, 2010).

Menurut Hafni (2005) kurikulum dapat diartikan sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu.Sedangkan menurut undang-undang sistem pendidikan nasional no. 20 tahun 2003 pasal 1 dijelaskan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal ini menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global.Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan.

Jadi kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.


B.      Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap.Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013.Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.Adapun perkembangan Kurikulum di Indonesia
a.       1947  : Rencana Pelajaran Dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai
b.      1964  :Rencana Pendidikan Sekolah Dasar
c.       1968  :Kurikulum Sekolah Dasar
d.      1973  :Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
e.       1975  :Kurikulum Sekolah Dasar
f.        1984  :Kurikulum 1984
g.       1994  :Kurikulum 1994
h.      1997  ;Revisi Kurikulum 1994
i.         2004  :Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
j.         2006  :Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
k.      2013  :Kurikulum 2013 tahap uji publik dan sosialisasi serta uji coba pada sekolah sampel.
(a)      Tahun 2014 sekolah sampel melakukan pendampingan pada setiap sekolah,  
(b)     Pemberlakuan kurikulum 2013 secara umum tiap tingkatan sekolah dan kelas di Tahun 2015


C.     Landasan Pengembangan Kurikulum.

Landasan pengembangan kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalm pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan.Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam (Amri, 2010).

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1997), secara umum ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial-budaya dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.        Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran–aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.

a.       Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

b.      Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

c.       Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?

d.      Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

e.       Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi.Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.

2.       Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar.Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya.Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar.Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi.Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu
  1. motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
  2. bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
  3. konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
  4. pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
  5. keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.

Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan.Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang.Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan.Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini.Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.

Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.

3.       Landasan Sosial-Budaya

Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula.Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.

Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.

Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.

Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.


4.      Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang

Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.

Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya.Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan metakognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia.Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.


D.    Komponen- Komponen Pengembangan Kurikulum.

Menurut Anonim (2012), sistem  kurikulum  terbentuk  oleh 4 komponen  yaitu,  komponen  tujuan, isi  kurikulum,  metode  atau  strategi, pencapaian tujuan dan komponen evaluasi. Sebagai suatu sistem,setiap komponen harus saling berkaitan  satu  sama  lain.  Manakala  salah  satu  komponen yang  terbentuk  sisterm kurikulum  terganggu  atau  tidak  berkaitan  dengan  komponen  lainnya  maka  sistem kurikulum juga akan terganggu.


1.     Komponen tujuan.

Komponen  tujuan  berhubungan  dengan  arah  atau  hasil  yang  diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau  sistem  nilai  yang  dianut  masyarakat.  Bahkan,  rumusan  tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Tujuan  pendidikan  memiliki  klasifikasi,  dari  mulai  tujuan  yang  sangat  umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur,yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :

a.    Tujuan pendidikan nasional ( TPN).

Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan  sasaran  yang  harus  dijadikan  pedoman  oleh  setiap  usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku  yang  ideal  sesuai  dengan  pandangan  hidup  dan  filsafat  suatu bangsa  yang  dirumuskan  oleh  pemerintah  dalam  bentuk  undan-undang.

Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai pancasila  dirumuskan  dalam  UU  No.  20  Tahun  2003  Pasal  3,  bahwa pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan  bentuk watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehudupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya potensi  peserta  didik,  agar  menjadi  manusia yang  beriman  dan  bertaqwa kepada  Tuhan  YME,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif, mandiri,  dan  menjadi  warga  Negara  yang  demokratis  serta  bertanggung jawab.

b.   Tujuan institusional ( TI ).
Tujuan  institusional  adalah  tujuan  yang  harus  dicapai  oleh  setip lembaga pendidikan.  Tujuan  institusional  merupan  tujuan  antara  untuk  mencapai tujuan  umum  yang  dirumuskan  dalam  bentuk  kompetensi  lulusan  setiap jenjang  pendidikan,  misalnya  standar  kompetensi  pendidikan  dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi.

c.    Tujuan kurikuler ( TK ).
Tujuan  kurikuler  adalah  tujuan  yang  harus  dicapai  oleh  setiap  bidang studi  atau  mata  pelajaran.  Tujuan  kurikuler  juga  pada  dasarnya merupakan  tujuan  antara  untuk  mencapai  tujuan  lembaga  pendidikan. Dengan  demikian,  setiap  tujuan  kurikuler  harus  dpat  mendukung  dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.

d.   Tujuan instruksional atau Tujuan pembelajaran (TP).
Tujuan  pembelajaran yang  merupakn  bagian  dari  tujuan  kurikuler,dapat didefinisikan  sebagai  kemampuan  yang  harus  dimiliki  oleh  anak  didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam  satu  kali  pertemuan.  Karena  hanya  guru  yang  memahami  kondisi lapangan, termasuk  memahami  karakteristik siswa  yang  akan  melakukan pembelajaran  disuatu  sekolah,  maka  menjabarkan  tujuan  pembelajaran adalah tugas guru.

2.    Komponen isi/Materi pelajaran.
Isi kurikulum  merupakan  komponen  yang  berhubungan denganpengalaman  belajar  yang  harus  dimiliki  siswa.  Isi  kurikulum  itu  menyangkut semua  aspek  baik  yang  berhubungan  dengan  pengetahuan  atau  materi pelajaran  yang  biasanya  tergambarkan  pada  isi  setiap  mata  pelajaran  yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

3.    Komponen metode/Strategi.
Strategi  dan  metode  merupakan  komponen ketiga dalam pengembangan  kurikulum.  Komponen  ini  merupakan  komponen  yang memiliki  peran  yang  sangat  penting,  sebab  berhubungan  dengan implementasi  kurikulum.  Strategi  pembelajaran  sebagai  pola  dan  urutan  umum  perbuatan guru-siswa  dalam  mewujudkan  kegiatan  belajar  mengajar  untuk  mencapai tujuan yang telah ditentukan.

4.   Komponen evaluasi. 
Tujuan evaluasi yang komprehensif dapat ditinjau dari tiga dimensi, yakni diemensi I (formatif-sumatif),  dimensi  II  (proses-produk)  dan dimensi  III  (operasi  keseluruhan proses  kurikulum  atau  hasil  belajar  siswa).  Dengan  adanya  tiga  dimensi  itu,  maka dapat digambarkan sebagai kubus. Selain itu dapat lagi kurikulum ditinjau dari segi historis, yakni  bagaimanakah  kurikulum  sebelumnya  yang  dipandang  oleh anteseden.
Oleh  sebab  ketiga  dimensi  itu  masing-masing  mempunyai  dua  komponen,  maka keseluruhan evaluasi terdiri dari enam komponen yang bertkaitan satu sama lainnya.
a.    Dimensi I.
1)   Formatif :  evaluasi  dilakukan  sepanjang  pelaksanaan  kurikulum. Data dikumpulkan dan dianalisis untuk menemukan masalah serta mengadakan perbaikan sedini mungkin.
2)  Sumatif:  proses  evaluasi  dilakukan  pada  akhir  jangka  waktu  tertentu, misalnya  pada  akhir  semester ,  tahun  pelajaran  atau  setelah  lima tahun untuk mengetahui evektifitas kurikulum dengan menggunakan semua data yang  dikumpulkan  selama  pelaksanaan  dan  akhir  proses  implementasi kurikulum.
b.   Dimensi II.
1)   Proses:  yang  dievaluasi  ialah  metode  dan  proses  dalam  pelaksanaan kurikulum.  Tujuannya  ialah    untuk  mengetahui  metode  dan  proses  yang digunakan  dalam  implementasi  kurikulum.  Metode  apakah  yang digunakan?  Apakah  tepat  penggunaannya?  Apakah  berhasil  baik  atau tidak? Kesulitan apa yang dihadapi?
2)  Produk : yang dievaluasi ialah hasil-hasil yang nyata, yang dapat dilihat dari silabus, satuan pelajaran dan alat-alat pelajaran yang dihasilkan olehguru  dan  hasil-hasil  siswaberupa  hasil  test,  karangan,  termasuk  tesis, makalah, dan sebagainya.
c.    Dimensi III.
1)      Operasi: disini dievaluasi keseluruhan proses pengembangan kurikulum termasuk perencanaan, desain, implementasi, administrasi,  pengawasan, pemantauan  dan  penilaiannya.  Juga  biaya,  staf  pengajar,  penerimaan siswa,singkatnya seluruh operasi lembaga pendidikan itu.
2)     Hasil  belajar  siswa:  disini  yang  dievaluasi  ialah  hasil  belajar  siswa berkenaan  dengan  kurikulum  yang  harus  dicapai,  dinilai  berdasarkan standar yang telah ditentukan  dengan  mempertimbangkan  determinan kurikulum,  misi  lembaga  pendidikan  serta  tuntutan  dari  pihak  konsumen luar.


E.     Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum.

Hamalik  (2007)  membagi  prinsip  pengembangan  kurikulum  menjadi  delapan macam, antara lain:

1.     Prinsip berorientasi pada tujuan. 
Pengembangan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak  dari  tujuan  pendidikan  nasional.  Tujuan  kurikulum  merupakan  penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan jenjang pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum  mengandung  aspek-aspek  pengetahuan,  ketrampilan,  sikap  dan  nilai.Yang  selanjutnya  menumbuhkan  perubahan  tingkah  laku  peserta  didik  yang mencakup  tiga  aspek  tersebut  dan  bertalian  dengan  aspek-aspek  yang  terkandung dalam tujuan pendidikan nasional.

2.    Prinsip relevansi (kesesuaian).
Pengembangan  kurikulum  yang  meliputi  tujuan,  isi  dan  sistem  penyampaian harus  relevan  (sesuai)  dengan  kebutuhan  dan  keadaan  masyarakat,  tingkat perkembangan  dan  kebutuhan  siswa,  serta  serasi  dengan  perkembangan  ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.    Prinsip efisiensidan efektifitas.
Pengembangan  kurikulum  harus  mempertimbangkan  segi  efisien  dan pendayagunaan dana, waktu, tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar dapat mencapai  hasil  yang  optimal.  Dana  yang  terbatas  harus digunakan sedemikina  rupa dalam  rangka  mendukung  pelaksanaan  pembelajaran. Waktu  yang  tersedia  bagi siswa  belajar  disekolah  juga  terbatas  sehingga  harus  dimanfaatkan  secara  tepat sesuai  dengan  tata  ajaran  dan  bahan  pembelajaran  yang  diperlukan.  Tenaga disekolah  juga  sangat  terbatas,  baik  dalam  jumlah  maupun  dalam  mutunya, hendaknya  didaya  gunakan  secara  efisien  untuk  melaksanakan  proses pembelajaran. Demikian juga keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan, dan sumber kerterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh sswa dalam rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan efektifitas atau keberhasilan siswa.

4.   Prinsip fleksibilitas.
Kurikulum  yang  luwes  mudah  disesuaikan,  diubah,  dilengkapi  atau  dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan ketrampilan industri dan pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan  pertanian.,  maka  yang  dialaksanakan  program  ketrampilan  pendidikn industri.  Sebaliknya,  pelaksanaan  di  desa  ditekankan  pada  program  ketrampilan pertanian.  Dalam  hal  ini  lingkungan  sekitar,  keadaaan  masyarakat,  dan ketersediaan  tenaga  dan  peralatan  menjadi  faktor  pertimbangan  dalam  rangka pelaksanaan kurikulum.

5.    Prinsip kontiunitas.
Kurikulum  disusun  secara  berkesinambungan,  artinya  bagian-bagian,  aspek-spek, materi, dan bahan kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu  sama  lain  memilik  hubungan  fungsional  yang  bermakna,  sesuai  dengan jenjang pendidikan, struktur dalam satuan pendidikn, tingkat perkembangan siswa. Dengan  prinsip  ini,  tampak  jelas  alur  dan  keterkaitan  didalam  kurikulum  tersebut sehingga  mempermudah  guru  dan  siswa  dalam  melaksanakan  proses pembelajaran.

6.    Prinsip keseimbangan.
Penyusunan  kurikulum  meperhatikan  keseimbangan  secara  proposional  dan fungsional  antara  berbagai  program  dan  sub-program,  antara  semua  mata  pelajaran,dan  antara  aspek-aspek  perilaku  yang  ingin  dikembangkan.  Keseimbangan  juga perlu diadakan antara teori dan praktik, antara unsur-unsur keilmuan sains, sosial, humaniora,  dan  keilmuan  perilaku.  Dengan  keseimbangan  tersebut  diaharapkan terjalin  perpaduan  yang  lengkap  dan  menyeluruh,  yang  satu  sama  lainnya  saling memberikan sumbangan terhadap pengembangan pribadi.

7.    Prinsip keterpaduan.
Kurikulum  dirancang  dan  dilaksanakan  berdasarkan  prinsip  keterpaduan, perencanaan  terpadu  bertitik  tolak  dari  masalah  atau  topik  dan  konsistensi  antara unsur-unsusrnya.  Pelaksanaan  terpadu  dengan  melibatkan  semua  pihak,  baik  di lingkungan  sekolah  maupun  pada  tingkat  inter  sektoral.  Dengan  keterpaduan  ini diharapkan  terbentuk  pribadi  yang  bulat  dan  utuh.  Disamping  itu  juga dilaksanakan  keterpaduan  dalam  proses  pembalajaran,  baik  dalam  interaksi  antar siswa dan guru maupun antara teori dan praktek.

8.    Prinsip mutu
Pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu, yang berarti bahwa pelaksanaan  pembelajaran  yang  bermutu  ditentukan  oleh  derajat  mutu  guru, kegiatan belajar mengajar, peralatan,/media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diharapkan.


F.     Langkah-Langkah Pengembangan Kurikulum

Menurut Taba ada lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik dari Taba, yaitu :

1.        Membuat unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru :
Dalam kegiatan ini perlu mempersiapkan perencanaan berdasarkan pada teori-teori yang kuat dan eksperimen harus dilakukan di dalam kelas dengan menghasilkan data yang empiric dan teruji. Unit –unit eksperimen ini harus dirancang melaui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1)Mendiagnosis kebutuhan. Pada langkah ini, pengembangan kurikulum dimulai dengan  menentukan kebuttuhan-kebutuhan siswa melalui diagnosis tentang berbagai kekurangan (deficiencies), dan perbedaan latar belakang siswa. Tenaga pengajar mengidentifikasi masalah-masalah, kondisi, kesulitan serta kebutuhan-kebutuhan siswa dalam suatu proses pengajaran. Lingkup diagnosis tergantung pada latar belakang program yang akan direvisi, termasuk didalamnya tujuan konteks dimana program tersebut difungsikan.
2)     Merumuskan tujuan khusus. Setelah kebuttuhan-kebutuhan siswa didiagnosis, selanjutnya para pengembang kurikulum merumuskan tujuan. Rumusan tujuan akan meliputi:
a.       Konsep atau gagasan yang akan dipelajari
b.      Sikap, kepekaan dan perasaan yang akan dikembangkan
c.       Cara befikir untuk memperkuat,
d.      Kebiasaan dan keterampilan yang akan dikuasai
3)     Memilih isi. Pemilihan isi kurikulum sesuai dengan tujuan meerupakan langkah berikutnya. Pemilihan isi bukan saja didasarkan pada tujuan yang harus dicapai sesuai dengan langkah kedua, akan tetapi juga harus mempertimbangkan segi validitas dan kebermaknaannya untuk siswa.
4)     Mengorganisasi isi. Melalui penyeleksian, selanjutnya isi kurikulum yang telah ditentukan itu disusun urutannya, sehingga tampak pada tingkat atau kelas berapa sebaiknya kurikulum itu diberikan.
5)     Memilih pengalaman belajar. Pada tahap ini ditentukan pengalaman-pengalaman belajar yag harus dimiliki siswa untuk mencapai tujuan kurikulum.
6)     Mengorganisasi pengalaman belajar. Guru selanjutnya menentukan bagaimana mengemas pengalaman-pengalaman belajar yang telah ditentukan itu kedalam paket-paket kegiatan itu, siswa diajak serta, agar mereka memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan belajar.
7)      Menentukan alat evaluasi dan prosedur yang harus dilakukan siswa.Peda penentuan alat evaluasi guru dapat menyeleksi berbagai teknik yang dapat dilakukan untuk menilai prestasi siswa, apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum.
8)      Menguji keseimbangan isi kurikulum. Pengujian ini perlu dilakukan untuk melihat kesesuaian antara isi, pengalaman belajar, dan tipe-tipe belajar siswa.

2.       Menguji unit eksperimen
Unit yang sudah sudah dihasilkan pada langkah yang pertama harus diujicobakan pada berbagai situasi dan kondisi belajar.Pengujian dilakukan untuk mengetahui tigkat validitas dan kepraktisan sehingga dapat menghimpun data sebagai penyempurnaan.

3.       Mengadakan revisi dan konsolidasi
Setelah langkah pengujian, maka langkah selanjutnya melakukan revisi dan konsolidasi.Perbaikan dan penyempurnaan dilakukan pada data yang dihimpun sebelumnya.Selain dilakukan perbaikan dan penyempurnaan dilakukan juga konsolidasi yaitu penarikan kesimpulan hal-hal yang umum dan tentang konsistensi teori-teori yang digunakan.Langkah ini dilakukan secara bersama-sama dengan coordinator kurikulum maupun ahli kurikulum. Produk dari langkah ini adalah berupa teaching learning unit yang telah diuji dilapangan. Pada langkah ini dilakukan pula penarikan kesimpulan (konsolidasi) tentang konsistensi teori yang digunakan. Langkah ini dilakukan bersama oleh koordinator kurikulum dan ahli kurikulum. Bila hasilnya sudah memadai, maka unit-unit tersebut dapat disebarkan dalam lingkup yang lebih luas.

4.      Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum (developing a frame work)
Apabila dalam kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh sifatnya yang  lebih menyeluruh atau berlaku lebih luas, hal itu harus dikaji oleh para ahli kurikulum.
Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam langkah ini.
a.       Apakah lingkup isi telah memadai
b.      Apakah isi telah tersusun secara logis
c.       Apakah pemebelajaran telah memberikan peluang terhadap pengembangan intelektual,keterampilan dan sikap
d.      Dan apakah konsep dasar telah terakomodasi
Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual dan emosional. Pengembangan ini dilakukan oleh ahli kurikulum dan para professional kurikulum lainnya. Produk dari langkah-langkah ini adalah dokumen kurikulum yang siap untuk diimplementasikan dan didesiminasikan.      
                                 
5.       Implementasi dan desiminasi
Dalam langkah ini dilakukan penerapan dan penyebarluasan program ke daerah dan sekolah-sekolah dan dilakukan pendataan tetang kesulitan serta permasalahan yang dihadapi guru-guru di lapangan. Oleh karena itu perlu diperhatikan tentang persiapan dilapangan yang berkaitan dengan aspek-aspek penerapan kurikulum. Pengembangan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktek.
Tanggung jawab tahap ini dibebankan pada administrator sekolah.Penerapan kurikulum merupakan tahap yang ditempuh dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Pada tahap ini harus diperhatikan berbagai masalah seperti kesiapan tenaga pengajar untuk melaksanakan kurikulum di kelasnya, penyediaan fasilitas pendukung yang memadai, alat atau bahan yang diperlukan dan biaya yang tersedia, semuanya perlu mendapat perhatian dalam penerapan kurikulum agar tercapai hasil optimal.


G.    Latar Belakang Pengembangan Kurikulum 2013

Adapun yang melatar belakangi perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 adalah banyaknya permasalahan dari peserta didikdan tantangan dimasa yang akan datang. Permasalahannya adalah terkait mutu pendidikan yang ditandai dengan rendahnya kualitas dan merosotnya akhlak (tingkah laku) peserta didik.Sedangkan tantangan dimasa yang akan datang salah satunya terkait  kemajuandibidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Berdasarkan hasil studi PISA (program for international student assessment) tahun 2012 yang hasilnya baru keluar 4 Desember 2013 lalu menunjukkan bahwa peringkat capaian sains untuk Indonesia berada pada urutan 64 dari 65 negara yang mengikuti studi PISA tahun 2012, dengan rincian sebagai berikut: literasi membaca berada pada peringkat 61, literasi matematika berada pada peringkat 64, dan literasi sains berada pada peringkat 64. Hal ini sangat memperhatinkan, karena pada tahun 2009, Indonesia dapat menempati urutan 60 dari 65 negara yang mengikuti PISA.

Selain itu, kita juga dihadapkan pada berbagai permasalahan yang melibatkan pelajar dan mahasiswa, seperti perkelahian pelajar, perjudian, penyalah gunaan obat terlarang, narkoba, korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), plagiarisme, kebocoran dan berbagai kecurangan dalam ujian (Mulyasa 2013).

Sedangkan tantangan dimasa depan menurut Mulyasa (2014) antara lain berkaitan dengan globalisasi dan pasar bebas, masalah lingkungan hidup, pesatnya kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan industri kreatif dan budaya, pergesaran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan, serta materi TIMS dan PISA yang harus dimiliki oleh peserta didik.

Berdasarkan permasalahan diatas maka dilakukan pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi kurikulum 2013. Seperti yang dikemukakan di berbagai media massa bahwa melalui pengembangan kurikulum 2013 kita akan menghasilkan insan Indonesia yang: produktif, kreatif, inovatif, afektif; melalui penguatan sikap, ketrampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa paduan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara konseptual (Mulyasa, 2013).


H.    Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP.

Menurut Anonim (2013) bahwa kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013.Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan KTSP. Berikut ini adalah perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP.

No
Kurikulum 2013
KTSP
1
SKL  (standar kompetensi lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013.
Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006.
2
Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
lebih menekankan pada aspek pengetahuan.
3
Di jenjang SD tematik terpadu untuk kelas I-VI
Di jenjang SD tematik terpadu untuk kelas I-III
4
Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP
Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013.
5
Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta.
Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi.
6
TIK (teknologi informasi dan komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran
TIK sebagai mata pelajaran.
7
Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil.
Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan.
8
Pramuka menjadi ekstrakuler wajib
Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib.
9
Peminatan (penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA
Penjurusan mulai kelas XI.
10
BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa
BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa.



BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu:

1.     Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2.    Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013.

3.    Secara umum ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu : landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

4.   Komponen-komponen pokok dalam pengembangan kurikulum adalah komponen tujuan, komponen isi/materi  pelajaran, komponen  metode/ strategi, dan komponen evaluasi.

5.    Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yaitu: prinsip berorientasi pada tujuan, prinsip relevansi (kesesuaian), prinsip efisiensi dan efektifitas,  prinsip fleksibilitas, prinsip kontiunitas, prinsip keseimbangan, prinsip keterpaduan, dan prinsip mutu.

6.    Menurut Taba ada lima langkah pengembangan kurikulum, (1) Membuat unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru, (2) Menguji unit eksperimen, (3) Mengadakan revisi dan konsolidasi, (4) Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum (developing a frame work), (5) Implementasi dan desiminasi.

7.    Adapun yang mendasari perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 adalah terkait mutu pendidikan, iptek, globalisasi, lingkungan hidup dll.

8.    Adapun perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP adalah terkait standar kompetensi lulusan, aspek kompetensi lulusan, tematik terpadu, jumlah mata pelajaran, penilaian, kegiatan ekstrakurikuler dll.


B.      Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini pendidik tidak saja memahami kurikulum sebagai suatu teks, materi, rencana dalam menjalankan profesi sebagai pengajar.Lebih dari itu, keberadaanya agar dapat mewujudkan cita-cita dan tujuan pendidikan nasional.Saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat kami harapkan karena itu merupakan salah satu motivator  untuk membuat penulis lebih kreatif lagi dalam menyusun makalah berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum. http://.Anonim.wordpress.com.Komponen_Komponen_Pengembangan_Kurikulum. Diakses pada tanggal 10 September 2015

Anonim.2013. Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSPhttp://Anonim.wordpress.com.Perbedaan_Kurikulum_2013_dan_KTSP.Diakses pada tanggal 10 September 2015.

Hafni. 2005. Pengembangan Kurikulum Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Quantum Teaching.

Hamalik Oemar. 2007. Dasar-Dasar Pengembangan Kurkikulum. Bandung. PT: Remaja Rosda Karya.

Idi, Abdullah. 2014. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung. PT: Remaja Rosda Karya.

Nana Syaodih Sukmadinata.1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

Nuryani Wenti. 2010. Bahan Ajar Mata Kuliah Kajian dan Pengembangan Kurikulum.Yogyakarta.Universtias Negeri Yogyakarta.Tidak diterbitkan.

Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20. tahun 2003.






Loading...

0 Response to "Pengembangan Kurikulum"

Posting Komentar